Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 06, 2006

Ketika harus masuk ke RS Yayasan Kanker Dharmais

Date: Tue Mar 12, 2002 3:19 pm

Februari 2002 lalu istri saya di rawat selama dua minggu di RS Pelni. Sudah banjir dimana-mana kok ya pakai orang terkasih sakit. Lha terpaksa cari makan di Rumah Sakit, dan Cuci Baju di tempat yang sama. Pemandangan RS Pelni jadi kotor karena memang selain menampung orang sakit, mereka juga menampung korban banjir terutama wanita dan anak-anak.

Sudah berkali-kali contoh darah diambil, USG, dan pelbagai test dilakukan, diagnosanya dari demam berdarah, tiphus, para tipus, Gobin Johnson (bukan merek obat nyamuk atau baby oil) dan ini memang merepotkan apa nama resmi penyakit yang menimbulkan panas sampai 40 derajat selama hampir 2 bulan (sebelum masuk RS), masih misteri.

Saya jadi senyum kecut sewaktu membaca koran yang memberitakan Miing (Dedi Gumelar) sakit di bawa ke RS Yadika di ponis kandung kemih, infeksi dsb. Waktu di bawa ke RS lain, eh katanya demam berdarah.

Mungkin kemajuan kedokteran saat ini adalah model "biore", semua penyakit didiagnosa sekaligus. Atau masih ikut pepatah lama, kepala sama hitam (tapi ada yang botak), pendapat berbeda-beda.

Suatu pagi bulan Maret 2002 ini Erni, istri saya mengeluh payudara kanan terasa membengkak. Disenggol sedikit, nyeri katanya, padahal malemnya diuyel-uyel kok ndak apa-apa. Kalau skala "rough" itu 1-10, semalam paling saya masuk skala 3, ndak kasar, tapi juga nggak lembut-lembut amat.

Saya pernah menemukan benjolan serupa, tetapi cuma kost sehari lantas pergi. Lha tamu yang tak diundang ini kok makin hari makin seneng netep atau netek disitu. Dia juga mengeluh dari bahu sampai lengannya linu. Jadi kalau salah satu titik pada bahu tadi saya beri tekanan ringan yang tidak sampai membunuh laba-laba dari Nganjuk sekalipun, dia kesakitan.

Saya nggak mau ambil resiko kali ini, lalu kami putuskan ke RS Harapan Kita yang jauhnya cuma sepenggal galah. Di RS yang di buat oleh Ibu Tien, dan sedang di renovasi setelah menjadi RS Perjan ini para juru rawat (atau juru tunggu) kebingungan ketika kami bertanya "dimana tempat untuk periksa mamae, yaitu mamografi." Atau dikiranya saya cari pabrik pembuat minyak Mamo Oil yang diiklan harganya CengGo.
"Ah, setahu kami bukan disini, melainkan RS Kanker Dharmais."

"Brrrrrr", Yayasan Kanker Dharmais ? bukankah orang yang masuk situ berarti terminal ?, sudah hampir dua puluh tahun meliwati lokasi yang terletak di S-Parman, mulai dari tanah lapang, jadi pertokoan, sampai oleh Ibu Tien (lagi) dijadikan RS khusus Kanker, rasa-rasanya kalau lewat situ, hati kecil bilang "amit-amit, itu sih bukan jatah gue".

Tapi keadaan kali ini berbeda.

Berhubung RSKD yang dimaksud letaknya cuma disisi RS Harapan Kita, maka dengan mudah kami memutar dan masuk halaman RSK Darmais. Saya lihat wajah Erni kelihatan tegang, melihat sosok rumah sakit yang bercat cokelat. Diluar ada dua petugas berpakaian ala portier hotel.
Tapi belum mampu mengurangi ketegangan. Tidak ada staf RS disini yang ketus. Semuanya bisa dibilang ramah.

Kami mendaftarkan diri,dapat urutan 44, untuk bertemu dengan dokter Sucipto, langsung dia mengatakan 67% wanita Indonesia mengidap benjolan payudara (pd) dan hanya sedikit yang membuang waktu (dan uang) untuk memeriksakan secara dini "Pemeriksaan Dini".

Banyak wanita hanya sibuk PS (Papsmir), tetapi lupa memeriksakan pd-nya.

"Di Amrik dan Belanda, adalah suatu keharusan bagi wanita 30 tahun untuk memeriksa mamo." itu kata dr. Sucipto yang mengaku pernah kerja di Rig Pengeboran Triden 16 dan 17 di Laut Jawa.

Nggak tau kenapa dr. Sucipto banyak betul ceritanya, saya singkat saja demikian.

Kanker itu seperti deretan mobil yang berusaha masuk kedalam Jalan Tol. Ketika sudah beli karcis tol, itulah manifestasi keberadaannya. Kalau didiamkan dijalan tol, dia akan melakukan pembiakan. Dengan deteksi dini, diharapkan calon kanker sudah dikenali keberadaannya sejak dia masih antri macet di jalan umum, untuk di "cutoff" - jadi diperlukan dokter ahli yang mempunya visi "One Step Ahead". Kalau orang pabum visinya "Full Steam Ahead".

"Dokter yang tidak tajam kemampuan dalam deteksi kanker biasanya adem ayem ketika melihat ada massa yang jinak, padahal jinak apalagi ganas jangan pernah diberi kesempatan." katanya setengah promosi. Lebih lanjut Sucipto mengatakan, tahap kanker antri di jalur padat merayap, namanya "inisiasi", ketika sudah muncul massa (kista), ini namanya tahap "promosi", dan kalau sudah betah berkembang biak namanya
"proliferasi". Contoh bagaimana hasil scan Mamo nampak seperti terlampir, titik terang benderang di bawah puting, adalah sang biang kerok. Level ini dinamakan "promosi", dia baru beli tiket di jalan tol. Syarat untuk pemeriksaan mamo, harus 10 hari setelah menstruasi.

Bagaimana dengan yang PRIA?

Yang pria, diatas 40 kalau sudah ada keluhan sering kencing malam-malam, pegal-pegal di bokong, atau ejakulasi (bukan dini) diikuti rasa sedikit tidak enak, agak pedih, itu sebaiknya dilakukan pemeriksaan dini Porstex eh prostat.

Bagi anda yang "hanya ingin tahu", maka ada rumusnya. Pertama adakah dari keluarga dekat, orang tua yang punya sejarah mengidap Kanker, atau perokok berat (20 batang sehari). Maka tidak ada salahnya untuk memeriksakan mamo (perempuan) dan prostat (lelaki).

Berapa biayanya? bisa pakai kartu Kredit ?

Kartu Citibank diterima dengan sukacita disini.
Saya mencatat ongkos Uji Kesehatan dan Deteksi DINI Kanker"

Paket dini

Standar 525 k
Full Wanita 1600 k - general checkup
Full Pria 1750 k - lha ini general chekup tetapi agak diarahkan ke
deteksi dini kanker.



Pretelan

Prostat 325 k
Payudara 165 k
Kolorektal 500 k (dari mulut sampai dubur)
Hati 410 k
Leher rahim - servik - diperiksa bidan 30k kalau dokter 50 k

Nah tinggal mana yang berkenan.
Terlampir contoh foto payudara yang terkena benjolan dilihat dari mamografi

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com