News

Loading...

Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 05, 2006

Macet di Merak 6 Jam

Jumat 22 Des 2000, Jam 22.00

Antrian mobil sudah mulai nampak padat memasuki Tol KebonJeruk, sebetulnya setiap harinyapun gerbang tol inipun selalu padat. Setelah melalui Karawaci jumlah kendaraan yang melajupun mulai berkurang tetapi saya harus mengendarai secara extra hati-hati karena lampu Penerangan jalan belum dihidupkan sejak lampu ini dipasang beberapa tahun lalu. Alias statusnya "cuma aksesoris belaka".

Selain itu deretan warung temaram nampak disisi jalan tol plus kendaraan berat yang parkir di bahu jalan tol. Sejak reformasi, pengertian jalan bebas hambatan bisa berarti dengan bebas untuk mendirikan warung, berolah raga pagi, ngabuburit tanpa hambatan pihak penyelenggara. Di beberapa ruas sering nampak badan jalan terkelupas, atau rumput median yang gondrong karena belum sempat di pangkas.

Saya merasa lega ketika mengamati kendaraan yang sangat jarang berseliweran. Polisi di ujung persimpangan Tol dengan operasi ketupatnya, nampak santai. Saya menyempatkan diri mengambil peta mudik yang berisikan peta ruas jalan di Indonesia. Bukan main, peta ini akan sangat bermanfaat bagi pengguna jalan. Suatu kemajuan yang berarti.

Di Cilegon, anak-anak minta diisi perutnya di sebuah resto padang "Simpang Raya", lha kan keterlaluan, cuma satu jam perjalanan kok sudah minta makan. Tapi, anak-anak sudah siap menyanggah, kalau terjadi ledakan penumpang di Merak kan perut sudah diisi. Rupa-rupanya ketika akan berangkat mereka sengaja tidak makan malam. Dengan harapan "bisa jajan" di Cilegon. Alasan lain, kakus di kapal luar, sudah berfungsi ruang PPK, maksudnya bau amonia yang dihasilkan oleh kamar kecil itu bisa membangunkan orang pingsan seberapa parahnya.

Sementara itu dua pembantu asal Lampung sudah teler karena minum Antimo.

Antrian kendaraan sudah mulai berada di luar pelabuhan, saya was-was, pasti akan terjadi penumpukan calon penumpang. Eh saat menunggu begini pengamen bermunculan secara sporadis. Cuma caranya kurang etis. Di pintu masuk mereka sudah jrang-jreng menyanyi dan bertepuk tangan, tapi bergeraknya kok ke arah hilir. Akibatnya dia bisa "mbarang" dua atau tiga kali pada monil yang sama. "Sudah dua kali kalian ngamen dalam setengah jam ini!" protes saya ketika, mereka mengetuk-etuk pintu mobil.

"Ala baru dua kali, belum tiga!," balas group band tersebut. Tapi mereka langsung meninggalkan kami. "Isin mundur" barangkali.

Biaya penyebrangan adalah Rp. 53.000 sudah termasuk biaya asuransi, tapi karena saya menyebutkan penumpangnya lima orang sementara saya adalah berstatus sopir, maka "sopir" ini yang harus membayar biaya perjalanan.

Ternyata "petugas" baju tidak seragam yang berdiri didepan loket, langsung menghitung Rp. 77,500. Oh rupa-rupanya stu orang terkena biaya Rp. 4500 (tulisan Rp. 3100 sudah di blok dengan tinta stempel Rp. 4500). Saya berhitung sejenak, lho kemana yang Rp. 2500 kok hitungannya nggak cocok ?.

Sebelum berangkat, Indosiar mengumumkan ada 3200 mobil menumpuk di pelabuhan Merak. Lha kalau kesalahan Rp. 2500 ini dikalikan sebanyak mobil yang menunggu, jumlahnya cukup besar.

Tapi saya coba mengayem-ayemi, barangkali ada tambahan biaya PMI, ZIS misalnya yang terlupa diberikan karcisnya. Atau tuslah lebaran ?

Prakiraan cuaca memang kurang menyenangkan, Selat Sunda memperkirakan tinggi gelombang 0,5-1 meter dengan kecepatan angin 3-15 km/jam, cuaca mendung. Kami memang melihat mendung tebal bergayut diseputar selat sunda.

Saya dapat atau tepatnya terbawa arus mobil menuju dermaga IV suatu tempat yanhg hanya diaktipkan pada saat mudik tiba. Jam menunjukkan 12.00 malam, tidak kelihatan petugas berwalki talki yang mengatur arus kendaraan disini. Yang aktip cuma "petugas" Popmi menawarkan dagangannya "Popmi-popmi, cuma dua ribu setengah, bonus air panas, bonus garpu, bonus gelas plastik!"

"Ada yang mini lho!"

Lha kalau nggak pakai air panas dan wadah dan garpu, apa mau di "eleg saza?"

SABTU 23/12 jam 03.00, masih belum ada tanda-tanda kapal mendarat di dermaga IV, saya lihat orang sudah mulai makan sahur, dan saya ikutan aktip dengan makan sebutir apel. Bukan sok Vegan, tapi di Cilegon anak menuntut mampir di resto Padang Simpang Raya. "Kalau di jalan Margonda, kan Resto Simpang Raya, Top banget rendang dan tunjangnya, coba dong di Cilegon."

Kalau sudah begini, pertimbangan Kolesterol, Asam Urat sudah harus dikesampingkan. Tapi beruntunglah dengan demikian saya cukup puas dengan sahur sebutir apel.

Istri saya yang selalu saja tidak bisa menahan diri, mulai turun kendaraan dan mencari "mangsa untuk diajak ngobrol", demikian olok-olok anak saya. Ia mendekati satu kijang ada yang dimuat 14 calon pemuudik termasuk barang bawaannya. Saya sudah judeg membayangkan bagaimana cara pengaturan tempat duduknya.

Makin lama suara istri cuma terdengar lamat " ke Lampung ya, apa? ke Pringsewu? ke Talangpadang?, oh saya di Teluk betung", lalu mereka berbicara makin lama, makin pelan dan pelan. Rupanya saya yang tertidur.

Jam 05.00, weleh weleh, kok kapal belum nongol. Para juru bisik mulai menyebarkan issue, gelombang tinggi nggak bakal kapal kecil berani, yuk pindah jalur ke Dermaga I dan II dijamin dapat tempat di kapal.

Maka saya termasuk dalam deretan korban juru bisik, entah ada berapa banyak juru bisik merangkap pak ogah yang ikut mengatur atau tepatnya memutar balikkan kendaraan, daam hitungan menit semua kendaraan memutar arah ke Dermaga I dan II, pintu masuk kelambung kapal yang merangkap pintu keluar sudah dipenuhi kendaraan dari beberapa jurusan.

Akibatnya, kendaraan yang baru datang harus temu tanduk dengan yang mau masuk. Dan stagnasi makin menjadi parah.

Situasi sudah kusut.

Baru beberapa saat kemudian para petugas datang, satu persatu kendaraan diminta mundur untuk membuka jalan bagi yang akan keluar. Saya yang emang dari sononya mudah diatur, kooperatip, dengan sukarela memundurkan kijang abu-abu tua. Maksudnya kijangnya tua, warnanya abu-abu yang sudah menua.

Dan ini momen tepat untuk menyaksikan pertunjukkan tingkah laku manusia. Sebuah truk tertutup nampak "mbegegek" menghalangi jalan.

Ternyata penumpang yang duduk diatas kap mobil tidak tahu menahu dimana keberadaan sang sopir. Akhirnya badan truk di gedor keras, ha! keluar seraut wajah kelihatan mengantuk dan kaget. "Ayo mundurkan mobil, kasih jalan yang mau keluar" kata petugas (berseragam tapi ditutupi jaket)

Lho kok, "sopir" tadi malahan semakin bingung. Saya bukan sopir, cuma penumpang (berkulit) gelap, katanya sambil tolah toleh cari yang aseli sopir. Ternyata pak Sopir, sedang ganti peran bak penonton. Dan rupa-rupanya dari tadi dia menikmati pemandangan. Dengan wajah seperti tenang tanpa dosa seperti seekor kucing baru menelan seekor burung, dia senyum-senyum menuju kendaraannya. "Buah Mangga Buah Melon", nggak nyangka eluh belagak bloon.

Disisi lain, seorang pengendara marah karena egonya terasa diinjak-injak. dia protes sudah sejak dinihari menunggu kok sekarang malahan disuruh mundur. Tidak henti-hentinya dia menyumpah-nyumpah sambil meludah, petugas bego nggak becus kerja!, masak mengatur penumpang saja tidak bisa.

"Untung ini bulan puasa, nggak boleh marah," katanya. Nah lho, urat di wajah dan lehernya tadi latihan sinetron pa ya. Kaget lagi saya ketika dia menarik sebatang kretek dan srupuut, ia menghisap asapnya dalam-dalam kedalam paru-paru. Mudah-mudahan, dia lupa saja bahwa ini hari ke 25 bulan puasa.

Saya layangkan pandangan saya ke petugas pelabuhan ber walki talki. "Keadaan aman dan terkendali," kira-kira kalau saya baca bahasa bibirnya dari jarak 25 meter. Cuma ya itu, namanya bangsa ini kan sangat menghargai waktu dalam arti yang lain. Memang keadaan terkendali, cuma waktunya terlalu singkat, tidak lama kemudian, satu persatu kendaraan mulai membentuk formasi yang paling digemari bangsa itu terutama pengemudi di kota besar yaitu,

Formasi ikan teri!!!, umpel-umpelan, setiap ada celah diisi, atau istilah saya di Zip sampai akhirnya semua mengalami stagnasi. Kalau sudah begini baru tolah-toleh, mana yo petugas kok nggak diatur ?

Saya ikutan bergabung dalam formasi ini mencoba masuk ke satu kapal bernama KMP Manggala, dan sadar bahwa saya akhirnya masuk ke Dermaga IV yang beberapa jam lalu saya tinggalkan. Lho kalau gitu ini cuma puter-puter saja. Akhirnya saya dapat juga tempat di geladak. Mobil kami kunci dan kami menuju ruang tunggu kapal.

Ramalan gelombang tinggi memang betul, diindikasikan dengan banyaknya butiran nasi di gang kapal, di WC, di mana-mana, padahal bukan restoran.

Memasuki lambung kapal Ferry type RoRo, terasa benar oleng kapal akibat gelombang yang memang kurang bersahabat kali itu. Tapi bagi yang terbiasa menghuni anjungan apung di China Selatan, pengaruhnya... ya tetep.

Saya langsung menghempaskan bokong di ruang tunggu. Dua pesawat TV didepan sudah tidak menarik perhatian, apanya yang menarik kalau setiap saat Channel TV berganti dari SCTV samar-samar ke SCTV kabur akibat posisi antene yang bergerak sesuai engan olengnya kapal. Rasanya baru merasakan kemenangan. Kalau kata anak-anak, "iya kemenangan lha wong mau ketemu bapak ibunya papah di Lampung."

Ketika "mak lher" tidur-tidur ayam, seorang anak muda, nampaknya dari "kulon" membuat atraksi. Dia mengaku anggota Debus Banten, bisa berdiri diatas api 15 menit, bisa dibacok nggak mempan dan beberapa kebiasaan Debus. Wah, kontan saya terbangun, kepingin melihat adegan Debus dengan mata Bathin (nggaya).

Cuma, tunggu punya, kapan mainnya mas Debus ini?

Ternyata acara debus dalam foto. Semua itu dipertontonkan dengan menunjukkan foto ukuran PostCard.
Ini ada Advent Bangun, ini ada Ratno Timor dsb. Lho rupanya itu pertunjukan debusnya.

Lantas apa maunya anak muda berjaket Ikatan Debus Indonesia ini.

Aha, dia mengeluarkan botol seperti bekas pinisilin, berisi cairan kekuning-kuningan, tebakan saya akan menjual minyak Cimande. Tapi ini Merak, bukan Cimande. Jadi minyak apa ya kira-kira.

Oho dia menjual minyak balur, dengan 10 macem kasiat. Berikut obrolannya.

1. Ada koreng, kena minyak balur, langsung putus.
2. Ada Maag, oles dengan ini obat, wassalam.
3. Infeksi kena karat, tutup luka dengan balur, penyakit langsung mudik
4. Patah tulang, langsung nyambung dengan ini minyak.
5. Rematik menahun, tamat dengan minyak ini
6. Sakit pinggang, encok kumat. Oles dimana sakit. Penyakit ngaciiir.
7. Sakit gigi, ambil kapas masukkan ke lubang gigi. Aman.
8. Sakit eksim, tempel, eksim ngelotok, kabur.
9. Bayi keseleo, urut saja pakai ini minyak. Beresssss.
10. Kanker Payudara, balur dimana sakit, insya deh.

Pokoknya semua penyakit bisa tuntas tas. Namanya saja jual obat.

Saya sudah tidak bisa mengikuti opus sampai ke level 10. Karena mas debus mulai menceritakan bagaimana minyak ini dibuat, dari proses pencarian kelapa, puasa untuk memetiknya, puasa untuk shalawatnya dsb. dsb. Saya seakan melalui lorong waktu kembali kemasa anak-anak yang hobinya mendengarkan tukang obat. Lha itu kan gunanya mudik.

Berapa harganya?, dikampung kami jual dengan harga Rp. 20.000 perbotol, nggak ada di supermarket, atau di toko. Ini khusus amanat guru kami untuk membantu umat manusia. [Kalau sudah begini jelas boongnya pedagang dmana-mana ya jual barang, tidak pakai kecuali kecualian ]

Jadi harganya berapa ?
Harganya mahal!!! - jawabnya lagi

Pendekar debus bolak balik mengulangi dialognya sampai akhirnya terbentuk komunikasi segar antara penjual dengan calon pembeli.

"Baiklah, dua menit saya berikan bagi yang berminat. Harganya adalah Rp. 5000 perbotol, jumlah tidak seberapa dibandingkan dengan khasiatnya."

Uang lima ribu sampai dimana bapak ?, kata mas debus sambil menawarkan obatnya.

"Pembeli" mulai rebutan, saya juga ikut merogoh kocek. Obat saya buka, bau minyak kelapa menyengat. Saya hanya bayar bagaimana ia berkomunikasi, siapa tahu bisa dipake untuk jualan Mudlogging dan Production Test saya.

Ketika dagangannya hampir habis, waktu dua menit sudah molor menjadi 15 menit.

Mas Debus mengucapkan terimakasih dengan tidak lupa mempertunjukan kefasihannya menghapal ayat AlQuran. "Kami sekolah cuma kelas 2 SD, tapi harus Khatam Quran berkali-kali," ujarnya.

******


Giliran selanjutnya adalah penjual Tas Serbaguna. Dia menjual tas yang bisa berubah bentuk, dan belum ada di supermarket, atau CNI maupun Amway.
Kegunaan tas intelektuil ini (mungkin maksudnya tas Inteligent)

1. Bisa jadi tas handphone
2. Bisa diubah jadi gendongan bayi 5 tahun kebawah, jangan bayi 50
tahun keatas, gendongannya lain.
3. Bisa jadi tas pinggang.
4. Bisa jadi topi Datuk Maringgih
5. Bisa jadi Topi Bali

Harganya Rp. 10.000 per buah, cuma penjual ini humornya kurang banyak. Terpaksa saya menambahi, bisa buat "nyetut" anak (nyetut=nyabet). Tapi humor saya rada ditanggapi masam oleh anak-anak. Kali ini tas tidak dibeli, coba dia pinter ndagel atau lebih komunikatip, pertimbangan saya akan berubah lain.

Tontonan lain di kapal adalah, biarpun ruang berAC, tetapi penghuninya belum mantep kalau jendelanya belum dibuka blak. Mungkin logikanya, kerudungan aja sudah dingin, apalagi di buka, lebih mantap dinginnya. Tapi jawaban yang kira-kira tepat, adalah perokok bisa merokok sambil membagikan rokoknya kepada sang perokok pasif. Di bulan puasa.

Teknik penyelamatan menggunakan Jaket Pelampung, kelihatannya sudah dianggap "self explanatory." Dulu penjelasan cara penyelamatan diri selalu dilakukan setiap kapal berangkat, tetapi nampaknya sudah mulai dilupakan.

Di luar sana, saya mendengar suara penumpang berteriak-teriak histeris sambil menunjukkan tangannya ke suatu titik di lautan. Ternyata Ikan Lumba-lumba liar juga memberikan atraksi gratis sekitar lambung kapal.

Setelah hampir 2 jam setengah berada di lambung kapal dengan suguhan dagang obat dari Anak Buah Kapal merangkap penjual obat dan tas Intlektuil. Plus atraksi gratis dari Lumba-lumba liar di selat Sunda, maka kamipun mendarat di pelabuhan Bakahuni. Karena ini perjalanan yang berulangkali, saya tidak mencoba menarik perhatian anak atau memasukkan informasi baru kepada mereka.

Nyata benar bedanya, bak bumi dengan langit, maka pelabuhan Bakahuni kelihatan lengang seperti hari-hari biasa. Tanpa kesulitan berarti kami langsung melaju tancap gas. Cuma karena jalan di Bakahuni yang relatip menanjak, saya musti extra hati-hati.

Diujung sana terlihat ada sesosok tubuh tersenyum (barangkali) sambil mengacungkan selembar kertas. Tapi terlambat, saya sudah melaju dan saya balas lambaikan tangannya. Dadah pak Polisi Lalu lintas trims atas tawaran buku petunjuknya. Jalan lengang ternyata dimanfaatkan oleh oknum pengemudi secara ugal-ugalan. Akibatnya,

Di Kalianda, 7 (tujuh) tewas dalam kecelakaan beruntun antara Bus dari Bengkulu BD-3308-A melawan Truk Fuso dari Aceh BL-8526-PL, lalu Suzuki Carry dari Jakarta B-2219-UB dan Zebra dari Serang A-1276-UB. Melihat nomor kendaraan, nampaknya para pengemudi tamu dari luar Lampung.

Robekan baju korban, ceceran darah masih nampak teronggok di jalan. Yang mengherankan, pemandangan demikian tidak mengurangi minat pak Sopir untuk berugal ria di jalanan.

Kalianda terkenal dengan tempat kediaman Raden Intan, satu-satunya pahlawan yang dimiliki oleh orang Lampung, walaupun ada yang bilang ia adalah putra Banten. Saya sendiri masih gelap mengenai apa dan siapa pahlawan ini. Beberapa tahun lalu sebelum isolasi terbuka dengan adanya jalan Lintas Sumatra, konotasi Kalianda adalah penduduk yang tidak ramah, dan gemar menggunakan "black magic".

Konon Gubernur Lampung dan rombongan misalnya, harus membekali sendiri minumannya bila mengadakan tour ke Kalianda. Dulu bila bepergian ke Kalianda sihatkan untuk tidak memberikan api rokok anda kepada seseorang yang tidak dikenal, itu biasanya ajakan untuk adu ilmu bathin.

Tapi sekarang beberapa rumah makan dipinggir jalan menunjukkan bahwa desas desus dulu itu tidak betul. Bahkan Resort Kalianda yang dikelola Bakri Brother (ini orang Lampung yang saya kenal baik, tapi dia nggak kenal saya).

Melewati Kalianda, kami memasuki daerah Merak Belatung, Umbu Pepongor, Simpang Kota Dalam lalu Tarahan. Merak Belatung dikenal dengan tempat wisata pantai pasir putihnya. Sementara Tarahan terkenal dengan Durian Lampungnya.

Durian seakan-akan tiada habis musimnya disini. Dipinggir jalan nampak para penjaja Durian secara atraktip menggantungkan dagangannya di warung beratapkan rumbia. Disarankan untuk bernego "Ngomong Manis, artinya kalau nggak manis jangan dibayar."

Perkara nanti penjualnya ngotot bilang durennya manis walaupun kita bilang sepet, teknik negosiasi diperlukan disini.


KRIPIK PISANG DAN KOPI KELENTENG

Selain, durian, pisang Lampung juga terkenal. Kripik Pisang Suseno, sudah merambah kemana-mana. Sekarang keluar beberapa pesaingnya. Kalau Suseno pakai simbol seekor Panda, pesaingnya menambahkan dengan cap dua Panda. Lalu ada yang ngejossi dengan empat Panda dst.

Bagi penggemar kopi berat, saya rekomendasikan (bukan saya berikan), kopi Sinar Dunia cap Bola Dunia. Lha kopi asli TelukBetung (Tebet) ini namanya Bola Dunia, tapi lantaran dijual didepan (agak jauh) Kelenteng namanya jadi Kopi Kelenteng. Padahal kalau menurut ilmu Kelirumologi, kopi ini bagusnya dinamakan Kopi cap Rumah Duka, sebab pas sebelahan dengan rumah duka (cuma dibatasi tembok).

Dulu saya minum kopi ini dijamin tidak tidur semalaman. Cara pembuatannya, kopi+air dimasak bersama-sama, setelah mendidih baru disaring. Baru tahu asyiknya. Untuk perbandingan Kopi Dangdut cap Ayam Merak harganya sekitar 15.000 tapi kalau kopi Jenasah eh kopi Kelenteng Rp. 20.000 - beda Goceng tapi Kenceng Bo!.

Memasuki Pasir Putih ada Taman Hiburan Rakyat yang masih sepi-sepi saja. Dua patung badut yang sudah dimakan usia masih menyambut di pintu gerbang.

Sekilas kenangan, ketika saya masih mengalami cinta monyet membawa kekasih (waktu itu) berjalan jalan di pantai Pasir Putih. Lalu Srengsem yang bekas pelabuhan laut sebelum pelabuhan Bakahuni, Srengsem juga menampakkan bekas pelabuhan yang ditingalkan dan dimanfaatkan oleh nelayan lokal.

Ada pelabuhan Panjang yang merupakan pelabuhan tertua. Wanita Lampung agak risi kalau dibilang "Elo Orang Panjang", kira-kira kalau di Jakarta, KramTung gitu.

Dan, masuklah saya ke Telukbetung kelurahan Gunung Mas dengan kodepos Bandarlampung 35211 rumah orang tua. Sekitar 200 meter dari kediaman saya berdirilah bekas lampu mercusuar yang terlempar ke darat pada saat Krakatau Meletus pada tahun 1883 (?). Kalau saya mengirim Wessel atau Surat, saya cuma alamatkan nama Ayah, lantas Depan Kantorpos dan Girobesar, Teluk Betung. Tapi petugas di KCP Cilandak sering nyureng, mana nomor rumahnya. Saya tambahkan Jalan Pos No 29. padahal nomor tersebut adalah nomor urut Sensus Penduduk jaman Pak Harto masih giat bikin jalan Tol.

Propinsi Lampung, mempunyai dua ibu kota kembar yaitu Telukbetung (pesisir) dan TanjungKarang (pegunungan). Di bukit Tanjungkarang, saya ingat bolos sekolah cuma mau melihat Bomb Sex Yayuk main filem "Sembilan" bersama Ratno Timor.

Kelihatannya dilokasi shooting cuma ada orang ngobrol, paling Yayuk Rahayu, dengan kemben ketatnya, lalu retake, nunggu lama, tunggu cuaca, kok tiba-tiba di Filemnya, Ratno Timor bisa melayang. Dulu, saya terherman-herman akan teknik perfileman.

Di bukit ini ada bekas sebuah kapal besi yang terbawa arus Krakatau sampai manjat ke bukit. Suatu bukti bahwa memang betul Krakatau ini waktu meledak dahsyatnya seperti anggur merah. Cuma Kapal ini karat dimakan usia, dan belum ada berusaha menangkap peluang bisnis. Juga Bunker-bunker bekas peninggalan Jepang masih nampak disana-sini, dulu saya pakai untuk main Jethungan.

Waktu menunjukkan pukul 09.00 berarti hampir 12 jam perjalanan kami tempuh, kehilangan sekitar 8 jam. Kedua Orang tua sempat cemas, sampai-sampai setiap ada deru kendaraan melintas depan rumah mereka selalu melongokkan kepalanya. Usia 49 tahun tidak melunturkan rasa bahwa anaknya masih anak bayi gemuk, berambut keriting lebat (waktu lahir), dan diikutkan kontes bayi sehat pada tahun 1953, ternyata kalah karena overweight untuk seumurnya.

Pembantu juga dengan resep tradisionalnya sukses untuk tidak mabuk rupanya sudah mendusin. Setelah menyalami saya dan berjanji untuk kembali lagi 2 minggu kemudian, maka mereka saya lepas ke pangkuan orang tuanya. Tapi hati kecil saya harus merelakan jika ini adalah perpisahan. Paling tidak diupayakan cari lagi tenaga pembantu dari Lampung.

Mimbar Seputro
0811806549
© Copyright 2000 Mimbar Seputro. All Rights Reserved.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My Photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com