Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Kangkung kriuk kriuk

Siapa tidak kenal masakan kangkung, mulai dari Lotek, Gado-gado, Rujak Cingur, tumis kangkung, kangkung hotplate yang ditambah telor puyuh. Dan bagaimana cara petani Citayam memenuhi kebutuhan kangkung Jakarta.

Cuti yang baru lalu saya habiskan 100% di Citayam.

Biasanya antara jam 04:00 lebih sedikit saya sudah terbangun. Ketika matahari mulai muncul saya mulai memberi empan (pakan) kepada Gurami, Lele Zumbo, Patin, Ikan Mas, Nila. Ikan Lele Dumbo dan Patin adalah jenis binatang air "Noktural" maksudnya, ia justru aktip mencari makan di malam hari. Gurami baru aktip makan ketika matahari mulai bersinar. Berseberangan dengan empang saya, dibatasi oleh anak kali Citayam,
terhampar kebun yang digarap oleh Bang Udin. Hari itu saya lihat salah satu dari beberapa petak kebunnya mulai di arit untuk diambil tanaman yang hijau tumbuh subur diatasnya. Inilah tanaman kangkung yang dalam usia 20 hari sudah siap di panen.

Lalu saya memanggil bang Udin diujung sana sambil mengeluarkan 2 lembar ribuan. Uang saya lipat dan saya tindih dengan sebutir batu seukuran kelerang. Kemudian buntelan yang sekarang seukuran sirih balangan (upacara lempar sirih), saya ikat dengan tali rafia dan hup, melayanglah 2000 rupiah ke areal kebun bang Udin. Ujung tali rafia
masih saya pegang.

Setelah menerima bingkisan dari saya, Bang Udin segera mengikat sebeungket (seikat) Kangkung dan gantian dilemparkan kepada saya dipandu dengan tali rafia agar tidak terjadi kecelakaan terjatuh di kali. Selesailah transaksi bisnis yang singkat dan cenderung primitif. Hari itu diet saya adalah makan Ca Kangkung dari kebun bang Udin,
Jambu Klutuk, Pisang dan Pepaya dari kebun sendiri. Kalau Uncle Vernon dalam Harry Potter bilang "Rabbit Food," dan saya makan serasa Raja Food.

Lho bukannya kangkung ditanam diatas air ?

Memang betul, paradigma saya dulu kangkung adalah tanaman menjalar yang cuma hidup dipingir sawah atau kolam air dangkal yang tergenang. Tanaman jalar ini bisa diperbanyak dengan stek. Tetapi ada jenis kangkung yang ditanam ditanah, dan orang Citayam menamakannya Kangkung Cabut yang ditanam dari bijih. Kangkung ini konon kualitas super, renyah dan gurih. Dijadikan Cah atau Tumis rasanya kriuk-kriuk.

Tapi kok Bang Udin panennya di arit?

Ini juga gara-gara harga bibit (benih) kangkung cabut yang semula cuma 6000 perkilo, belakangan seperti menyesuaikan diri dengan tarip PLN, Telkom dan Uang Kuliah. Mereka jadi 25.000 per kilo, jelas petani gurem seperti bang Udin menjadi klepek-klepek karena ia masih harus merogoh koceknya untuk beli "gemuk", kata lain dari bahasa Citayam untuk pupuk dari sekam padi.

Untuk menyikapi agar tidak harus selalu beli bibit, maka caranya batang kangkung diarit dan disisakan sekitar 10 cm batangnya agar ia tumbuh kembali dan bisa di panen. Dan tanaman generasi kedua ini biasanya batangnya agak alot.

Konsekwensinya kalau anda makan kangkung HotPlate lalu ada bagian yang alot, jangan-jangan dia berasal dari Citayam.

Mimbar Seputro
Thursday, July 24, 2003
Penggemar Kangkung dari Citayam

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com