Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 04, 2006

Menabung tapi buntung

Date: Wed May 3, 2000 8:58 am

Ditulis dikait-kaitkan dengan Hari Pendidikan Nasional. Daripada ikutan anak-anak membakari buku sekolah sebagai tanda solidaritas kepada anak putus sekolah. Saya coba menulis dengan contoh hidup.

BANK BING BUNG MANSYUR MENABUNG
TAHUN DEPAN MALAH BUNTUNG


Mansyur, 13, adalah anak cerdas yang karena keadaan ekonomi keluarganya ia terpaksa tidak bisa menyelesaikan Madrasahnya. Orang tuanya yang kadang jualan cendol kalau musim kemarau, atau beralih menjajakan sayur pada saat bulan puasa. Dengan anak empat orang nampaknya mereka sangat paspasan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Akhirnya Mansyur yang merelakan biaya sekolahnya dialokasikan kepada adik-adiknya.

Di desa Caringin, dari 16 pemuda yang saya kenal baru bisa menemukan anak yang lulus SMA, yang lain nyambi Ngarit, Ngangon, buruh Macul dengan rata-rata pendidikan SD. Para orang tua mereka yang umumnya juga setengah buta hurup, menamakan anak yang bisa baca tulis ini dengan sebutan "Bocah Yang Ngartik Nomor".

Mansyur akhirnya bergaul dengan anak-anak yang jauh lebih besar daripadanya. Untungnya dia tidak ikutan merokok atau ngopi atau yang lebih berat lagi narkotik. Untuk makan sehari-hari dia bekerja sebagai pesuruh. Kini pekerjaan sementara Mansyur adalah menjadi penjaga kolam ikan.

Untuk pekerjaannya ini Mansyur mendapatkan jaminan makan, minum, tidur tanpa harus mengeluarkan biaya. Dan tidak harus bertengkar dengan adik-adiknya (jumlahnya empat bersaudara) dalam memperebutkan makanan.

"Kalau ada Mangsur (demikian ibunya menyebut namanya), di rumah cuma nangisin adik-adiknye, bikin gegaokan emaknye. Nakal pisan itu bocah"

Suatu hari kami menyuruhnya membeli tape singkong, jumlahnya tidak banyak sekitar Rp. 2000. Baru saja ia menghilang, tiba-tiba balik.

"Kalau saya di tanya mengapa beli Tape sampai sebanyak itu ?, orang tidak percaya kalau itu uang saya, jangan-jangan dikira uang hasil curian," tandasnya. Rupanya, dikampung tersebut, beli tape dalam jumlah tertentu harus menjalani proses "interogasi" oleh penjualnya, dalam hal ini Pok Imih.

Mansyur baru pergi setelah dibisiki untuk menjawab "ada tamu di rumahnya yang mau bawa Tape pulang ke Jakarta" jika sang pedagang tanya selidik dia lagi. Resiko membawa nama Jakarta, penjual akan memberikan tape dengan jumlah lebih sedikit daripada seharusnya sekalipun cuma berjarak 12 km, orang menganggap Jakarta adalah kotanya orang kaya.

Sebelum saya lupa, Kampung Caringin yang saya ceritakan berjarak sekitar 12 km dari ujung jalan Margonda Raya Depok I. JPS yang sangat populer di kampung saya di Grogol, nyata-nyatanya, mereka tidak pernah mendengar benda itu.

Untuk hasil jerih payahnya, kadang ia mendapatkan Tip Sana Tip Sini (tentunya bukan hasil Tipu Sana Tipu Sini), pernah uangnya dititipkan sang ayah, ketika diperkirakan sudah cukup untuk seekor kambing, nyatanya tak seekor kadalpun menjadi kenyataan. Uangnya dipakai sang Ayah untuk dagang Es Cendol dan ternyata bangkrut.
Tahun sebelumnya lagi dia minta agar tabungannya dibelikan celana LEPIS dan kaos bagus seperti layaknya anak-anak sekarang. Sang bapak menukarnya dengan celana sama "Lepis blue jean", cuma buatannya kasar nggak karuan sehingga baik kaos dan LEPIS luntur dan menyusut ketika dicuci.

"Saya nangis gegaokan pak," kenang Mansyur

Mansyur kecewa berat, tetapi sang Bapak dan Ibunya memberi hadiah cap: "kamu bocah nakal pisan, tidak bisa diatur oleh orang tua, bertindak semaumu sendiri."

Masyur mulai kehilangan respek terhadap ayahnya. Niatnya menabung, tapi nyatanya buntung. Dengan rumah hanya berjarak sekitar dua kilometer, Mansyur memilih besar dijalan, besar dikolam ikan. Ibunya kalau kangen, baru datang mengunjungi putra lelaki yang nomor dua dari empat bersaudara. Tetapi sekalipun demikian, hobby menabungnya masih membakar sanubari Mansyur.

Di Kampung Ceringin tidak ada bank yang ada cuma tanah garapan berupa bekas kebun karet yang di ambil oleh rakyat setempat, lalu di oper garapan ke orang Jakarta seperti Jaja Miharja, Mandra, Akri dan terakhir saya dengar Elvira Nasution.

Satu-satunya tempat penyimpanan uang adalah Pok Imih. Rumah pok ini praktis buka 24 jam, uang yang dititipkan dicatat di buku script. Sekali uang masuk, diambilnya hanya diperbolehkan Lebaran kelak.
Jangan tanya bagaimana kalau Empok Imih dapat halangan, misalnya meninggal dunia. Siapa yang bakal mengurusi bank gelap tapi samar tersebut.

Pok Imih adalah istri dari pedagang Tape yang punya hobbi menyelidik uang pembelinya. Uang titipan para warga Ceringin dimanfaatkan sebagai dana segar untuk dagang suaminya. Jadi dia bisa punya modal tanpa harus pinjam ke bank.

Cuma yang mengganggu benak saya adalah cara Mansyur menghitung tabungannya.

"Kalok Mansyur menabung Seratu Rebuk, lebaran dapetnya Sembilan Puluh rebuk. Kalok Mansyur menabung Limapuluh Rebuk, ntar lebaran dapet Empat Puluh Lima Rebuk."

"Lho, lho kok begitu caranya Syur," tanya saya, itu namanya dipotong sepuluh persen.

"Bukan," kata Mansyur, "ini ongkos uang nyimpen Pak."

"Iya kapan pok Mih sudah capek nyimpenin duit kita," katanya polos.
Kata "kapan" didaerah Jawa Barat adalah padanan "Wong, atau Orang" "Jadi itu ongkos nyimpennya. Apalagi nyimpennya setahun kapan lama sekali..." tambah Mansyur. Masih dibelain juga Empok Imihnya.
Ini tahun 2000, atau tahun 1421 Hijriah, dan ternyata kita masih menemui orang yang menabung tetapi tidak beruntung. Orang boleh berkeyakinan makan uang bunga adalah dilarang, tapi kalau diubah redaksinya menjadi "uang nyimpen, uang capek". Ternyata larangan tadi bisa dilanggar dengan mudah.

Padahal ketika menulis e-mail ini sayup saya mendengar acara TV untuk anak-anak dimana Titik Puspa dengan penuh semangat menyanyi bersama anak-anak gemuk dan sehat:

Bang Bing Bung Bank! kita ke Bank
Bang Bing Bung Bung! kita nabung....bla..bla...bla
Tahun depan kita beruntung,... bla..bla..bla
Mau Keluar negeri ada uangnya.... ba...bla..bla
Atau ingin membuat Istana......

Boro-boro Istana, tabunganmu saja tega di akali para "pemimpin informalmu", Syur, Mansyur. Gerutu saya dalam hati.

(Grogol 1 May 2000)

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com