March 05, 2006

Mangalah Gede Wekasane

Hari masih lumayan pagi ketika saya mengendarai Kijang keluar dari jalan Tol yang dibangun oleh Mbak Tutut itu (ikutan si Poltak raza minyak dari Medan). Karena mobil penuh bletok, tanah liat dari kebun ikan Gurami, saya memutuskan untuk mencuci kendaraan. Saya lihat sebuah tenda dengan tulisannya CUCI STEM Rp. 6.000 per mobil.

Apalagi saya lihat ruang cuci mobil masih kosong. Segera saya belokkan kendaraan ke bilangan jalan TB Simatupang dekat gedung Nestle. Sebuah motor baru nampak sedang di cuci.

Saya duduk dekat sang pemilik motor (soalnya dia memangku helm). Tapi beberapa menit saya mulai buka pembicaraan, nampaknya saya salah sambung. Ia lebih tertarik mengawasi roda karet bannya yang sedang digosok.

Ketika matahari mulai mengganggu dengan teriknya, pelan-pelan saya bergeser ketempat yang lebih teduh, dan sayangnya itu berada 5 meter yang berarti saya harus cari bangku.

Baru saja "butt" menyentuh selembar papan yang cuma di taruh diatas pot bunga (sekeliling TB Simatupang dipenuhi penjual pot), sebuah mobil sedan kotor masuk. Mobil ini lalu parkir sambil menunggu giliran setelah saya.

Saya ajak dua penumpang baru ini bicara, eh bersambut, mulailah pembicaraan ringan dari motor Jialing, yang katanya bangau ternyata nama sungai Jialing dari ZhungGou (Tiongkok). Ketika pembicaraan bergeser ke ikan Gurami, pancingan saya kena, dia mengeluh bisnis Gurami jeblok.

Tapi soal jeblok menjeblok sempat tertunda ketika, sebuah Kijang Merah baru dikendarai seorang bapak, langsung menerobos dan bilang ke petugas cleaning, "Lap aja bodi mobil ini, nggak usah bersih-bersih, saya buru-buru nih".

Sekalipun bukan saya yang di serobot, tentunya peristiwa ini membuat adrenalin jadi kenceng debitnya. Pemuda yang diserobot saya memberikan pandangan penuh arti. Hemm dia ,mas Bud, bergumam.

"Kemarin saya isi bensin, diserobot seorang bapak. Saya tegur, dia malahan marah, alasannya buru-buru. Apa yang buru-buru hanya dia sendiri. Sekarang saya diserobot lagi, tapi kok rasanya terlalu banyak kalau harus ribut mulut tiap hari."

Saya yakin anda sepaham dengan saya, bapak Pensiunan itu tergolong "KUR AJ". Main serobot seenaknya. Seperti paham di-rasani, Pan Pen mendekati kami dan terjadilah obrolan bahwa setiap dia stuur sendiri mobil selalu ada saya yang menabraknya. Lalu ditunjukkannya bodi mobil yang peyot depan dan belakang, eh samping juga solider.

"Padahal saya kalau nyetir hati-hati dan nggak pernah main serobot lho?" tambah pak Purnomo alias pak Pensiunan.

Tiba-tia dia memberi instruksi kepada petugas cuci.

"Lho karpet dan mesinnya di cuci sekalian, masak bodinya aja," begitu kata pensiunan Purchasing Manager Astra ini ketika melihat kijangnya sudah hampir rampung. Sial bener, makin ngelunjak.

Karena mobil saya sudah selesai, kami berpisah. Saya melupakan peristiwa itu, sampai sore hari di tilpun oleh mas yang diserobot.

"Pak Mimbar, saya cuma mau cerita, gara-gara diserobot cuci mobil, kami jadi kenalan, sang penyerobot malahan mengajak saya ke kantor TOYOTA ASTRA, dan sekarang saya dapat job dari ASTRA yang kondang sangat selektip terhadap rekanan. Coba kalau saya tadi emosi diserobot, mungkin rejeki bakalan lewat." kata Direktur perusahaan Freight Forwarding yang berlokasi di Tegal Parang itu dengan nada gembira.

Weleh, ternyata sedikit ngalah, gede Wekasane tho. Dan masih manjur juga mantera itu.

Siplah mas Bud.

Date: Tue Jul 3, 2001 12:46 pm

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com