Kejapanan dan Tiang Pancang (masih Inul)

Semalam saya nonton pagelaran Inul ulangan (PLUS), karena yang kedua ini TransTV menayangkan bagaimana persiapan dilakukan oleh crew transTV untuk mengudak-udak Inul sampai jam 4 pagi. Nampaknya susah juga merayu Inoel yang sudah "mbegegek" mutung tidak mau muncul di layar TV. Seperti pada tontonan yang pertama, saya menyaksikannya dengan bibir kering tapi mata basah. Entah mengapa empati saya begitu kuat kepada Inoel ini. Inul tidak lepas dari asalnya yaitu Kejapanan, Pasuruan - ternyata Kejapanan menyimpan satu cerita sukses dari sebuah perusahaan Konstruksi melawan sebuah kemapanan. Informasi ini disampaikan secara lisan kepada saya yang pernah bekerja pada perusahaan jasa konstruksi.

Dulu, perusahaan konstruksi untuk tiang -pancang selalu menggunakan konstruksi baja. Saya masih ingat bagaimana pilar-lipar jembatan Musi di Palembang yang dibuat dengan membentuk semacam bendungan dari besi. Sebuah perusahaan Konstruksi mendapat pekerjaan membuat turap yaitu galangan di pelabuhan Tanjung Perak untuk menghalangi serbuan ombak yang mengikis pantai Tanjung Perak. Biasanya batangan baja ditumbuk keperut bumi dengan ancer-ancer sampai memasuki bagian yang tanah padat. Misalnya 150 hpf (hammer per feet), jadi kalau sudah digenjot 150 kali belum semilipun masuk, maka dianggap pekerjaan sudah selesai.

Kesulitan berhadapan dengan air laut adalah kemampuan korosi air garam terhadap besi. Lalu pertanyaannya berapa lama turap "besi" bisa bertahan?

Salah seorang karyawan PT Wikan mengusulkan pembuatan turap dari beton agar lebih tahan terhadap air garam. Ide memang bening, tetapi caranya bagaimana ?

Budiono (setengah betul) nama karyawan, yang aneh tadi lalu mendapat cemoohan. Kalau besi saja keok, apalagi semen? seberapa kuat sih semen tahan terhadap tumbukan mesin. Sama dengan pendapat kalau bekerja di kantor saja penghasilannya P5 (pergi pagi pulang petang penghasilan pas), apalagi mau wiraswasta.

Lalu Budiono mereken 150 kali pukulan baru betonnya pecah, sementara sang skeptis mematok angka 15 pukulan saja sudah terlalu tinggi. Untuk memeriahkan" acara tadi, maka mereka bertaruh dengan gaji sebulan. Ini dia, sekalipun menurut ABRI (anak buah roma irama), judi itu dilarang dan dosa, tetapi bangsa kita paling pinter "ngeles" dengan alasan lho ini kan cuma biar acara menjadi lebih GUMBIRA. Apalagi acara Sepak Bola, yang lebih seru adalah taruhannya alias perjudiannya eh salah "ke GUMBIRAANNYA." Dimata mereka Tuhan bisa diakali dengan permainan kata-kata. Upssssss. Mohon maaf kebablasan, ini diluar koridor.

Hari "H" yang ditentukan, sebuah tiang pancang terbuat dari beton dengan anyaman kawat baja pra-tekan mulai dipasang dan ditumbuk. {duer..duer..duer ..}Ternyata beton tersebut tahan dihajar 150 kali pukulan. Hilang sudah mitos selama ini yang mengatakan beton itu pantesnya buat bikin duk, bukan untuk tiang pancang

Sejak itu orang berangsur-angsur pindah dari konstruksi tiang pancang baja ke tiang pancang beton. Dan pengikutnya mengembangkan diri sampai ke tiang listrikpun menggunakan campuran beton.

Kalau anda melewati daerah seperti Pasar Minggu, Kuningan, Pancoran maka akan anda temui pekerjaan fly-over yang targetnya 3 kali lebih lama dari Darurat Militer Aceh. Anda lihat pipa beton seperti pensil (tapi yang sangat raksasa), dan itu hasil dari pemikiran seorang pribumi yang mungkin saya tidak pernah tahu kalau tidak diceritakan secara lisan. Hebatnya lagi, ide itu muncul dari daerah kecil bernama Kejapanan, Pasuruan tempat Inul dibesarkan.

Ah Inoel lagi... namanya juga fans berat, apa saja dihubung-hubungkan.


Date: Thu Jun 12, 2003 2:38 pm
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe