Mbah Ahmat

Jumat sore, 28 Juni 2002, saya tiba di Yogya. Seperti biasa, anak-anak lebih suka langsung menuju ke rumah Eyangnya di Bintaran Kulon. Setiba di rumah Eyangnya anak-anak, terlihat sebuah bendera putih berkibar di pingir jalan di sebelah rumah. Siapapun tahu bahwa bendera putih semacam ini bukan pertanda terjadi genjatan senjata setelah tawuran antar kampung, melainkan tanda ada yang sedang kesripahan(berduka cita).

Dalam hati, saya berprasangka : Jangan-jangan Mbah Amat yang meninggalâ. Ini memang prasangka buruk yang (saya yakin) kalau di dengar orang tidak akan menimbulkan amarah. Lantaran semua orang di bilangan mBintaran tahu bahwa Mbah Amat ini memang sudah sangat sepuh (tua), sehingga wajar saja kalau misalnya sudah sampai waktunya dipanggil oleh Sang Maha Pencipta.

Innalillahi wa-inna ilaihi ro-jiun(sesungguhnya semua berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya). Meskipun sungguh tidak saya harapkan, ternyata prasangka saya benar. Mbah Amat Sadari menghembuskan nafas terakhirnya siang tadi, setelah menderita sakit tua sejak beberapa waktu sebelumnya.

***
Kabar tentang orang meninggal dunia sebenarnya hal yang biasa saja. Namun kabar meninggalnya Mbah Amat ini memberi kesan yang luar biasa bagi saya. Sejak saya menjadi menantunya Eyangnya anak-anak lebih 10 tahun yll, saya mengenal Mbah Amat sebagai sosok orang sangat tua yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup dan taat beribadah. Terakhir saya ketemu Mbah Amat setahun yll, beliau masih tekun sholat lima waktu dengan berjamaah di masjid Bintaran,yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya. Padahal berjalannya saja sudah tertatih-tatih dibantu dengan tongkatnya.


Ketika jenasahnya akan diberangkatkan ke pemakaman esok harinya, seperti biasa ada acara sambutan oleh pihak keluarga. Hal yang menakjubkan saya adalah saat diumumkan bahwa almarhum Mbah Amat mempunyai dua orang anak, sekian cucu, sekian buyut (anaknya cucu) dan sekian canggah (cucunya cucu). Dengan kata lain, di masa hidupnya Mbah Amat ini sempat ketemu dengan keturunan generasi kelimanya.

Luar biasa. Di masa kini, sangat jarang seseorang yang sempat ketemu dengan canggahnya. Alih-alih ketemu canggah (generasi ke-5), sempat ketemu buyut (generasi ke-4) saja sudah merupakan karunia Tuhan yang sangat besar. Bahkan Mbah Amat ini sudah lebih dahulu ditinggal mati oleh seorang anaknya.

Menurut catatan di Kartu Keluarga, Mbah Amat lahir tahun 1904 yang berarti meninggal dunia dalam usia 98 tahun. Namun sangat diyakini oleh keluarganya bahwa sesungguhnya usia Mbah Amat lebih dari seabad ketika meninggal dunia. Pasalnya, menurut ceritera seorang cucunya yang setia menemani Mbah Amat hingga detik-detik akhir hidupnya, suatu kali beberapa minggu sebelum meninggal pernah omong-omong santai dengan Mbah Amat serta menanyakan usianya. Dan Mbah Amat dengan sangat yakin dan gaya humornya menjawab bahwa usianya lebih dari seratus tahun. Sebuah usia yang rasanya memang masuk akal.

Kalau demikian halnya, berapa usia sebenarnya? Sayang sekali, Kartu Keluarga model lama yang masih tertulis dengan huruf Arab Jawa, tulisannya sudah sangat buruk, rusak dan kabur, sehingga tidak terbaca. Itu sebabnya maka dibuatlah Kartu Keluarga model baru, sebagaimana yang dimilikinya saat ini yang menyebut beliau lahir tahun 1904.

***

Siapakah Mbah Amat ini? Orang-orang tua atau orang-orang lama di sekitar Bintaran mengenal almarhum sebagai tukang bajigur. Bajigurnya Mbah Amat dulu sempat sangat populer dan digemari, hingga berhenti mbajigur sejak sekitar 30 tahun yll. sebelum generasi tukang bajigur berikutnya muncul melanjutkan berjualan bajigur.

Tidak jelas benar kenapa sebagai orang Yogya, Mbah Amat menekuni usaha menjadi tukang bajigur, yang sebenarnya lebih dikenal sebagai minuman khas daerah Jawa Barat. Namun yang jelas, Mbah Amat pernah berjaya dengan bajigurnya hingga puluhan tahun dan setiap malam menggelar dagangannya di tritisan (emperan) kantor yang kelak kemudian dikenal sebagai kantor Kadin, berpasangan dengan tukang bakmi bernama Mbah Karto Kasidi. Kini bakminya Mbah Karto dikenal sebagai Bakmi Kadin.

Di saat-saat akhir hayatnya, saat periode pikun dialaminya, Mbah Amat suka meminta cucunya untuk menyediakan anglo di dekat tempat tidurnya. Lalu beliau mengambil kipas dan berlaku seolah-olah sedang menghidupkan arang di atas anglo yang sedang memanaskan dandang berisi bajigur. Kalau diingatkan cucunya bahwa Mbah Amat kini sudah tidak lagi berjualan bajigur, beliau hanya tesenyum.

Kini, Mbah Amat mantan tukang bajigur Bintaran itu telah tiada. Meninggalkan kesan yang luar biasa menurut ukuran akal saya. Wafat dalam usia seabad. Sempat bertemu dengan canggahnya (keturunan kelima) sebelum meninggalnya. Di hari tuanya nyaris tidak pernah absen sholat lima waktu berjamaah di masjid.

Suka guyon (bercanda) dan nerimo (ikhlas) menjalani hidup, agaknya bisa menjadi salah satu laku Mbah Amat yang layak dicontoh. Selamat jalan, Mbah

Yogyakarta, Juli 2002.
Yusuf Iskandar

Comments

Popular Posts