Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 13, 2006

Meja Kerja sekaligus Meja Makan

Date: Mon Jan 26, 2004 9:28 am

Para nenek jaman dulu selalu ceriwis soal tata cara makan. Makan tidak boleh di pintu, "ora ilok" atawa "pamali". Kalau ambil makanan harus dihabiskan dengan ancaman "pithike mati" alias ayamnya mati, padahal belum jamannya flu burung. Makan jangan sambil berdiri, harus duduk di meja atau bersila. Dan masih banyak larangan lainnya. Intinya makanlah pada waktunya dan ditempat yang memang disediakan untuk makan. Hanya fatwa jaman dulu biasanya diberi embel-embel "punishment" atau karma yang akan datang. Biasanya saya senyum sambil membatin, orang sepuh memang begitu. Jadi tidak perlu disimak.

Belakangan beberapa "jare uwong tuwo" mulai kelihatan ada betulnya.

Salah satu contoh ketika gigi susu-saya mulai goyah, tidak henti-hentinya nenek mengingatkan bahwa kalau tidak sering di goyang (dulu dokter gigi jauuh) nanti akan "sanggar" alias numpuk, kalau bicara susah sebab berubah seperti "buto cakil" dalam pewayangan. Kalau gigi bawah yang copot harus dibuang ke atap agar tumbuhnya lurus. Saya malahan kepingin tahu jadi buto cakil itu rasanya gimana seh, mengapa harus menjadi "Arjuna" yang perangainya lebih mirip "jeruk kok minum jeruk".

Sekarang beberapa gigi saya memang tumbuh tidak rata sebab kesundulan gigi tetap.

Namun, berondongan filem-filem barat menggambarkan bagaimana para jagoan makan hamburger, hotdog sampai ke chinese noodle sambil berdiri, sambil duduk, menjawab tilpun, menulis e-mail bahkan membaca buku atau majalah. Lalu kebudayaan inipun kita "adaptasi" - memang praktis. Satu meja dua fungsi. Salah satu survei mencatat sepertiga pegawai di Amrik lebih suka makan siang di kantor. Separuhnya makan di meja kerja dan sisanya di kantin. Selain memang praktis tidak perlu mengotori dua tempat sekaligus, ada tambahan "bonus" setelah makan yaitu meniup remah-remah roti sampai serpihan kerupuk, emping yang masuk ke sela-sela keyboard. Belum lagi membersihkan lingkaran berwarna coklat sisa tumpahan kopi Ayam Merak yang mengisi cangkir "Starbuck". Saya pernah memegang cangkir kopi sambil membaca e-mail, tiba-tiba ada komentar yang lucu sehingga tanpa sadar tertawa dan bisa dibayangkan kopi muncrat ke layar dan keyboard.

Gaya makan sambil jalan, sambil bekerja ternyata ditiru oleh sebagian kita. Sebab gaya itu dianggap sebagai kerja yang produktip. Dengan tetap kerja sekalipun waktu "lunch break" tiba, kerja profesional adalah memacu waktu menjadi 110%. Dan berharap 40 tahun terus menerus pada level dan kecepatan yang sama.

Apakah kenyataannya demikian?

Disamping praktis ada baiknya menyimak pendapat pakar beberapa pendapat bahwa sebaik-baiknya lunch break adalah dilakukan di luar kantor. Sebab "break" disini berarti untuk sementara melepas ikatan dengan suasana kantor. Agar saat kembali dari lunch, kita sudah segar kembali.

Segi lain yang harus diperhatikan ketika makan di meja kerja, tulis Lydia Ramsey dalam buku "Manners that Sells" adalah aroma bumbu yang keluar dari bawang putih yang menyebar seantero ruang ber AC, mungkin terasa sedap bagi kita tetapi merupakan gangguan bagi rekan kerja. Belum lagi ilustrasi musik yang berasal dari pecahnya emping atau kerupuk didalam mulut. Kadang ketika mengunyah makanan ada tilpun masuk sehingga mau tidak mau harus dijawab. Suara mengunyah manusia diamplifikasi menjadi 10 kali lebih kencang diterima oleh lawan bicara diujung tilpun sana.

Ganggu Teman kerja

Sisa "aroma" yang ditinggalkan berjam-jam dalam ruangan bisa mengganggu konsentrasi kerja teman keruangan. Ikutan lapar (sekalipun baru pulang lunch), tapi bisa juga merasakan mual. Maklum selera akan masakan untuk setiap orang bisa berbeda. Mungkin ini sebabnya resto-resto "cepat saji" banyak mengambil tempat di groundfloor. Mereka malahan mengarahkan cerobong asapnya agar bisa tercium pengunjung mal dan merangsang rasa lapar. Ramsey menyarankan makananlah makanan yang "odorless, soft, nonsmelly" - Cilakanya ketiga persyaratan tersebut susah ditemukan dalam masakan padang, bubur ayam, bakso maupun mie instan. Belum lagi aroma sambal belacan yang luar biasa "harumnya" dan mampu meninggalkan bekas cukup lama.

Kesehatan.
Kalau co-worker anda tidak keberatan dengan tetangga yang mengunyah di meja kerja ada baiknya menyimak pendapat seorang profesor. Adalah Profesor Charles Gerba dari bagian mikrobiologi dari Universitas Arizona pernah melakukan penelitian jumlah bakteri yang didapat dari meja makan di kantor. Gerba menemukan bakteri di meja makan dan kerja akan ditemukan populasi bakteria 400 kali lebih banyak ketimbang bakteri yang ditemukan di bibir Toilet. Ya, masih bersihan bibir toilet katimbang meja makan koalisi.

Studi menemukan bahwa meja ganda ditemukan 21.000 germs per inci persegi sementara toilet umum cuma 49 bakteri per inci persegi. Adapun tempat lain yang banyak bakterinya adalah telepon. Sekitar 25000 bakteri per inchi persegi.

Dan omong punya omong, saat ini saya sedang berkemas memindahkan sumpit dan bungkusan bakmi dari meja kerja ke kantin lho ...

EmBeEs
Monday, January 26, 2004
9:21:52 AM

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com