Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 11, 2006

Korek Api jaman Betawi

KOSETAN alias KOREK API


John Walker, ahli kimia dari Durham membuat campuran formula mudah terbakar yaitu lem arab, antimonium sulfat dan potasium klorat yang kalau dibubuhkan pada ujung kayu jadilah "pentol" korek. Untuk membuat api, dulu 1827 dibutuhkan ampelas yang digosok sehingga timbullah api. Jadi mustinya namanya "gosok api". Penemuannya ini disempurnakan oleh seorang Jerman yang menemukan formula lebih jress. Disini antimonium sulfid diganti dengan fosfor sehingga dengan sedikit gosok, sudah greng. Di Swedia Johan dan Carl Lundstrom 1852 di Swedia memodifikasi korek dengan membuatkan rumah korek sehingga bentuknya seperti yang kita lihat sekarang. Untuk ramuan pentol korek, ia menggunakan bahan potasium klorat dan belerang. Sedangkan ampelasnya adalah campuran fosfor merah yang ditempelkan disisi kotak. Dengan bahan kimia yang "ramah terhadap manusia", maka korek api "jres" kondang dengan nama "Safety Match" sebab tidak menggunakan ramuan dari racun yang berbahaya. Yang saya kurang jelas mengapa di Negeri Tumpah Darah Empek-empek yaitu "Palembang" barang ini disebut "kosetan."

Penemuan korek api ini sangat menggemparkan di Hindia Olanda, sebab sudah ditemukan benda yang bisa mengeluarkan api tetapi mudah digembol (dibawa) kemana-mana, tidak perlu diisi bensin, tidak perlu diganti batu pemantiknya. Sekali pakai langsung buang. Pendeknya membuat hidup terasa semakin hidup. Emang iklan.

Kemajuan teknologi ini diendus oleh pemerintah Belanda. Mereka menyinyalir aliran uang tapi, kalau 100 tahun kemudian dinegeri sama langsung mengendus "fatwa" dan bikin "label" - kalau kata "paranoid" terlalu vulgar. Akibatnya Gubernemen langsung tancap gas menetapkan pajak yang bisa menguntungkan Kumpeni. Aturannya dituangkan dalam Staatsblad tanggal 3 Januari 1900, misalnya korek api bervolume 50 centimeter kubik akan dikenai biaya 70 sen tiap grossnya.

Pedagang Betawi yang umumnya orang Keturunan, langsung putar otak untuk mencari lubang keluar. Caranya korek dibikin lebih pendek sehingga memuat lebih banyak. Kalau semula dalam kotak lama berisi 60 geretan, sekarang diakali (diperpendek) sehingga muat sampai 170 batang. Pikir-pikir buat apa membuat korek dengan batang panjang toh yang diperlukan adalah lidah api dari pentolnya. Lama kelamaan Gubernemen Hindia Olanda merasakan bahwa pajak dari geretan menurun tajam, maka mereka mengeluarkan lagi Staatsblad 27 Februari 1900 yang isinya perhitungan biaya masuk terhitung dari ukuran kotak. Maksudnya, tidak perduli isinya 170 batang atau 60
batang, maka pajak korek juga dilihat dari besar kotak. Rupanya Belanda kerepotan mengurus korek api ini. Dan sekaligus mencerminkan bahwa orang Belanda memang selain pukimak juga cukimai dalam soal memijit pajak.

12 Aug 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com