Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 07, 2006

Ketika harus berhubungan dengan harta karun VOC

Date: Thu Sep 5, 2002 3:06 am

Saya ndak tahu asal muasalnya kata Karun ini kecuali guru ngaji saya dulu pernah mendongeng bahwa ada seseorang bernama Qarun yang sangat kaya raya, tetapi melupakan tuhannya sehingga di azab oleh Tuhan sampai hartanya tenggelam. Sekalipun masih kecil, tentunya sudah terbersit pikiran alangkah enaknya kalau saya nanti menemukan harta tenggelam tersebut.

Dari Filipina saya pernah mendengar dongeng serupa yaitu Yamashita's Gold yang kisahnya adalah Jendral Yamashita yang hobinya mengumpulkan emas. Lalu ketika Jepang bertekuk lutut dikeroyok bangsa lain sedunia, masih dibonusi di bom atom, maka Jendral Yamashita buru-buru kembali ke negerinya dan meninggalkan emas yang berceceran. Katanya seantero pulau Luzon di gali pencari harta karus sampai dedel duwel persis seperti penampang tulang belakang yang kekurangan kalsium. Bolong sana bolong sini dan juga Yamashita s Gold masih misteri, kecuali oleh George Lucas yang cerita harta karun diolah menjadi cerita dan diangkat ke layar perak, jadilah harta emas dari hasil penjualan filemnya.

Suatu hari saya kedatangan 3 lelaki, beberapa diantaranya bersenjata pistol yang diselipkan dipinggangnya. "Miem kalau kamu mau ganti mobilmu yang tua itu, siang ini kamu beli." Kata seseorang yang ternyata "saudara" saya sendiri. Rupa-rupanya mereka mengaku baru mendapatkan emas putih peninggalan VOC.

Saya didatangi karena saya dianggap sedikit tahu ilmu geologi. Pintu depan digembok, lalu seseorang berjaga-jaga didepan dengan Revolver terkokang, klotak....

Didalam kamar yang hening, karena napas semua tertahan, benda berbungkus kain flanel kumel dibuka dan memang nampak batangan logam bersinar keperakan dengan stempel gravir VOC. Tulisannya persis kalau anda baca bentuk prasasti di museum belanda. Tulisan dengan ujung meruncing memang gaya VOC. Dokumen yang menyertai benda ini adalah kertas yang di ketik dengan tulisan disamar-samarkan, kertasnya dibuat lecek biar kelihatan antik dan dalam bahasa belanda yang mengatakan ini adalah harta VOC.

Orang geologi biasanya menguji kekerasan suatu logam dengan mengguratkan benda tertentu kepada logam tersebut. Mula-mula saya tak diijinkan memegangnya, apa lagi mengguratnya. Tapi saya bilang, inilah cara untuk mengujinya seperti yang diajarkan asisten pelajaran Petrologi di Yogya dulu.

Sretttt, pisau yang biasa saya kantongi ternyata kalah keras dengan benda ini. (sekarang bawa pisau ini bakalan dapat masalah dengan security Bandara) Kalau tak silap perilaku perak atau platina tidak demikian. Lalu saya timang-timang dan kesimpulan saya ini adalah "stainless steel" karena kalau dilihat-lihat kok seperti Monel Drill Collar (nama sebuah pipa bor perminyakan yang sangat berat).

Tiga orang tadi nampak tidak percaya, lalu siang itu juga setelah sarapan pagi mereka pamit ke pasar Senen untuk menguji sekaligus menjual batangan emas putih.

"Pokoknya siang ini kalau "tembus", Mazda Interplay-mu dijual dan ganti yang baru ya...Ini janji lelaki."

Biar saya bukan Megawati atau Said Agil apalagi kalau dengan nol rupiah diimingi bisa dapet mobil baru, siapa nggak ngiler ngeces. Paling rugi sarapan 3 piring.

Tapi, sore hari, mereka datang

Tentunya dengan wajah ditekuk.

"Baja Putih" kata seorang pemimpinnya. Sial bener..

Terus, terus, kemana cerita barang sitaan Jepang dari VOC yang dikubur dibawah parit irigasi di Metro (nama suatu daerah di Lampung), didahului dengan adanya impen-impen (mimpi orang tua berjanggut), cerita peta yang terbuat dari Kulit Kambing yang hanya bisa keluar gambarnya kalau dimasukkan ember berisi air?

OAlah Jagad Pramuditya ternyata merealisasikan mimpi dengan kenyataan masih merupakan hal-hal mustahil. Lalu saya berteori, mungkin saja emas putih tadi aseli tapi syaratnya kalau dipegang orang dengan basic geologi bakal berubah jadi stainless steel?- daripada cari kambing hitam jauh-jauh.

Sore itu juga mereka bertiga pamit pulang ke Lampung, hilang sudah impian jadi kaya mendadak. Saya juga rada gelo (kuciwa) mau ganti Interplay terpaksa urung....
Cerita harta karun masih ada lagi, tapi nyambung nanti.....

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com