Kendaraan Dinas para Aamtenar

Date: Tue Oct 26, 2004 12:40 pm

Hidayat Nurwahid menolak Volvo sebagai kendaraan Dinas sebagai kendaraan wakil rakyat, demikian kata koran Ibukota terbitan Oktober 2004. Sementara Ketua DPR bilang "EGEPE" bukankah sudah jatahnya memang Volvo.

Tahun 1903, Toewan van Blommestein, seperti biasa pagi itu dengan setelah jas putih-putih berangkat menuju tempat kerjanya. Rupanya ini hari ia banyak agenda pertemuan dibeberapa tempat sehingga kendaraannya ia perenta kepada itu sopir agar pacu kendraan cepat-cepat lantaran ingin segra sampe ditujuan. Apalagi maraknya kejahatan membuat peradilan sibuk mengadili penjahat yang ditangkap polisi. Saat supir menarik rem sambil mulutnya berdecak-decak dan kendaraan belum berhenti sempurna, Toewan Blommestein sudah turun, namun malang saku jasnya "nggelibet" dipegangan kendaraan sehingga tidak ayal lagi tubuhnya yang tingi besar jatoh bebas sampai ia tertelentang kesakitan di jalan berbatu untuk beberapa lama. Sewaktu ditolong, salah satu lengannya patah. Segera ia dibawa ke RS di Weltevreden, dan sewaktu berita naik cetak "Bintang Betawi" dikabarkan kondisinya "agak baekan sedikit"

Blommestein belum genap sebulan dilantik sebagai Presiden (Ketua) Landraad. Ia menggantikan pejabat lama van Maareseveen yang memasuki masa pensiun bukan lantaran "gething" atau kata mas Bob Wikan "BeTe" Bad Temperament merasa organisasinya yang terkenal ketat diobok-obok tetapi memang usah melewati masa pakai. van Blommestein memang dikenal pembesar rajin. Pagi pagi dia sudah menuju kantor dan pulang ketika semua penggawe pulang. Sialnya akibat rajinnya ia bekerja, malah berakhir dengan "bedresten" selama beberapa minggu di RS Weltevreden.

KENDARAAN SUPER MEWAH

Para pembesar Kompeni memang mendapat kendaraan dinas super mewah berupa "Dos-A-Dos" yang kini dikenal sebagai Sado, sebuah kendaraan beroda dua yang dihela oleh seekor kuda. Tetapi sebagian menggerutu akibat para ambtenaar harus bayar belasting (pajak) doa-a-dos, kendati menurut statsblaad 1878, biayanya cuma delapan gulden pertahun. Untuk mengantisipasi semrawutnya kendaraan di jalan raya Ibukota yang berbatu, kumpeni mengeluarkan peraturan tambahan.

Pemilik sado ke-2 akan mendapat belasting makin mahal. Para ambtenaar lalu melobi pemerintah Belanda sehingga dikeluarkan peraturan bahwa pada tahun berikutnya 1904, kendaraan dinas dan pribadi milik para Ambtenaar dibebaskan dari keharusan bayar pajak.

Menilik gaji para penggede yang sudah ultra tinggi (lihat saja harta peninggalannya sekarang berupa gedung dan tanah luas, tapi nyeringis bayar pajak 8 gulden tahun,) maka tak salah koran Bintang Betawi mengomentari secara sinis "Sangat adil sekali ini aturan..."

Apalagi kalau bukan yang kaya tambah Konglomerat, yang miskin makin melarat.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe