Manajemen Ndeso

Kepemimpinan seseorang selalu terkait dengan kebijakan yang dilahirkan. Kewibawaan seseorang juga cermin dari apa yang telah ia perbuat. Demikian juga cacat seorang pemimpin merupakan kebijakan salah yang telah dilahirkan. Seorang pemimpin akan menerapkan "metode" yang menghadirkan eksistensinya sehingga dirasakan oleh stafnya. Maka dikenal manajemen "streng", Manajemen "demokrasi", Manajemen "sabar" dan Manajemen "konflik"

Manajemen "streng" melakukan segala sesuatu berdasarkan peraturan yang telah digariskan, ada penyimpangan langsung diberi punishment (kalau prestasi biasanya cuma dieleg saja), sementara manajemen demokrasi menjalankan pekerjaannya berdasarkan asas musyawarah dan mufakat, dilain pihak manajemen "sabar" merupakan modifikasi manajemen demokrasi dengan beberapa kelonggarannya.

Dan yang banyak dipakai sekarang adalah manajemen konflik. Pimpinan mengatakan bahwa karyawan A lebih hebat, didepan hidung si B, di lain waktu pimpinan yang sama mengatakan bahwa B lebih hebat kepada A, sehingga timbul konflik. Teknik manajemen konflik sudah ditanamkan sejak kita kecil, ketika adik tidak mau minum obat, orang tua berpaling kepada kakak, sambil bilang "tuh kakak hebat kan mau minum obat". Di lain hari ketika mereka sudah dewasa orang tua akan memuji habis anak yang lebih banyak "pasok bulu bekti" alias mengirim uang didepan anak yang kurang "bektinya".

Terus dari keempat manajemen tadi mana yang dipilih oleh Sumilan sang Mandor Kawat dari Telkom, ternyata seperti orang Indonesia lainnya ia selalu berpegang "ambil yang baik dan buang yang jelek," ini seperti mau melaju di jalan Tol tapi ngeri melihat mobil lain berseliweran dengan cepat.

Alih-alih Sumilan malah menggunakan Manajemen Ndeso. Pasalnya ketika ia ditanya siapak anak masnya? (manajemen konflik) Sumilan bertutur, kalau dalam satu perusahaan saya punya satu anak mas, maka 4999 lainnya adalah anak tiri. Bagi Sumilan semua karyawan adalah anak, yang membedakan hanya kesungguhan, kreativitas dan kedisplinan. Kelihatannya ia berpaling jauh dari manajemen Konflik.

Lalu mengapa ia memilih manajemen ndeso, alasannya, ilmu manajemen itu banyak dan tidak semua tercover dalam buku. Jadi mending pilih yang ndeso saja. Salah satu contohnya kalau menerima "drop-dropan" pegawai dari luar Jawa, sekalipun namanya mutasi alias pindah bagian, umumnya karyawan tersebut bermasalah, biasanya sudah jadi borok.

Menurut aturan "streng" orang beginian di PeHaKa saja, tetapi Sumilan memilih cara ndeso, dipanggilnya karyawan tersebut lalu diajak bicara: "kamu dibuwang kesini karena borok, sekarang ditempat ini kamu punya satu kesempatan terakhir. Ubah tingkah lakumu atau saya keluarkan,"

"Biasanya cara ini berhasil, maka saya namakan manajemen MBA (Manajemen by Ancaman)," tutur Sumilan sambil tertawa.

Ide lainnya adalah makan siang di kantin bersama pegawai. Bagi Sumilan, birokrasi bawahan takut kepada pimpinan biasanya mencair saat makan siang. Dengan demikian, aspirasi bawahan bisa diserap keinginannya.

Ini memang ide Ndeso, tidak ada dibuku manajemen, tapi ternyata ampuh diterapkan.

Mimbar Seputro
0811806549
Monday, June 30, 2003
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe