Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 13, 2006

Kayu dalam Perkerisan

Date: Thu Feb 19, 2004 8:57 am 12908

Kayu Dalam Perkerisan
Oleh Stanley Hendrawijaya, pengamat Keris tinggal di Bogor.

Dalam proses penyusunan Ensiklopedi Keris ini beberapa kali mas Bambang(Harsrinuksmo) dan saya sempat berdiskusi secara intensif tentang peran kayu dalam dunia perkerisan. Mas Bambang mempunyai perhatian yang cukup besar terhadap jenis-jenis kayu, baik yang telah dikenal secara umum maupun yang belum. Hal ini sebenarnya berkaitan erat dengan perhatian dan concern Mas Bambang (Harsrinuksmo) terhadap teman-temannya para perajin perabot dan kehidupan serta keberadaan mereka yang kurang dikenal orang dibanding dengan para empu dan orang-orang yang terlibat langsung dalam pembuatan bilah keris karena lebih sering disorot oleh mass media.

Kita semua tahu bahwa "wilah ligan" (bilah telanjang) - betapa pun bagusnya - kurang enak dipandang atau dipegang di tangan. Terasa kurang lengkap. Wilah saja tanpa "warangkal/perabot" tidak akan disebut keris, apalagi warangka tanpa wilah.

Keris baru akan menjadi karya teknis yang lengkap bila disertai dengan perabot-nya. Perabot berarti kelengkapan, terdiri dari warangka, jejeran, mendhak, selut dan pendhok.

Bilah keris yang bagus biasanya diberi perabot yang bagus juga. Tetapi bila perabotnya bagus, belum tentu bilah kerisnya bagus. Keris dengan bilah tersarung hanya terlihat perabotnya saja. Sebaiknya diusahakan agar perabot keris bagus, karena bilah yang kurang baguspun akan "terdongkrak" dengan perabot bagus. Kalau bilah jelek, dan perabotpun tidak bagus, apanya yang enak dilihat.

*****

Dari semua perabot keris, yang dominan dan berperan besar adalah jejeran dan warangka. Keduanya umumnya dibuat dari kayu, meskipun ada juga bahan-bahan lain yang dapat digunakan sebagai pengganti kayu pada jejeran, seperti tulang, gading, tanduk, logam dan lain-lainnya. Bahan warangka hampir selalu kayu. Sebagai bahan warangka, persyaratan yang harus dipenuhi berbeda dengan persyaratan untuk pembuatan jejeran.

Persyaratan bahan warangka lebih dititikberatkan pada penampilan estetisnya, yaitu keindahan urat kayu (woodgrain), sedangkan persyaratan untuk jejeran lebih bersifat teknis. Kayu harus kuat, keras, padat, kering, dapat dikerjakan dengan baik, selain kaidah-kaidah estetisnya (bertekstur halus, berurat indah, warna).

KUAT, untuk menjamin bahwa jejeran dapat menggenggam pesi dengan baik agar tidak terlepas dan mengakibatkan bilah keris jatuh saat tidak disarungkan. Dan tidak pecah saat pesi dipasangkan.

KERAS, untuk mencegah terjadinya kerusakan mekanis (mechanical damage) seperti aus, somplak, gores, patah dan sebagainya. Hal ini sering terjadi pada warangka ladrang/branggah karena memiliki bidang-bidang melengkung (angkup), juga lebar dan tipis (godhong).

PADAT, juga identis dengan berat. Kepadatan (density) kayu yang baik untuk jejeran minimal adalah 600 kg/m3 untuk kepadatan kayu kelas II. Kayu kelas I memiliki berat jenis 900-1.200 kg/m3. Kemuning (Murraya paniculata) memiliki kepadatan 1.100 kg/m3, bertekstur sangat halus, dan merupakan salah satu kayu tropis yang terpadat. Jejeran yang berat akan dapat memberikan keseimbangan (balance) yang lebih baik di tangan saat memegang bilah.

WARNA, juga memegang peran yang penting. Untuk mencapai keseimbangan estesis bidang yang kecil harus lebih berat bobotnya dibandingkan luas. Jejeran bidangnya kecil dibanding warangka, sehingga akan lebih "berimbang" bila warnanyapun lebih tua dari pada kayu warangka. Kayu-kayu yang baik tetapi berwarna terang terpaksa agak digelapkan dengan dicencem (direndam) dalam ramu-ramuan dari berbagai tanaman seperti sumba keling, pacar kuku (hena), pacar banyu, gambir, soga, teh dll.

TEKSTUR HALUS DAN KEPADATAN, Penting untuk mendapatkan permukaan yang halus dan licin, sehingga dapat tampil mengkilap setelah dipoles (digebek). Pori-pori kayu di permukaan dapat dibandingkan dengan bopeng di wajah seseorang, makin banyak makin jelek karena permukaan menjadi tidak rata. Penebangan kayu di musim kemarau disertai proses pengeringan yang benar akan menghasilkan jejeran yang lebih kering daripada penebangan di musim hujan sehingga tidak terjadi deformasi. Kayu yang tumbuh di
tempat yang lebih kering juga menghasilkan jejeran yang lebih padat dan mengkilat daripada pohon serupa yang tumbuh di tepi sungai. Sedangkan arah serat kayu yang lurus dan teratur berpengaruh pada workability. Kayu berserat muyeg (kayu akar/burl), kayu yang ngidhen, kayu yang berwerut) lebih sulit dikerjakan dan dihaluskan dari yang berserat lurus. Jenis-jenis kayu lokal yang secara teoritis memenuhi persyaratan kepadatan kelas I dan tekstur yang sangat halus untuk jejeran a.l. tanjung (Mimusops elengi), klengkeng (Dimocarpus longan), bisbul (Diospyros blancoi), sentigi (Pemphis acidula), mentaos (Drypetes ovalis), sawo kecik (Manikara kauki), sawo manila (Manilkara zapota), kemuning (Murraya paniculata), kemuning alas (Merrilia caloxylon), nagasari (Mesua ferrea), trenggulun (Protium javanicum), kayu balung (Canthium glabrum), kesemek (Diospyros hasseltii), kledung (Diospyros malabarica), nani (Xanthostemon verus), kayu wesen (Dodonaca viscosa). Belum semuanya pernah saya buat.

Makin banyak syarat dipenuhi -idealnya semua- makin baik mutu jejeran. Namun di samping itu ada faktor-faktor lain yang harus diperhatikan seperti tempat tumbuh pohon, proses pengeringan, timing penebangan, kandungan resin dalam kayu dll, karena mempengaruhi mutu finished productnya.

Tidak semua kayu padat dapat tampil mengkilap. Beberapa jenis seperti ebony Diaspyros celebica) mengandung resin yang menyebabkan kayu tetap kusam bila di gebeg.

Kemuning dan jenis hardwood yang lain sangat rawan pecah bila tidak ditangani dengan benar mulai dari saat penebangan. Sebaiknya bidang-bidang potongan dilumasi permukaannya dengan lilin untuk menghindari penguapan yang berlebihan dan mengakibatkan kayu pecah. Atau diteres seperti pada pemotongan pohon jati dengan memotong kulit kayu berkeliling pangkal batang supaya supply makanan dan air dari akar terhenti dan pohon dibiarkan mengering perlahan-lahan selama 6-12 bulan baru ditebang. Meniru kematian pohon yang alami.

Pernah seorang mranggi ukiran menceritakan pengalamannya, bahwa ia berhasil mendapatkan pohon kemuning berbatang sebesar paha orang dewasa dari lereng Gunung Merapi didekat tempatnya tinggal dengan biaya cukup tinggi, namun hanya menghasilkan beberapa jejeran karena kayunya banyak retak dan pecah akibat proses pengeringan yang terlalu cepat saat G. Merapi sedang aktip beberapa tahun yang lalu sehingga suhu udara di sekitarnya naik di atas suhu normal.

Disamping jenis-jenis "klasik" yang umum digunakan dalam dunia perkerisan seperti trembalo, kemuning, timaha, cendana, tayuman, trikancu, dll berdasar eksperimen yang pernah saya lakukan dengan Suroso - ternyata ada juga kayu-kayu lain yang more or less baik untuk bahan jejeran. Tidak hanya terbatas pada kayu lokal saja, tetapi juga kayu-kayu dari luar Indonesia. Australia sangat potensial karena iklimnya yang kering menyebabkan kayu tumbuh lambat dan padat seperti mulga, jarrah, western myall, black oak, lace she oak, gimlet, red morrell, corkwood, berbagai eucalyptus (yang tidak mengandung resin), cendana Australia (Santalum spicatum), dll.

USA juga memiliki kayu unggulan yaitu curly koa (Acacia koa) dan ko'u (Codia subcordata) yang endemik di Kepulauan Hawaii dan mango wood (sejenis mangga) Selain itu banyak saya lihat kemuning (disebut mock orange) dengan diameter batang 15-20 cm di rumah-rumah tua di Hawaii. Rupanya iklim dengan amplitudo harian dan tahunan yang besar mengakibatkan batang tanaman tumbuh lebih ke arah horisontal daripada vertikal dibanding di daerah tropis. Afrika mempunyai zebra wood dengan garis-garis hitam dengan latar belakang kuning pucat yang sangat indah.

Mungkin kita harus lebih banyak membuka mata dimanapun kita berada untuk menemukan alternatif-alternatif lain guna memperkaya jenis-jenis kayu yang sesuai dengan perabot keris kita. Bila industri perabot berkembang lagi, maka kitapun secara langsung atau tidak dapat membantu saudara-saudara kita para perajin untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Bogor 25 Januari 2004
Stanley S



..................
Catatan yg ini saya ambil dari Ensiklopedi keris. Berhubung kalau bicara teknologi keris biasanya bahasa Jawa mengambil alih bahasa teknologi barat. [mbs]

Warangka adalah pelindung, sarung atau pengaman untuk menaruh bilah keris.
Jejeran = hulu keris
Mendhak = cincin keris
Selut = hiasan pada gagang keris

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com