Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Kopi "Civet"

Sebagai penggathok (pehobby berat) kopi, saya suka menyicipi jenis kopi yang dijual dipasaran termasuk kopi yang bukan kopi alias kopicino (Kapucino). Atau kopi Vietnam yang dituangkan perlahan kedalam gelas berisikan potongan es batu.

Kebetulan ada situs internet menawarkan kopi yang namanya unik, Civet Coffee. Dikatakan bahwa bukan manusia yang memilih Civet Coffe melainkan "paradoxurus hermaphroditis," belum selesai menyoba mengartikan kata-kata di atas, nama pemetik kopi dijelaskan lagi sebagai "Common Palm Civet Cat". Cuma harganya bukan alang kepalang mahalnya. Bayangkan Rp. 400.000 untuk bubuk hitam siap tubruk seberat 50 gram. Hampir mendekati harga mariyuana yang banyak dijual orang Nigeria yang datang ke sambil berniaga ganja meniduri perempuan Indoensia

Kopi apaan ini.

Ketika saya klik sejarahnya, ternyata Civet adalah binatang rubah yang kalau malam hari menjarah biji-biji kopi hanya yang paling matang. Persis legenda kopi luwak yang saya dengar dari kecil. Binatang yang mereka sebut Civet ini konon banyak terdapat di kebun kopi Sumatra. Biji kopi yang ranum dan masak-puun (matang di pohon), langsung di glek saja. Ternyata enzim dalam perut luwak hanya memproses kulit luar biji kopi sementara bagian dalamnya tidak tersentuh.

Setelah beberapa waktu mengalami fermentasi di perut Civet alias Luwak, maka biji yang telah membatu tadi keluar beserta kotorannya. Sialnya
gambar Luwak sedang berak lalu kotorannya ditampung sambil bunyi tung, tung diperlihatkan secara animasi. Dan kepulan kotoran bermetamorfosa menjadi segelas kopi kepul-kepul. Keberadaan kopi luwak bagi sementara orang dianggap dagelan, yang diceritakan sambil geleng-geleng kepala. Dan si pendongeng bakal geleng lebih hebat kalau tahu di Sumatera orang memproses kopi dari perut goodyear. Maksudnya kopi dijemur di separuh badan jalan tapi kalau dilindas ban motor mereka teriak-teriak sumpah serapah. Bagi sementara petani, Luwak dianggap hama, sekaligus teman baik petani kopi. Apalagi konon binatang yang suka bersarang di pohon aren ini selalu "ee" ditempat yang sama sehingga kotorannya bisa dengan mudah dikumpulkan. Agak Jijay-Bajay memang, namun ternyata dengan harga mendekati setengah juta rupiah per 50 gram, jelas bukan kopi biasa. Kata yang pernah merasakan seduhan bubuk kopi bekas perut luwak aromanya seperti mocca dan rasa pahit yang setelah menenggak kopi ini sama sekali hilang.

Sementara di Indonesia sendiri, kopi luwak masih sebatas legenda atau nama warung kopi Robusta di Citra Land. Orang Inggris malahan sudah memperoleh keuntungan darinya. Apalagi iklannya bilang, setahun kami cuma mampu menyediakan 50 kilogram kopi yang harumnya luar biasa ini. Itu juga bukan jaminan tiap tahun selalu stok. Di Vietnam, kopi luak ditawarkan sebagai "Weasel Coffee" - malahan manfaatnya bagi pria bisa bikit cepat terkokang. Mungkin menyoba mempengaruhi peminat kopi yang kadung bilang kopi dari Indonesia jauh lebih greng. Tahu sendiri, bau kelenjar yang ditimbulkan Luwak jantan saja bisa memanggil luwak betina dari kejauhan, bisa mengelabuhi ayam-ayam muda yang belum berpengalaman.

Pokoknya "Buruan Deh Cium Gua" - aroma kopi Luwak.
"Dan dada ini kubusungkan,"
Mimbar Bambang Saputro
16/1/05

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com