Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 04, 2006

Limosin Rasa Angkot

Date: Fri Sep 1, 2000 10:43 am

Situasi politik di Pilipina saat itu baru saja Pasca Marcos berakhir, ketika saya ditugaskan sebagai mudlogger ke Filipina. Sekitar 3 jam melakukan penerbangan ke bandara yang saat itu sudah berganti nama menjadi Aquino International Airport, sampai sampai cangkem crigis disana mengkritik kebijaksaaan politik Cory "cuma bisa mengubah nama bandara Marcos menjadi Aquino"

Di airport, sistem keamanannya sungguh ketat luar biasa. Dari melewati Metal detector, body searching sampai seluruh tas diaduk-aduk. Anehnya ini bisa dilakukan sampai dua kali. Setiap lipatan tas, dompet dibuka dengan seksama.

Saya diamati dengan tajam ketika mereka membuka dompet saya yang "tebal".
Ada peraturan bahwa memiliki uang lebih dari US1000 harus dilaporkan, padahal saya bawa uang lebih dari 80.000 ................. rupiah.

Keruan saya digelandang keluar barisan, dan di "interogasi". Saya jelaskan mengenai kurs mata uang kita, akhirnya untuk memberikan gambaran besarnya uang tersebut saya bilang Kira-kira dalam bahasa Indonesianya, "Pak dengan uang segepok ini, saya cuma mampu naik taksi ke rumah saya dan makan sekali di warung kecil."

Untuk amannya saya pesan Taxi di Bandara. Eh yang ada kok "cuma" Limousine, dan biayanya masuk akal. Segera saya mendaftarkan ke petugas resmi disana. Saya anggap yang dia resmi karena selain memiliki counter kecil di Bandara, ia mengalungkan kartu pengenal, berseragam (atas putih, bawah ??? saya lupa), dan menenteng clippboard.

Silahkan tunggu sebentar........ kata petugas resmi, Limousine akan datang sebentar lagi.

Sik asyiiik, ada cerita nih naik Limousine di negara orang. Sayang sebentar itu bukan lima belas menit, bukan duapuluh menit melainkan 60 menit. Dan yang datang adalah kendaraan Limousine yang 100% mirip mobilnya Trantib yang nguberin para asongan di Jakarta. Gimana saya nggak merasa nelangsa, ternyata Limosine disana adalah kendaraan mirip kijang terbuka dan dibelakangnya dikasih tenda terpal. Full AC kepleset jadi Full ISIS.

Diantara deretan penumpang, beberapa kelihatannya dari belanja di pasar atau toko, ada seorang lelaki kekar selalu mengawasi saya, lama-lama dia menegur saya dalam bahasa Inggris dan saya menjawab sesingkatnya (tapi ramah orang Indonesia - dulu).

Satu persatu penumpang sudah turun di tujuan masing-masing.

Whe ladhalah, tobil tobil anak kadal. Di bak mobil belakang sekarang tinggal kami berdua.

Jangan-jangan Sebentar lagi akan ada adegan perampokan - saya mbatin.

Mulai saya mempelajari dan mengingat ajaran "hantaman pertama kali kan melemahkan mental penyerangmu, jangan sampai kamu didahului diserang."

Jarak serangan, titik serangan sudah mulai dirancang. Pokoknya Siaga Satu Punya, kata Babah Honglian.

Itu teori.... kenyataannya saya sudah seperti Panther di starter pagi hari.... Guemeter, tangan ngaderegdeg, apalagi jantung. Ketiak mulai basah oleh tetesan keringat, atau lebih tepatnya sudah "ngetuk". (Tuk = mata air)

Di salah satu filem India yang di bintangi oleh Amitabachan, katanya mengukur kekuatan pukulan seseorang cukup dari besar-kecilnya pergelangan tangan. Entah kalau di filem Kucha Kucha Hota Hai.

Dan orang ini, astaga.*** , selain lengannya kekar. Bahunya berotot. Lemes deh aku.

Duilah, situasi berubah dari Siaga Satu menjadi Gawat Darurat.

Yuuuhu... God, where are you.... (emangnya filem Scooby Doo)

Ayolah Kakang Kawah, Adi Ari-ari. Entah mantera apa yang pernah saya curi dengar, ikut terlintas dibibir saya. Tiba-tiba, dia mengubah percakapan kedalam bahasa .... Indonesia.
Akhirnya kami bersalaman, (memang genggamannya kenceng), dan dia bahkan membawakan tas saya ke Hotel Robelle Mansion. Dia juga yang ikut sibuk tanya sana sini dimana letak hotel Robelle Mansion itu. Sampai kami berpisah, saya lupa menanyakan namanya. Apakah ia orang Indonesia?.
Terlalu banyak surprise terjadi hari itu. Surprise karena malu sudah main curiga, ternyata tidak terbukti..... Anehnya sekarang, sudah tidak terbukti masih dicari-cari agar terbukti, atau setidak-tidaknya dipaksakan untuk terbukti. Apa lagi yang bisa dilakukan lain kalau sudah begini selain menyebut ...."God Help Me Please..."

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com