Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 12, 2006

Matraman atau Mataraman

Date: Wed Sep 3, 2003 9:02 am

Sudah lama tidak terdengar kisah tawuran anak kawasan Matraman. Semoga mereka sudah akur antar anak bangsa...
Soal anak Matraman doyan adu keberanian antar RT antar Kampung, memang dari dahulu sudah bekend.

Seratus tahun lalu, Usup dari gang Blunder terlibat baku jotos dengan anak dari Kampung Jawa dengan mengambil ring side di depan HBS (Hooge Burger School) Koning Willem, Salemba. Rupanya Usup menguasai ilmu pukul dan lipetan sehingga lawannya terdesak sambil menyabut pisaunya. Akibatnya keadaan menjadi berbalik, lawan Usup yang tidak disebutkan namanya mulai mencecar dengan tusukan ke arah lambung.

Dikabarkan perkelahian berakhir setelah Usup menderita luka tikaman sementara sang tersangka melarikan diri melalui Gang Tegalan. Usup dikabarkan bisa menyelamatkan diri dengan "tinggal glanggang colong playu" ke rumahnya.

Nama-nama seperti Tegalan, Kampung Jawa dan Mataraman melibatkan "konotasi" kedaerahan yaitu Jawa. Gang Tegalan merupakan jalan kecil yang menghubungkan antara Gunung Sa(ha)ri dengan Meester Cornelis, tetapi ada ujung lain yang menuju ke kawasan hutan liwang liwung, yaitu Utan Kayu. Dahulu, Matraman cuma dipenuhi kebun-kebun yang luas. Sehingga ada kawasan terkenal dengan nama Kebon Manggis. Bahkan di utara Salemba lantaran banyak hutan dinamakan Salemba Hutan (sudah tidak ada). Menurut peta Betawi yang dibuat 1811, ada kawasan sekitar kali Ciliwung yang namanya "Mataraman" dan pada akhirnya diubah menjadi "Mataram" setelah pada peta-peta terbaru. Menurut Dr. de Haan, penamaan daerah Mataraman disebabkan daerah ini
pernah di garap oleh orang dari kerajaan Mataram. Seperti di ketahui, Sultan Agung pada abad ke-17 sempat dua kali menyerang Tentara Belanda, dan selalu gagal. Lalu para pejuang membuat basis perlawanan di suatu tempat yang kelak bernaman Matraman.

Tapi teori De Haan disangkal, sebab tidak mungkin tentara yang kalah berani unjuk diri dengan membuka perkampungan secara explisit.

Lalu Adolf Heuken membuat teori yang meragukan cerita tradisi lisan. Menurutnya bisa jadi ada tentara Sultan yang kececer di Batavia lantaran malu dan takut menjalani hukuman bila pulang ke negerinya. Mereka tinggal di hutan-hutan sambil menunggu waktu yang baik untuk bertempur kembali. Sisa-sisa laskar Mataram yang kehabisan tenaga inilah membuang identitasnya sebagai prajurit dan hidup dengan membuka
Tegalan.

Soal bercocok tanam memang mereka jago, penduduk Mataram sudah mengenal empat sistem pertanian yaitu Gaga (ladang), Sawah, Kuban (kebun), dan Tegal (Tegalan). Hanya saja karena darahnya prajurit, maka kebiasaan adu jotos dan tawuran nampaknya tak lekang terkena hujan tak lapuk kena panas.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com