Kacang Rebus Sampang Madura

Date: Mon Sep 1, 2003 8:33 am

Subject: CUMPLUNG mimbar@telkom.net

Masih di Sampang
Suatu pagi yang cerah berangin keras di halaman Hotel Trunojoyo- Sampang, sambil menunggu panggilan dari kediaman rumah besan, kami berkumpul di halaman hotel mengobrol.

Adik saya yang juga banyak bicara (dan menulis masalah kesehatan di majalah Garuda) baru menceritakan bahaya kanker hati yang diakibatkan oleh kacang tanah. Menurutnya ada bagian dari kacang tanah yang busuk dan sering terlanjur tergigit dan termakan walaupun dalam jumlah kecil. Namun jamur atau kapang-kapangan mampu membiak cepat dalam tubuh.

Kok ndilalah (tiba-tiba, kebetulan) datang pengasong dengan menyunggi (membawa dagangan di atas kepala) tampah dengan kacang rebus yang masih mengepul.

Ada dua benda yang tidak boleh dilupakan di tanah tumpah darah karapan-sapi ini, yaitu Jambu Air Madura dan Kacang Tanah Madura. Yang pertama kami tidak bisa mendapatkannya sehingga tinggal kacang tanah yang sudah dipelupuk mata. Penjual menawarkan satu "cumplung" harganya Rp. 700, lalu kami bilang kalau saya borong se"tambir" atau tampah berapa.

Ibu ini nampak bingung sebab ada dadakan mau borong kacang tanah rebus. Akhirnya ia bilang sekenanya Rp. 200.000 semuanya. Di coba di tawar Rp. 100.000 dia keberatan, akhirnya negosiasi dilakukan dengan azas "win-win solution" - dan titik temunya lebih baik "cumplung" saja. Celakanya bagi si Ibu, ketika cumplung (takaran) terakhir selesai dihitung, harga kacang tersebut Rp. 50.000

Kacang se tambir (tampah) sebetulnya sangat banyak apalagi sudah mau berangkat jagong manten. Akhirnya tiap kamar hotel didistribusikan kacang tanah madura.

Sambil senyum lebar, ibu tadi meninggalkan kami. Bagaimana tidak dalam hitungan menit dagangannya laku keras. Eh tidak lama kemudian dia datang lagi dengan kacang yang jumlahnya lebih banyak dan memaksa kami untuk memborong se-tampah lagi. Adik ipar saya rupanya tidak tega mendengar "rayuan" (lebih tepatnya rengekan) sang penjual. Ia borong lagi kacang tanah tadi. Saya menduga pasti dia akan kembali lagi,
kalau perlu satu truk akan ditawarkan.

Betul saja, dia datang lagi dengan dagangannya plus ditangannya ada dua bungkus kacang yang akan diberikan gratis kepada kami, asal dagangannya yang ketiga ini di borong. Kali ini rayuannya secara tegas kami tolak. Tidak.

Dia masih ubet (keukeuh), sekarang tiap kamar diketuk untuk ditawari dagangannya, tapi serentak melihat dikamar sudah ada bungkusan kacang tanah, nampaknya ia maklum. Baru kali ini dia pergi meninggalkan kami. Lupa sudah pembicaraan Kacang-kacangan dan resiko Kanker Hati. Sebab nyatanya mulut mulai mengunyah kacang rebus Sampang yang memang sama saja dengan kacang di Jakarta.

******

Erni, pasangan monogami saya masih ingat ketika kami beberapa tahun lalu belanja di pasar Gresik- Surabaya, ada mbok gendong dengan logat Madura minta kerjaan "sewu tak sunggekno" - maksudnya dengan seribu rupiah, belanjaan istri saya akan di "sunggi" alias dibawakannya. Istri nampak agak "takut" dengan gaya bicara orang ini lalu saya kasih kode untuk mengiyakan.

Lalu belanjaannya yang tidak seberapa (cuma buah dan makanan kecil), diberikan kepada embok ini.

Di luar pasar, ibu penjual tadi yang rupanya berceloteh lagi "rong ewu tak dongake slamet bu.." - maksudnya tadi biaya angkut barang tadi seribu rupiah, maka kalau saya memberi tambahan seribu lagi jadi total dua ribu, maka sang ibu akan mendoakan keselamatan kami berdua.

Lha kalau cuma seribu perak apakah akan didoakan celaka? Wallahualam.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe