Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 02, 2006

Ladam Kuda

Date: Wed Dec 8, 1999 2:49 pm
Dulu waktu saya masih kanak-kanak, sering melihat beberapa rumah tetangga dipasangi Ladam kuda diatas pintunya. Konon ini sebagai usaha tolak-bala.
Ternyata penggunaan Tapal Kuda ini meluas sampai ke dunia otomotip. Mobil yang pernah tabrakan misalnya, kecuali disiram kembang setaman, masih belum kumplit kalau belum digantungi ladam kuda (bekas), dan ini biasanya ladam kuda yang banyak dijumpai dijalanan (dulu), alasannya mungkin lebih murah daripada beli yang baru.

Kakek nenek saya tidak bisa menjawab pertanyaan saya mengapa harus ladam kuda, orang tua saya hanya menjawab "ah itu cuma gogon-tuhon", atau "superstitious" (beliefs in the existence or power of the supernatural; irrational fear of the unknown; a religion or practice based on such tendencys; widely held but wrong idea).
Giliran anak-anak saya bertanya hal serupa, saya menjadi kelimpungan mencari jawabannya. Untung ada internet. Rupanya ini kebiasaan bangsa Viking sekitar abad keempat dahulu.
Cerita bermula pada seorang pande besi asal Inggris bernama DUNSTAN yang sekali waktu rumahnya didatangi oleh tamu yang aneh. Tamu tersebut minta agar kakinya dipasangi ladam, dengan dipakukan ke dagingnya. Ketika berusaha memasang ladam, ketahuan kuku sang tamu persis kaki kuda. Pak Dunstan melakukan pekerjaannya dengan sedemian rupa, mula-mula sang tamu diikat didinding, sebelum dikerjai.
Akibatnya ia yang disinyalir penjelmaan "setan" merintih minta ampun karena kesakitan. Akhirnya terjadi perjanjian "gugon tuhon", dimana setan tidak akan memasuki rumah yang digantungi oleh ladam. Rupanya gossip perjanjian dengan setan pak Dunstan menyebar sampai negeri kita.
Laen waktu dilanjutken: mengapa angka 13 dianggap sial, bagaimana asal mulanya.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com