Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 08, 2006

Kabag di Jambi bukan Kepala Bagian

Date: Wed Mar 12, 2003 2:52 pm


Kumpe

Humor apa yang paling menjengkelkan. Itu lho, kalau naik kereta api yang banyak berhenti, ada saja penumpang kereta yang nyeletuk: “ban kereta apinya pecah,” lalu sang penumpang nyengir sendiri. Dagelan kering macam begini ternyata sudah langgeng paling tidak lima puluh tahun (sesuai dengan usia). Dan masih menggemaskan.

Dua pekan lalu saya ke Jambi. Apalagi sekarang kota ini amat berbangga dengan seminggu 7 kali disinggahi oleh kongsi-kongsi pesawat, mulai dari Merpati, Bali Air, Pelita dan masih banyak lagi perusahaan penerbangan dengan harga yang berkisar “nopekgo”.

Akibat perbedaan yang sekitar 40-50 ribu rupiah bila dibandingkan dengan perjalanan menggunakan bus yang selain “time consuming” juga susah ditebak kapan datangnya, maka jalur penerbangan Jakarta - Jambi seakan diserbu oleh pelbagai lapisan masyarakat.

Dulu, misalnya orang naik “plane,” kalau perlu berpakaian terbaik. Yang perempuan pakai hak tinggi, rambut sasak ala salon kecantikan. Sekarang, banyak yang berbekal sendal jepit karet, dan kadang beraroma kecuut. Juga para penumpang ini sering ngotot membawa barang yang pantasnya di taruh di bagasi sehingga cukup merepotkan awak kabin, yang umumnya kurang ramah terhadap mahluk yang “reseh” begini.

Bicara soal keamanan penerbangan, begitu roda pesawat menyentuh landasan lalu memperlambat kecepatan untuk mencari posisi parkir, istilahnya berhenti abis, mereka sudah melepas sabuk pengaman dan buru-buru meraih barang bawaan Lagi-lagi awak kabin yang kurang ramah harus menenangkan penumpang untuk menunggu sampai pesawat berhenti habis. Gang sempit sepanjang pesawat biasanya sudah jadi arena susul-susulan, lantaran mereka buru-buru ingin ketemu sanak famili. Antri? no way Jose...

Nanti kalau pintu pesawat belum dibuka lantaran menunggu tangga disetel, mereka nyeletuk “kunci pintunya ketinggalan, sedang cari kunci serep…”

Dua minggu lalu saya menyoba duku Komering yang dijual di Jambi, manisnya bukan alang kepalang dengan harga "lokal" sekitar Rp. 4000 per kilogram. Di Warung Buncit- Jakarta, terpampang “Duku Palembang Rp. 8000/kilo pas”

Para penjual menggunakan sepeda dengan dua keranjang bambu besar dikiri kanan sepeda. Beberapa lembar daun duku yang hijau serta lebar-lebar nampak menghias “outlet” mereka. Saya mencoba mendekati seorang penjual. Langsung, sepiring sampel disodorkan kepada saya dan memang semua duku manis. Nis.

Tapi berhubung dialek Palembang saya sudah mulai luntur dan kagok, maka saya kena “dialek charge “ Rp. 4500/kilo dengan bonus kardus bekas Supermie untuk dibawa ke Jakarta. Saya menyesal hanya membeli sedikit dan berjanji akan kembali dengan kuantitas lebih banyak.

Cita-cita saya kesampaian. Dua minggu kemudian saya kembali ke kota ini dan mendapatkan bahwa duku sudah beranjak ke Rp. 6500 per kilogram di tempat yang sama dan penjual serupa.

Logikanya, harganya mahal, tentu dagangannya lebih manis ketimbang madu.

Ternyata, saya ytertipu. Duku ini duku oplosan antara duku Komering dengan duku lokal Kumpe. Ambil duku 10 anda beruntung bisa dapat 3 butir yang moaanis, selebihnya moisuh misuh. Mahal bukan berarti jaminan kualitas.
Mengapa tidak dicicip terlebih dahulu ?. Duku yang Komering memang dipasang ditumpukan atas, pada gilirannya nanti duku Kumpe yang akan masuk ke keranjang anda.

Sial bener.

Dilayar TV saya lihat seorang penjual beras oplosan ditanggap polisi Jambi lantaran ketahuan menjual beras Thailand yang dicampur beras kualitas rendah.

RUKO

Kota Jambi sudah banyak berubah, kawasan TheHok misalnya sudah dipenuhi dengan ruko yang tinggi-tinggi dengan banyak jendela berdiameter 3 inci yang berfungsi sebagai lubang angin dan dihuni ribuan burung Walet.

Banyak penduduk beralih menjadi pengusaha walet. Bagaimana tidak menggiurkan harga sarang burung bisa 15-20 juta sekilonya, padahal tidak perlu memberi makan. Paling menaruh kolam untuk walet mandi dan sekaligus mengumpulkan nyamuk yang salah-salah Aedes Agepti atau Chikungunya.

Atau untuk menarik kawanan walet lain, mereka membunyikan kaset suara walet selama 24 jam. Paling sial, kawanan walet yang diundang, kawanan seriti yang datang. Tapi liur burung (seriti) inipun mampu menghasilkan duit 1 juta per kilogram.

PASAR BARU
Pasar tradisional ini jangan disamakan dengan Pasar Baru di Jakarta yang tertata apik. Inilah pasar terkumujh di kawasan Jambi, sekedar pasar tumpah yang mengambil tempat di jalan raya. Diantara kawasan gubuk, ruko walet, hatta terseliplah sebuah mesjid yang ikutan merana. Disebut Jami’ terlalu kecil, mau disebut mushala kok terlalu besar.

Mesjid permanen ini sudah hampir bernasib seperti beberapa sekolah yang ketika pemilu dulu dijanjikan akan dijadikan prioritas utama, bahkan kalau perlu gratis. Yaitu nyaris runtuh.

Singkatnya mereka perlu dana padahal di Jambi belum dikenal jurus “dengan serok ikan, kita sukseskan menyeser rupiah di jalan.”

Akibatnya mesjid menjadi tidak terurus bertepatan dengan kawanan burung walet perlu apartemen baru.

Lalu munculah sebuah iklan di harian lokal, “Di Jual Sebuah Mesjid.”

Dan seperti layaknya hal yang berkaitan dengan Rumput Kering, mudah terbakar maka koran tadi didemo ramai-ramai, diancam segala sehingga harus membuat klarifikasi sebagai “salah cetak”.

Efek demo ini memang bagus lantaran ada pengusaha kaya yang bersedia menyumbang asal mesjid tidak dijual.

RM Padang

Makanan spesifik kota ini “Mie Celor”, pada prinsipnya KweTiau dimasak pakai kuah tajin, lalau diberi potongan daging sapi dan telor rebus. Saya tidak menemukan tempat yang paling top Mie Celornya. Lagian teman perjalanan saya nampaknya kurang piknik.

Padahal perut sudah lapar sekali.

Setelah sejauh tanya sana tanya sini akhirnya pilihan jatuh ke basic-instink" padang yaitu “Gantino Baru” terletak di kawasan Jalan Gatot Subroto. Restoran masakan Padang ini selalu penuh pengunjung. Saya yang sudah amat lapar di siang itu langsung disodori seabrek menu masakan dan nasi kebul-kebul hangat.
Baru saja makanan akan disuapkan ke dalam mulut, sang pelayan teriak, “nanti dulu pak!, belum siap semuanya..”

“Apa harus pakai peluit seperti lomba marathon?,” tukas saya dalam hati.

Ternyata saya diminta menunggu sepiring ayam goreng “pop” panas.

Ah si abang bikin saya kaget.


Jabatan KaBag dan KaSi

Di Jambi saya bertemu beberapa teman lama yan bekerja dipemerintahan. Setelah bicara kesana kemari biasanya saya tanya “sekarang jadi apa nih setelah lama berpisah”

Rata-rata mereka menjawab “jadi KaBag”

Atau “jadi KaSi”

Tapi kok nada suaranya lesu, harusnya gagah dong.

“Mau tau arti Kabag dan Kasie?, Kabag artinya Katik Bagian, KaSie artinya Katik Kursi”

[Katik= tidak ada.]

Ooo begitu….

Jambi 11 Maret 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com