March 07, 2006

Kapasitas Supir

Date: Thu May 16, 2002 10:53 am

Tadi pagi saya baru mau keluar kantor, sebuah Mikrolet dengan cuma seorang penumpang melaju sambil memotong jalan, seraya mengeluarkan bunyi tuter, dit,dit. Dan wess, ciiit, saya harus mengalah dengan memberikan ia jalan lebih dulu. Saya ngedumel, jalanan yang sepi dipagi hari kok tidak mau mengalah untuk saya. Apalagi kalau jalanan macet, siapa suruh datang Jakarta?.

Lima menit kemudian saya lihat jalanan didepan saya sudah macet dan Mikrolet "ewes-ewes" tadi sedang bertengkar dengan seorang sopir Taxi "Pusaka", rupanya dia ketemu orang sama sablengnya, dan "duer" tabrakan terjadi. Supir mikrolet ini keluar, mukanya garang, dan langsung seperti polisi lalu lintas dia mengambil kunci Taxi dan seterusnya...

Kata orang Jakarta, di Jakarta ini kalau ada Mikrolet atau Bajaj yang mau berbelok, atau balik arah, yang tahu cuma dua (2), pertama sang supir Mikrolet atau Bajaj, yang kedua Tuhan yang Maha tahu.

Pasalnya mereka bisa berbelok atau mlungker didepan kita, minggir disembarang tempat seakan-akan kita memiliki indera ke-6, 7, 8 dst. yang mampu mengatisipasi manuver mereka. Jalan Warung Buncit sudah ada peraturan agar AKAP dan sepeda-bermotor masuk jalur lambat, tapi nyatanya "cuek ajah". Padahal 20 tahun lalu, saya langsung ditilang gara-gara dari jalur lambat "lupa" masuk jalur cepat.

Waktu masih SMP di Palembang dulu, kalau meliwati daerah yang namanya 7 ULU, para opelet memang ngetem sembarangan, sering supir jip kami iseng mendorong opelet tersebut dengan tanduk Jip. Atau kalau masih juga membandel, dia turun dari mobil dan mobil digedor, atau paling parah plak, supir ditaboki. Tapi waktu itu Brimob disegani, jadi melihat sosok mobilnya saja biasanya supir langsung berjajar rapi. Dan saya bisa takut campur nyukurin kalau kejadian itu terjadi didepan mata. Masih SMP.

Opelet rombakan Chevy yang berbody sebagian kayu sudah diganti Kijang, Daihatsu sementara namanya berubah menjadi Mikrolet atau Angkot tetapi konotasinya selalu identik dengan ngetem sembarangan, penyebab macet dsb.

Ia dibenci, ia dicari, tapi ia juga di cari dan dicintai. Komplikated deh, lakonnya.

Akan tetapi, Yen tak pikir..pikir....

Ketika saya berkesempatan naik Mikrolet yang panas, bau ketiak (bukan Madona), saya maunya cepet-cepet nyampe at no cost. Jadi ketika pak Pir hantam lampu merah muda (baru pindah dari warna kuning ke merah), hati saya berteriak, "go ahead". Ketika lampu merah beneran diterabas, saya bilang "hebring."
Toh ini kendaraan umum, publik harus didahulukan, mobil pribadi harus mengalah. Itu kata saya dalam hati dan dalam Mikrolet.

Akan tetapi walaupun demikian.

Ketika saya memposisikan diri (weh bahasa orang rebutan pengaruh sambil zigzag politik) dengan kapasitas sebagai pengendara mobil pribadi, eh supir serta mobil yang saya puja-puji "heboh, cool" tadi mendadak sontak beralih monster yang terpaksa saya beri blessing "mak dirodok eluh". Kalau jaman nabi Musa saya sudah ada, mau rasanya meminjam tungkatnya barang sebentar untuk diubah jadi ular kobra, dan mematuk anunya sang supir. Sadis niat deh!

Lha gimana bisa begitu, ya bisa wong saya termasuk golongan orang yang percaya bahwa peraturan itu hanya untuk "orang lain", waktu kita sendiri yang harus konsisten dengan aturan tersebut, kita cari acara pembenaran agar yang salah tadi jadi bener. Kalau ada teman sekantor yang coba memasukkan keponakannya, dibilang "KKN", tapi ketika keluarga sendiri, "it is a smart move man!". Bahkan tidak jarang mengutip kata-kata "menolong orang kan Ibadhah".

Kalau miturut kata tokoh wayang kesayangan Andi Malarengeng, itu Bagawan Wiraswata yang sumpah nggak mau kawin eh giliran ketemu perempuan ayu kiclong, sumpah dilanggar dan perempuan tadi dikawininya, padahal jatah sang anak.

Mudah-mudahan hanya saya sendiri didunia ini yang begitu.

Jakarta, 16 Mei 2002
Yang belum pernah jadi Supir MIkrolet tapi pernah dipatuk "tengu"

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com