Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 12, 2006

Kota Inten

Date: Fri Dec 12, 2003 3:27 am 12608

Kalau anda naik kendaraan dari arah Grogol ke Tanjung Priok, selepas pintu tol Gedong Panjang tepatnya diatas jalan Tongkol, layangkan pandangan ke utara dan itulah Kota Inten. Riwayat Kota Inten bermula pada tahun 1623 ketika Belanda membeli
sebidang tanah dari tangan Pangeran Jayakarta - Sang Penguasa Sunda Kelapa (sebelum akhirnya merampasnya). Di tanah ini lalu didirikan loji alias kastil. Loji-loji ini nantinya di bongkar pasang sesuai dengan kebutuhan. Diantara ke-empat sudut loji terdapat kubu yang diberi nama seperti Diamant, Saffier, Bobijn, dan Paarel. Para kapiten tinggal di kubu Robijn sedangkan para Sersan Mayor tinggal di kubu Diamant.

Benteng ini pada 1809 dihancurkan oleh Daendeles karena kuatir di rampas oleh Inggris. Setelah rata dengan tanah pada 1835 penduduk sering menyebut kawasan tersebut sebagai Kota Inten (Diamant.)

Ketika trem bertenaga kuda (tramway) diganti dengan trem uap, diatas kastil Kota Inten dibangun stasiun kereta. Agar teduh, pemerintah menanam pohon waringin (beringin). Kapan Waringin di tanam kurang jelas lantaran pada lukisan Berckenrode (1629) tidak nampak adanya pohon beringin, namun pada peta Pierre Berthelot (1632) sudah nampak beberapa pepohonan. Sayangnya lukisannya tidak jelas apakah itu beringin atau bukan. Penggede Jawa menyukai tanaman beringin yang selain teduh juga menyiratkan simbul pengayoman, tetapi Belanda menyukai tanaman ramping.

Apalagi ketika awal bulan Desember lalu angin kencang sempat merobohkan 3 batang beringin besar yang ditanam sekitar Stasiun Kota Inten. Akibatnya seorang tukang sirih tewas tertimpa bangunan ambruk oleh tumbangnya pepohonan. Abad 18, pohon kenari banyak ditanam oleh Belanda sehingga muncul Gang Kenari di kawasan Salemba. Lalu pohon tamarindelaan dipilih sebagai pohon pinggir jalan sehingga muncul nama Jalan Asem Lama.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com