Mbah Pono pembuat Bajigur Bakmi Kadin

Menjelang tengah malam, Kamis malam Jumat, 25 Juli 2002, mendadak saya kepingin makan bakmi. Sebagai warga Bintaran (setidaknya KTP saya masih beralamat Bintaran Kulon), pilihan utama tentu saja Bakmi Kadin yang warungnya berada di jalan yang sama. Dari rumah Eyangnya anak-anak saya hanya perlu berjalan kaki beberapa puluh meter ke utara sudah sampai di depan Bakmi Kadin.

Lha, ternyata warung Bakmi Kadin masih penuh pengunjung. Saya timbang-timbang, kalau saya pesan bakmi goreng di sini pasti akan sangat lama menunggunya. Lalu saya putuskan untuk menyeberang jalan ke sisi timurnya. Di situ juga ada tukang bakmi. Juga ramai pengunjung, tapi tidak seramai Bakmi Kadin. Di warung ini rasanya saya tidak akan terlalu lama menunggu untuk pesan bakmi goreng dibungkus untuk dibawa pulang.

Berbeda dengan Bakmi Kadin yang dari jauh saja mudah ditandai karena ada papan
namanya. Itu pun masih ditambahi tulisan Yang Asli. Seakan ingin meyakinkan para pelanggan baru agar tidak keliru dengan yang tidak asli, yang palsu, yang tiruan atau yang imitasi. Tukang bakmi yang saya beli malam itu tanpa papan nama. Tapi karena lokasinya ada di depan Bakmi Kadin, saya sebut saja Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Sambil menunggu pesanan saya disiapkan, saya duduk-duduk di bangku agak mojok di samping meja penyaji minuman bajigur. Seperti sudah menjadi ciri khasnya, bahwa pasangan dari tukang bakmi adalah tukang bajigur. Persis sama seperti di warung Bakmi Kadin, di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin inipun juga tersedia bajigur. Tukang bajigurnya adalah seorang nenek berusia sekitar tujuh puluhan tahun. Orang-orang mBintaran biasa memanggilnya Mbah Pono.
***
Mbah Pono ini rupanya termasuk orang tua yang suka diajak ngobrol. Ini tentu membuat saya merasa nyaman duduk berlama-lama di bangku panjang itu menunggu pesanan bakmi goreng sambil ngobrol dengan Mbah Pono. Ngobrol dalam bahasa Jawa krama hinggil tentunya.

Omong-omong tentang bakmi. Bagi lidah saya sebenarnya tidak ada perbedaan taste yang signifikan antara Bakmi Kadin dengan Bakmi Depan Bakmi Kadin. Kalaupun ada perbedaan, maka parameternya adalah tingkat kelaparan kita saat itu, dan harga per porsi yang lebih murah di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Namun rupanya masing-masing warung itu sudah memiliki pelanggannya sendiri-sendiri.

Hanya untuk pendatang baru, biasanya akan langsung menuju ke Bakmi Kadin Yang Asli. Saya anggap wajar-wajar saja kalau ada seseorang yang belum merasa puas kalau belum sempat mencicipi Bakmi Kadin Yang Asli yang kini dikelola oleh Mbah Karto perempuan (yang bergelar Hajjah sejak dua musim haji yll., sedang Mbah Karto Kasidi yang laki-laki sudah lama meninggal) dan Pak Rohadi putranya.

Sejak mundurnya Mbah Amat (yang meninggal dunia sebulan yll.) dari dunia per-bajigur-an di awal tahun 70-an, maka Mbah Pono adalah salah satu penerusnya. Lalu ber-partner dengan Mbah Karto, berdua melanjutkan usaha bakmi-bajigur. Seperti Mbah Amat almarhum, pasangan Mbah Karto laki-laki dan Mbah Pono perempuan inipun menempati emperan kantor Kadin.

Ketika kantor Kadin direnovasi sekitar sepuluh tahun yll., Mbah Karto melanjutkan warung bakminya di belakang bangunan Kadin, tepatnya di Jalan Bintaran Kulon 6 yang ditempatinya hingga kini. Namun nasib kurang mujur bagi Mbah Pono. Rupanya Mbah Karto perempuan punya rencana bisnis baru, beliau merencanakan akan menyajikan sendiri minuman bajigur. Dengan kata lain, bakminya Mbah Karto sudah tidak memerlukan tenaga Mbah Pono lagi untuk menjadi partnernya menyediakan bajigur, demikian tutur Mbah Pono malam itu.

Hebatnya, Mbah Pono tidak sakit hati. Beliau nerimo dengan adanya rencana bisnis Mbah Karto yang hingga kini telah berkembang menjadi Bakmi Kadin. Sedangkan Mbah Pono memilih untuk pensiun saja dan tinggal di rumahnya di belakang Jalan Bintaran Kidul.

***
Nampaknya garis hidup Mbah Pono memang tidak jauh-jauh dari dunia per-bajigur-an. Ketika beberapa tahun yll. di depan Bakmi Kadin dibuka warung bakmi baru dan Mbah Pono ditawari untuk menyediakan bajigurnya, beliau pun bersedia. Maka jadilah seterusnya Mbah Pono kembali menjadi tukang bajigur hingga kini, di warung bakmi baru yang tadi saya sebut sebagai Bakmi Depan Bakmi Kadin yang tanpa papan nama.

Bajigurnya Mbah Pono ini rupanya punya taste berbeda, maka tidak heran kalau Mbah Pono punya pelanggan tersendiri. Menurut pengakuannya, banyak pelangan lamanya yang pernah kenal bajigur Mbah Pono sejak masih bersama Mbah Karto laki-laki di depan kantor Kadin yang lama, kini kembali kepadanya. Pengakuan yang bagi saya sukar dibuktikan, tapi saya percaya saja.

Lalu apa rahasianya? Entahlah. Barangkali tangan si pembuatnya saja yang lain.

Nampaknya racikan bajigurnya ya begitu-begitu juga. Ada air santan, ada irisan kelapa muda dan kolang-kaling. Yang saya baru tahu adalah bahwa ternyata ada tambahan air kopi barang satu-dua sendok dalam setiap gelas bajigur yang disajikan.
Pilihan hidup Mbah Pono, terkadang memang susah dipahami. Di usia senjanya yang bahkan sudah di ambang malam, beliau memilih untuk tetap tekun menggelar jualan bajigurnya. Dua dandang besar bajigur dihabiskannya mulai jam 4 sore hingga tengah malam menyertai bukanya warung bakmi. Sekitar 150 gelas disajikan setiap hari. Kalau harga per gelasnya Rp 1.500,- maka artinya seorang Mbah Pono telah memutar uang, sebut saja Rp 200.000,- per harinya.
Salut untuk Mbah Pono, dan Mbah-mbah lainnya yang senantiasa tekun dengan kerja kerasnya, saat sebagian mbah-mbah yang lain duduk di kursi goyang menikmati hari tuanya. Orang-orang seperti Mbah Pono ini memang tidak pernah terimbas apalagi mengenal apa itu krismon. Yang dia tahu kalau harga gula atau kelapa naik, ya harga bajigurnya juga ikut naik. Lalu para pelanggannya pun kudu paham. Sesederhana itu, tapi entah sampai kapan.
"Sugeng ndalu (selamat malam), Mbah…”. Sekantong plastik bajigur panas langsung saya bawa pulang dan habiskan malam itu juga.-

Yogyakarta, Juli 2002.
Yusuf Iskandar
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe