Kampung Luar Batang

Betawi Seabad Silam
Kramat di Luar Batang
10 September 1903

Ketika Belanda mendarat di Sunda Kelapa pada awal abad ke-17, mereka mendirikan kastil di atas tanah yang dibeli dari Pangeran Jayakarta (sebelum akhirnya diserang sekalian). Dalam peta kuno, tampak jelas kastil tersebut menyentuh laut. Tetapi Jakarta terbentuk dari aluvial sehingga muncullah daratan baru dengan kecepatan yang mengagumkan yaitu 13 meter per tahun sehingga ketika Gubernur Jendral van der Parra pada 1780 menyuruh pembuatan peta, maka kastil yang semula bersentuhan dengan garis pantai mulai tampak dikepung daratan. Dan daratan tanpa nama ini kemudian dihuni secara liar bahkan ada yang mulai mendirikan gubuk tanpa takut digusur. Penghuninya kebanyakan orang Jawa (Javasche Kwartier.) Para Javasche Kwartier ini kalau masuk kastil sering bawa keris atau tombak, yang menurut anggapan mereka adalah sebagian dari cara berpakaian tradisional. Tetapi Belanda menganggap sebagai ancaman sehingga perlu membatasi lalu lintasnya dengan memasang balok kayu di muka sungai Ciliwung. Pribumi yang berkunjung kedalam kastil harus menunggu keesokan harinya tidak jarang berhari-hari menunggu ijin tiba.

Lokasi pemasangan didepan kantor Pabean sehingga populerlah istilah "groote boom" atawa boom besar. Orang yang berada didalam palang adalah orang Beteng sementara yang tinggal diluar disebut penduduk Luar Batang. Batang (Kayu) ini dibuka setiap hari dan ditutup pada jam tertentu 19, 21 dan 06.00. Yang menarik, dalam peta resmi kumpeni, Luar Batang disebut sebagai "heilig graff" (kuburan keramat). Siapa yang dikuburkan di tempat terpencil itu?.

Seorang ulama Sayid Husain bin Abubakar al-AIdrus diketahui tinggal disitu sambil menyebarkan agama Islam. Tahun 1739, berdirilah sebuah mesjid di daerah Luar Batang tersebut. Mesjid yang masuk lingkungan RT 004 RW 03 Kelurahan Penjarinhgan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara ini memang berada di tengah perkampungan sehingga sulit bagi mereka yang belum pernah kesana. Tetapi tanyakan kepada pengojek sekitar pelabuhan Sunda Kelapa atau Pasar Ikan mereka pasti tahu.

Sayid Husain ini sangat dihormati penduduk, sehingga ia dianggap orang suci. Dan ketika ia meninggal tahun 1756, makamnya dianggap keramat. Habib ini meninggal dalam keadaan membujang (?). Ketika akan dimakamkan di Tanah Abang, jenasah yang berada dalam keranda (kurung batang) ternyata sudah lenyap dan mereka menemukan jenasah tersebut sudah ada di Mesjid milik Habib Husain. Para pengikutnya beranggapan bahwa Habib ingin dimakamkan di Tanah Abang melainkan di luar (kurung) batang. Legenda lain menyebutkan Luar (kurung) Batang ini menjadi asal muasal nama kawasan Luar Batang.

Di luar mesjid banyak penjual bunga kertas warna warni seperti payung. Apakah ini berasal dari kebiasaan Habib dimasa hidupnya yang menggunakan payung? Ternyata gara-gara Sultan Hamengku Buwono pernah datang berziarah ke mesjid ini bersama pengawal yang memayunginya, oleh pedagang setempat payung tersebut ditiru.

Date: Thu Nov 6, 2003 11:41 am
12427
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe