Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 12, 2006

Keur Master

Belum lama ini seorang penduduk gang Torong diajukan ke pengadilan polisi "rooi," pasalnya ia dipergoki oleh pengawas tata kota "rooimeester" sedang memperbaiki wuwungan (bubungan) atap rumahnya yang bocor karena kehujanan (Oktober 1903 Betawi musim penghujan). Seabad lalu, urusan remeh-temeh seperti memperbaiki rumah bukan perkara mudah. Ada aturan mengenai genting yang dipakai, balok, kaso, kayu reng, semuanya sudah standar. Menyalahi prosedur bisa-bisa jadi "orang-rante".

Sering kan mendengar istilah "kendaraannya perlu di kir (keur), agar laik pakai..." bahkan seorang penderita sakit tidak jarang menanyakan harga obat untuk satu kir maksudnya obat yang harus dihabiskan sampai ia bertandang ke tempat dokter sebelum dilakukan pemeriksaan lanjut. Ternyata bukan soal kendaraan saja yang harus di keur, urusan rumah juga peraturan pemerintah gubernemen sangat ketat. Peraturan ini mengacu kepada statuta van Diemen tahun 1642 yang membuat tiga departemen. Rooimeester bertanggung jawab mengatur urusan membangun rumah, pendeknya urusan dengan tata kota. Lalu ada waag-meester yang bertugas menguji timbangan dan yang terakhir adalah keur-meester yang tugasnya meneliti ukuran kayu, ukuran genting, panjang paku yang dipakai. Akibat ketatnya peraturan, maka bagi warga yang kebelet ingin bangun rumah terpaksa harus "perlip mata" dengan para meester tersebut yang sering dikenal dengan nama uang "smeer."

Gang Torong adalah nama sebuah kawasan di Betawi. Nama ini asal mulanya karena disana rumah penduduk yang memiliki teropong Bintang yang besar. Lantaran bentuk teropong ini kalau dari kejauhan seperti "corong" alias toren. Maka jalan didaerah tersebut dinamakan gang Torong. Walaupun rumah teropong tersebut sudah tiada lagi tetapi sampai sekarang nama gang Torong masih ada.

Salah satu aturan adalah rumah yang dibangun dari bahan mudah terbakar harus berjarak 5 meter dari rumah yang lain. Alasan lain mempermudah pembersihan daerah tempat sarang nyamuk. Akibat aturan ini koran Pembrita Betawi menulis "kalau orang miskin cuma punya uang untuk beli tanah 12 meter persegi, lantas diambil 5 meter, apakah ini tidak lebih pantas disebut liang lahat daripada sebuah roema?"

Mimbar Seputro
0811806549
Friday, November 14, 2003 12509

"Luck is what happens when preparation meets opportunity"

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com