Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 09, 2006

Kecerdasan sang Kris Dayanti

Senin malam 24/3/03 saya di SMS oleh seseorang mengaku FBI, katanya "Inul di KD Show malam ini". Untuk catatan FBI ini bukan kumpulan bule yang potret sana sini di Kuta tempohari. FBI singkatan bahasa gaul dari Fans Berat Inul, serupalah dengan FPI (Front Pembela Inul).

Dengan cerdas Kris mengemas acaranya yang dibuka bersama Siti Nurzaliha Cindai". Dan nama Inul tidak disebut sama sekali, sampai-sampai geregetan saya menontonnya. Dan ketika Inul mulai muncul dari bawah panggung, suara tepukan membahana. Ini disadari benar oleh Kris Dayanti.

Pada sebuah media ia mengaku "gatek" komputer, prestasi sekolahnya biasa-biasa saja sehingga publik cenderung mengatakan Kris tidak pandai. Bayangkan dengan Peter Sahanggamu yang memenangkan olimpiade Fisika Internasional, ia diberi stigma sebagai cerdas sebab memang nilai matematika disekolahnya tinggi.

Kita sebagai orang tua masih merasa nyaman kalau anak mendapatkan nilai olah raga 5, atau mata pelajaran hapalan lainnya asalkan matematikanya dapan ponten" sembilan, maka sianak dianggap bukan anak bermasalah. Beda kalau matematika 5, olahraga 9, bisa seperti kebakaran jenggot barangkali reaksinya. Pendapat seperti ini kelihatannya harus dibenahi...

Adalah Harvard University yang melakukan penelitian dibawah Howard Gardner pada 1983 menyimpulkan bahwa kecerdasan itu macem-macem. Ada langit dengan 7 lapisan, ada juga kecerdasan dengan 7 karakter yangberbeda. Ada cerdas linguistik, matematis, spasial, musikal, kinestetikal, interpersonal dan intrapersonal. Seseorang cerdas intra-personal dianggap cakap menjadi filosof. Syukur kalau punya ke 7-nya.

Kris Dayanti yang gatek komputer, adalah contoh cerdas musikal. Bukan itu saja, ia juga cerdas inter-personal sehingga bisa berhubungan dengan pengusaha (mencari sponsor), wartawan (publikasi), dan publik. Yang disaksikan tadi malam adalah kecerdasan Kris Dayanti ketika Inul muncul bersamanya. Dengan cerdas ia berjongkok didepan Inul sambil menggerakkan kepalanya mengikuti pusingan sang ratu bokong.

Apalagi ia memuji Inul sebagai satu-satunya penyanyi yang dimasukkan laporan dalam majalah TIME.

Cerdas penggemar telur dadar yang lain adalah cerdas kinestetikal sehingga ia selalu tampil menarik dipanggung dan dikamera. Lihat banyak "diva" lain ngeplek meniru gayanya.

Sayangnya, pendidikan formal kita belum tergerak untuk melihat 7 cerdas tadi "Kualitas sekolah yang memperhatikan 7 cerdas tadi masih sangat sedikit, ini paling menyedihkan," ujar Winarini dari psikologi pengembangan UI. Singkatnya anak-anak disekolah hanya diberikan materi yang sifatnya pengulangan dan jarang yang mengasah bakatnya.

Psikolog Seto Mulyadi berpendapat, sekolah seharusnya menerapkan kurikulum berbasis kompetensi minat dan bakat anak. Jadi, sekolah bukan merupakan beban.

Lantas bagaimana ini, banyak orangtuanya marah ketika anaknya main gitar, dan bukan belajar matematika. "Mau jadi pengamen apa... jadi Sarjana saja banyak yang nganggur."
Lha justru sarjana banyak yang menganggur, bukannya dikurangi malahan di tambahi calon pengangguran. Bangkitkan motivasi anak, baru diberi bimbingan misalnya ikut les gitar, piano, tari dsb...

Kan tidak selalu harus matematika...
25 Maret 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com