Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Kaos Murah Meriah (13683)

Date: Mon Jul 12, 2004 2:51 pm

Apa beda pendatang dan orang Singapore
Kalau berjalan-jalan di SIngapore, biasanya orang Indo (dari bahasanya, dan kalapnya berbelanja) sebagian besar berpakaian necis, penuh nuansa permainan warna dominan. Bagi orang Indo kombinasi warna diberi komentar tulalit atau tabrakan sepertinya suatu aib. Sementara orang Singapore umumnya rada "kemproh" pakai T-shirt warna putih, atau cream yang jauh dari alat trika, dipandani celana pendek, dan sepatu keds
terutama bagi yang tinggal di apartemen. Saya ambil apartemen HDB (House Development Board) kira-kira kementrian perumahan SIngapore. Karena tidak memiliki ruangan, maka untuk menjemur pakaian cuma tersedia tiga buah batang bambu petung (2 meteran) yang bisa ditancapkan ditembok dan menjulur keluar jendela. Dengan keterbatasan tersebut kalau dalam satu apartemen ada 3-4 anak kos-kosan, maka agenda cuci baju harus diatur agar tidak tabrakan. Misalnya si A dapat jatah cuci baju hari Sabtu, si B hari Minggu dan si C hari berikutnya.


HANG TEN
Seorang rekan yang sering datang dan pergi ke Singa menceritakan bagaimana ia menyiasati mahalnya ongkos laundry pakaian anak maupun dewasa. "Daripada uang dipakai untuk ongkos cuci baju, saya mending ke Lucky Plaza atau Suntec atau di-mall untuk beli kaos Hang Ten, itu kaos murah meriah tapi mutunya tidak kalah dengan kaos punya merek lainnya."

"Jadi semua baju kotor dikumpulkan saja dalam tas plastik, baru deh di cuci di Indo."

Hang Ten, yang ternyata bukan berasal dari bahasa Mandarin. Tersebut di awal 1960-an dua pemuda penggemar surfing bernama Duke dan Doris yang lebih sreg bersurfer dengan celana design mereka sendiri. Tidak disangka-sangka design celana diminati oleh peselancar lainnya, dari hobby jadi niaga. Dan mulailah mereka menangguk untung di pantai California. Bisnis ini lalu berkempang ke seantero negeri dengan pelbagai merchandise. Kaos dengan tulisan Singapore, "crew neck" di jual dengan harga Sin $ 10 (sekitar 50.000), bayangkan dengan kaos sejenis seperti "Bilabong atau Quick Silver" yang tidak turun dari Sin $ 50 atau Rp. 250.000.

Nama Hang Ten diambil dari manuver sulit dilakukan dalam surfing yaitu berjinjit (HANG) diatas kesepuluh (TEN) jari kaki diatas papan selancar. Jurus tersebut lalu diabadikan berupa logo dua telapak kaki pada setiap produk buatan mereka. Logo telapak kaki inilah yang menarik perhatian saya, sebab dibidang komputer alternatif ada operating system yang bernama Linux menggunakan desktop bernama GNOME dan celakanya menggunakan symbol telapak kaki.

Tahun 1967, lisensi Hang Ten sudah mulai di franchisekan keluar California termasuk Taiwan dan Singapore. Kini produk ini saya lihat hampir ditemui disetiap gerai strategis, kecuali Takashimaya. Ada cerita perseteruan antara pendirinya pro Giordano dengan HangTen seperti dalam satu Resto tidak ada yang jual Cocacola dengan Pepsi Cola sekaligus. Seorang pegawai Hang Ten pernah ke kantor dengan menggunakan celana design Giordano yang mirip celana latihan para taekwondo atau kungfu karena selain terbuat bahan semacam blacu yang kasar, juga ada tali kolornya.
Cuma karena Richard Gere, dan Angelica Jolie dalam Thomb Rider pernah memakai celana putih kungfu ini, maka mode ini langsung menjadi "IN."

Di luar dugaan, pegawai tadi mendapat peringatan keras dari pimpinannya berhubung menggunakan produk kompetitor. Sebuah bocoran lain masuk ketelinga saya bahwa manajemen Hang Ten pada hari liburan seperti Minggu atau hari besar lainnya selalu menekankan pentingnya melayani pelanggan asal Indonesia sebab mereka dikenal kalap kalau belanja. Terutama terhadap bibi dan paman TKI dan TKW, pasalnya kalau berbelanja kaos berlogo dua kaki bisa main borong sampai tandas (ini bahasa Malay artinya toilet), Kadang merchandise lain seperti botol minum, sandal, kaos kaki, tas
ransel, tidak ada yang ditolak mereka.

Cuma ketika orang manajemen Hang Ten ditanya "mengapa tidak mencoba investasi ke Indo," mereka cenderung berdesi-ratna-sari alias "No Comment" - ini memang gejala umum, perusahaan besar agak enggan tapi malu ke Indo.

Rupa-rupanya bola boleh dijemput di negara lain, namun tiba di Indonesia, ditepiskan.

MBS
Nggak bisa surfer, dan cuma bawa kaus CREW-neck merek GT semua warna putih.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com