Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 16, 2006

Laksa (13708)

Date: Fri Jul 16, 2004 12:18 pm

Kalau sudah di Singapore, soal makanan saya kurang sreg memberikan penilaian yang positif. Alm Untung Supeno malahan mengaku eneg-tereneg-eneg kalau lebih dari satu hari saja makan disana. Namun saya punya satu temuan baru yaitu hawker makanan bernama Laksa KATONG. Semangkuk kua kental yang terbuat dari santan dan bumbunya termasuk curry leaf yang sensasinya mirip "walang sangit" - ditambah bumbu seperti jahe, lalu diinfiltasi dengan fish cake (sejenis otak-otak, tapi bukan). Dicampur bee-hoon, bean sprout (kecambah), kerang atau tiram, sotong - menghasilkan harmoni yang lidzat zidan untuk dinikmati. Belum ketinggalan sambalnya sambal goreng terasi.

Cara menjualnya tergantung pesanan dan besarnya mangkok. Berkisar dari $3, $4,$5

Konon penamaan laksa ini karena rasanya campuran bermacam bumbu sehingga "rame-rasanya" - hanya orang dulu belum kenal; iklan rokok Sampurna, sehingga daripada pusing-pusing menyebutkan rasanya, terciptalah Laksa. Warung Laksa Katong ini bisa ditemui di Lorong Liput kawasan Kampong Belanda atau Buona Vista.
*****
Masih soal makanan, beberapa hari lalu mas Bawa Santosa dari General Electric yang mengurusi Power Turbin PLN sampai Mesin Pesawat terbang mengundang saya makan di Orchard Road. Ini memang bathinya (untungnya) mengurus milis, sering dapat undangan makan malam. Mula-mula kami pergi ke Sommerset untuk mencoba Rice-Table sebab mas Bawa sudah dua hari belum ketemu nasi. Waiternya bilang resto akan tutup jam 8.45. Kami tetap berkeras akan makan disana, namun sang waiter bilang. Seat baru available pada jam 8:15 - singkat kata usaha untuk makan selalu terhalang oleh waiter yang intinya, kami nyaris tutup "bo-chap" jangan repot-repot berkunjung.

Akhirnya atas usul mas Iskandar seorang warga negara Amerika yang bapak ibunya orang Semarang, pergilah kami ke Boat Quay, suatu restoran berada diujung sungai Singapora, melihat kapal hilir mudik dan kapal-kapal dari Guang-dong datang berlabuh. Untuk urusan nasi hanya satu resto yang sedia yaitu Masakan Sunda.
Untuk minumnya saya pilih Coca Cola, namun waiter yang bisa sepatah dua patah berbahasa mengatakan bahwa Coca Cola mahal, lebih baik pesan jus lemon dsb. Namun saya keukeuh pesan Coca Cola. Mas Iskandar mengatakan bahwa minggu depan akan ke Balikpapan, tetapi dia harus menunggu 2 tanda tangan dari Amerika dan satu tanda tangan dari Singapore yang mengijinkan mereka travel ke Indonesia. Indonesia memiliki tingkat keamanan Zone-1, sedangkan Manila cuma Zone-2 alias kurang berbahaya.

Masakannya asik juga. Tiba-tiba pelayan datang dan bertanya apakah akan ditambah nasi panas lagi? Berhubung masih ada nasi tersisa dibakul, kami bilang tidak. Tanpa banyak tanya. bakul dan sisa nasinya langsung diambil dan tidak pernah kembali lagi.

Lain padang lain belalang.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com