Jurus Tipu Jaman Cupu

Ketika Undang Undang Hak Cipta diberlakukan di Betawi pada Agustus 2003, beberapa milis menulis jurus tipu para petugas dengan menyetop pengendara mobil untuk diperiksa apakah mereka membawa kaset bajakan. Belakangan dikatakan bahwa issue tersebut tidak beralasan. Lagian siapa yang berani jamin petugas yang merazia 100% bebas dari barang bajakan?

Tahun 1903, sebuah proses verbal melapurkan bahwa seorang Baba di geledah oleh petugas Ronda di kawasan Jembatan Lima. Barang bawaan Baba digeledah dan dia ditanyain macem-macem. Karena merasa tidak bawa "barang terlarang", Baba mandah saja barangnya diperiksa. Dan memang peronda tidak menemukan "barang terlarang" tetapi, sesampai dirumahnya gantian baba yang nyap-nyap lantaran "dompetnya" kabur dibawa si Peronda Palsu.

Kasus lain...

Si Nong sering dipanggil "Cingkau" alias makelar karena pekerjaannya makelaran barang perhiasaan. Pada suatu hari ia mendatangi pedagang emas Liem Soe Soe untuk meminjam perhiasannya. Katanya "maloe mo pigih keriaan, leher dan kupingnya moeloes doangan." Entah kenapa dari dulu wanita gemar sekali "menipu" dengan menggunakan perhiasan yang sebetulnya cuma pinjaman belaka. Karena sudah kenal lama maka kepada Si Nong dipinjamkan perhiasan buat kondangan, toh cuma semalam sudah dikembalikan.

Ternyata hari berganti hari, perhiasan tiada kunjung dikembalikan lantaran oleh si Nong sudah dilempar ke "Baba Gampang" alias pegadaian gelap. Sekalipun Si Nong bisa ditangkap polisi, tetapi bagi Nyonya Liem masih ada tugas lain yaitu menemukan harta bendanya.

Tjan Kwan Tjeng, seorang penduduk Karawang, diutus sang Taoke untuk membeli obat pada seorang Sinse di Patekoan. Karena obat mujarab kotaknya saja berselaput emas, ramuan aseli daratan tiongkok dan dalam jumlah banyak, harganya tidak tanggung-tanggung. Tjan terkena rekening sebesar 400 gulden. Padahal uang dikantungnya masih jauh dari jumlah tagihan tersebut. Kartu Kredit belum masuk zamannya.

Rupanya sinse tidak mau melepaskan dagangan senilai 400 gulden begitu saja kepada orang yang dikenal samar-samar. Lantas sang bujang toko (pembantu) diajak oleh Tjan Kwan Tjeng agar menemaninya ke Karawang untuk mengambil sisa tagihannya. Di Gang Bambu, sepertinya Tjan mempunyai saudara cukup kaya dilihat dari bangunan rumahnya. Tjan mencoba pinjam uang kepada saudaranya itu. Tapi tunggu punya tunggu ternyata Tjan tidak ada keluar dari itu pintu masuk lantaran ia sudah kabur melalui pintu belakang. Ternyata rumah tersebut adalah rumah pentopan (judi) sehingga sembarang orang bisa keluar masuk. Menyadari terkecoh polisi segera dilapori kasus tersebut dan dalam waktu singkat, si Tjan di bekuk di perumahan dekat Cengkareng.

Dari jurus-jurus penipuan, nampaknya sepanjang jaman, resep tipu yang mirip di recycle kembali. Dan orang masih bisa kena tipu juga.

Date: Mon Aug 25, 2003 9:26 am
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe