Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 09, 2006

Kwetiau - Inul dan mentri Sri

Didepan saya sudah duduk dra. Sri Rejeki. Yang kebetulan menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan ditemani oleh dua asistennya. Sementara saya ditemani direktur saya, eh kelawik, saya menemani direktur. Menteri ini memang sudah hopeng" dengan tauke sayal, hampir tiap bulan mereka bertemu jauh dari suasana formal. Seperti diketahui di kabinet Mega, cuma ada 3 perempuan yaitu Rini Suwandi, Sri Rejeki dan kaptennya Megawati.

Berlima kami duduk semeja, lalu mbak Kiki demikian kami menyebutnya memesan the best food in Hyatt Arya Duta kata yang juawalan. Ada dua pakan kondang disini yaitu bakmi Jawa dan Kwetiau. Akhirnya beliau pilih kwetiau, dan saya pilih kwetiau. Sedangkan ibu Diah Sulasmo (DS) dari dulu cuma satu makanannya yaitu Bakmi Jawa ditambah menu tambahan cengek alias cabe rawit diiris-iris kecil. DS tidak makan daging sapi atau ayam, sehingga setiap ke resto harus ada bau ikan atau telur. Kalau minum hanya satu jenis yaitu teh panas, kopi panas atau air bening panas. Mungkin ini salah satu rahasianya mengapa penggemar empek-empek dan masakan pedas ini nampak lebih muda dari
usianya, dan beberapa pihak ada yang menyangka masih lajang.

Sumpit pertama dari bakmi ini lidah saya mulai bisik-bisik "kok asiiin". Dunia makanan di lidah saya cuma dua, enak dan enak sekaleee. Kalau sampai lidah saya protes biasanya "cooking skill" sedang dipertanyakan.

Eh kok bu Kiki bilang "asin" dan di gongi oleh seorang staf ahli ekonominya Irzani Damayanti MSc dan dokter Spesialis anak Rachmat. Mereka sepakat membentuk koor, "kwetiaunya uuassiin."

Bila dibandingkan dengan penjual Bakmi tektek yang mangkal dipengkolan sana. Mereka justru mampu memasak lebih lezat ketimbang masakan bintang lima, bahkan kerupuk warna-warninya di pisahkan dengan dibungkus plastik sehingga kalau dibawa ke rumah, kerupuknya masih kriuk-kriuk. Lazad dzidaan. Alias lazat nian. Tetapi teknik ini masih belum dipikirkan oleh Bu Marni penjual Gado-gado, tetap saja krupuk diremes lantas dibungkus dengan gado-gado sehingga sampai di rumah sudah lembek, cuma terasa bubur tepung kanji. Tapi tetap LD (Lizad Zidaan).

Kalau sudah begini pikiran saya ingat Robert Kiyoshaki, penulis "Rich Dad Pood Dad," dia pernah bertanya siapa bisa memasak hamburger lebih lezat dari McDonald, atau goreng ayam lebih okay dari KFC, semua akan bilang "ibuku, atau istriku, atau pacarku atau bibiku, bisa membuat penganan serupa dan lebih lezat....plus murah.."

Bedanya, McDonald dan KFC memasak sambil memperbesar asset, yaitu membuka franchise sehingga uang bekerja untuknya bukan bekerja untuk cari uang. Sementara yang pinter masak biasanya sibuk meningkatkan kemampuan teknis mengolah ayam, tetapi level taman-kanak-kanak dalam melihat peluang.

Sambil makan maka keluarlah curhat ibu Kiki, tadi pagi saya sudah bangun mau ke kantor, eh saya lihat suami saya masih tidur. "Kok enak lho jadi sampeyan masih bisa bangun kapan mau, sementara saya pagi-pagi harus bekerja."

Menteri curhat dengan stupid mud logger, kelihatannya langka juga ya...

Lalu sebuah dagelan dari ibu Kiki, apa beda "anak" dengan dengan "istri".
Jawabnya di bawah tulisan ini...

Ketika ada kesempatan mengeluarkan suara, saya langsung menohok dengan topik apa lagi kalau bukan Inul.

"Bagaimana pendapat ibu atas pencekalan Inul."

"Sekalipun mendukung tentunya saya tidak membuat statement di muka publik," kata beliau. Weleh, belum berhasil to "jualanku". Kucoba menyodok dari lini lain.

"Gus Dur, Butet, Timbul bahkan Guruh sudah angkat bicara, bawa dong dalam rapat kabinet bu..." (Waktu itu belum tahu kalau Ratna Saruampet segala sudah ikut marah)

"Dua halaman penuh kegiatan Inul di pedalaman Kalimantan di liput oleh majalah Time, wartawannya menyebut bahwa ada penonton yang sudah 2 hari perjalanan hanya untuk menyaksikan Inul. Masak kita yang malahan akan me-liliputkan-Inul."

Tangan yang megang pisau pengoles roti sempat terhenti. Rupanya berita majalah TIME belum pernah didengarnya. Kesan saya Inul yang muncul dipermukaan selama ini cuma goyangnya. Haiyya. Mudah-mudahan sodokan kali ini bisa "masuk..."

"Dewi Motik naik ke panggung, memberikan bunga dan dukungan kepada Inul"
"Ruhut Sitompul juga membela Inul"
"Negeri ini kekurangan orang berprestasi secara "bersih", tanpa skandal, tanpa katebeletje. Dan Inul salah satunya lho bu, perempuan "pisan," Saya nggak tega melihatnya dililiputin oleh senior-senior di ibu kota."

Lalu saya cerita nonton Live Inul. Gantian tauke saya DS yang semula kurang sreg dengan Inul mendengarkan saya dengan penuh tanda tanya. Tapi ini persoalan cita rasa, boleh kan berbeda.

Lalu karena sama-sama dari Bandar Lampung, pembicaraan mengalir ke Alzier Dianis Thabrani, beliau kurang sreg dengan cara polisi membawa Alzier yang terkesan tidak manusiawi. "Bicara 5-10 menit dengan Alzier anda pasti tertarik. Dia model perayu ulung....."

Lha saya temen cukup dekat "korban" jadi ya nggak perlu komentar. [bahasa buser]

Lalu pembicaraan bergeser ke isu Poligami, lagi-lagi saya bilang, itu bu masa ada buku "Kiat Sukses Berpoligami" lha ini kan kemunduran menurut saya. RI-2 akan diberi penghargaan sebagai orang yang sukses menjalankan Poligami. Kelihatannya akan menyaingi gaya Academi Award. Terus dimana fungsi 12 pasal pengganjal untuk mengijinkan orang kawin lagi. Seperti kalau pegawai harus minta ijin atasan, 12 tahun menikah belum punya anak, isteri tidak sanggup melayani karena sakit berkepanjangan, pernyataan dari istri dsb.. dsb...

Dan masukan ini berkembang sehingga mungkin Menteri akan membuat statement di publik "Poligami is No.... unless."

Banyak gossip berputar dimeja dalam 2x60 menit. Seperti analisa mengapa gula bisa hilang dalam beberapa hari, dan hubungannya dengan kebijakan suatu partai mencari kucuran dana untuk pemilu. Kenapa gubernur BI kok belum dilantik, termasuk pelantikan Dirut Pertamina padahal presidennya senang berpergian sehingga tumpukan arsip masih sangat tebal dan diperkirakan 2-3 kali sidang baru bisa di teken dan di eksekusi.

Tapi hari Kamis saya harus ke Pekanbaru.

Minggu 4 Mei 2003, teman kantor ber SMS, "ada Inul di TPI, ibu Sri Rejeki mau kasih komen....

"Semua orang pendapat masing-masing, generasi muda adalah warga negara yang perlu perlindungan harapan sehingga pro dan kontra adalah referensi untuk lebih maju," demikian komentar seorang Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Percaya dengan saya, bu Kiki senang melihat Inul, tetapi kapasitasnya sebegai menteri tentunya harus lebih berhati-hati dalam mengemukakan pendapatnya..."

Nggak jelas apakah bombardir pendapat saya kemarin menjadi salah satu nara-sumber untuk beliau berbicara di TV, atau cuma kebetulan. Daripada cuma membicarakan calon Presiden, ketua Partai dsb.

4 mei 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com