Kuda Lumping kesurupan roh

Latihan Bersama Mahluk Gaib.

Trend latihan bersama umumnya ditemukan di dunia militer dengan melibatkan satu atau dua bangsa di dunia yang punya kepentingan serupa, misalnya latihan militer bersama antara TNI AL dengan Marinir USA. Tetapi belakangan trend ini juga ditiru oleh mahluk dari "dunia perewangan."

Begini ceritanya....

Adalah seorang bocah lelaki, Saogi Seputro,15 tahun sebagai siswa SLTP Xaverius Teluk Betung, Bandar Lampung yang pernah merasakan bagaimana latihan bersama mahluk ini. Ketika itu OGI, ditunjuk sebagai ketua kelompok dalam pelajaran tambahan dibidang kesenian. Tertarik akan lagu ciptaan Rhoma Irama yang dipopulerkan kembali oleh Lisa Nathalia sampai-sampai refrainnya di sambut dengan teriakan nakal para penonton dangdut sehingga ia dicekal pertunjukannya, maka Ogi bertiga dengan temannya memilih tema tarian "Kuda Lumping."

Dasar murid cerdas, tarian kuda lumping tadi ia ubah sehingga lebih singkat dan lebih padat gerakannya. Istilah populernya, tari kreasi baru. Mula-mula, Ogi dkk hanya menggunakan gagang sapu sebagai kudanya, lalu ketika sudah mahir, maka porsi latihan meningkat dengan menggunakan properti berupa bambu yang dianyam membentuk seekor kuda. Sebagai ketua Kelompok, Ogi mendapatkan kuda bercat hitam, besar dan sangar. Untuk lagu pengiringnya digunakan kaset lagu jawa "Jathilan."

Tari ini memang dinamis, dan suasana menjadi meriah apalagi ditingkahi oleh suara cemeti memecah udara yang dimainkan oleh teman Ogi. Tetapi Ogi mulai merasakan bahwa kuda-kepangnya semakin terasa berat, bahkan cenderung membangkang gerakan yang diinginkan Ogi. Misalya, Ogi menggerakkan kudanya kekiri, tiba-tiba kuda seperti ditarik kedepan.

"Tangan dan kaki saya pegal, seperti kesemutan. Lalu pandangan mulai berkunang-kunang. Suara teman-teman makin terdengar sayup, dan akhirnya tangan dan kaki seperti kaku."

Beruntung Willy, sang guru olah raga mencium gelagat kurang kondusif dan berada diluar kendali. Dengan serta merta latihan di hentikan untuk memberikan kesempatan Ogi beristirahat sebelum diijinkan pulang.

"Saya masih bisa dengar pak Willy bilang, sesampainya dirumah disarankan untuk langsung mandi."

Selidik punya selidik, ternyata kuda bambu ini milik sebuah perkumpulan Kuda Lumping yang sudah tak berdaya dilibas kepopuleran kesenian organ-tunggal ala "Goyang Dombret". Bisa jadi lantaran lama beristirahat, maka mahluk gaib yang biasa bermain kuda lumping merasa bosan menunggu giliran "ditanggap" yang seperti tak pernah tiba, sehingga ketika didengarnya suara gamelan dan "kuda tunggangannya" mulai dimainkan orang, mahluk tadi langsung menyurupi kuda dan penunggangnya.

Atau karena pakem tarian aselinya dimodifikasi semena-mena oleh bocah Ogi, mereka protes. Maklum anak-anak mereka juga tak perduli dengan persiapan "caos-dahar" atau sajen sebagaimana layaknya sebuah ritual pendahuluan pagelaran tari Kuda Lumping.

"Untung saja Ogi masih doyan nasi, coba kalau doyan beling, bisa berabe saya menyediakan sarapannya setiap hari," keluh ibunya sambil mengurut puteranya yang kadang masih menyeringai kesakitan.

Lain kali kalau lagunya pakai "kuda lumping" mbak Nathalia, mungkin roh kuda nggak bakalan ngerti Ogi!.

Jakarta 11 Juni 2002
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe