Jumatan di kampung Belanda

Date: Fri Jul 9, 2004 2:47 pm

Di surau, langgar ataupun mesjid di tanah air konfigurasi sembahyang bersama-sama "jamaah" seperti mempunyai SOP tersendiri. Biasanya Khatib (pembawa khutbah) menyampaikan orasi agama dari "mimbar' yang diletakkan dibarisan paling depan. Demikian dengan lokasi Imam memimpin salat (sembahyang). Namun di sebuah kampong bernama Kampong Holland (untung tidak dikritik Trie Utami), ada sebuah ruang khusus tertutup berdiri ditengah mushala tempat pak Khatib memberikan ceramah. Sang khatib memberikan ceramah dari ruang tertutup ini, dan tidak harus didepan para hadirin minus hadirot. Mungkin ikutan yang di Mekah sana. Nah setelah ceramah yang pakai separoh Inggris, separuh Malay selesai, barulah sang Imam merangkap Khotib keluar dari ruangan diikuti sang muadzin mengambil tempat paling depan.

Sebelum salat ditegakkan (harafiahnya menegakkan salat), imam memberikan pengumuman (SOP) dalam bahasa Inggris dan Malay, mohon saf yang paling depan diisi jangan sampai ada "gap", dan yang penting lagi mohon Handphone, Beeper dinonaktipkan agar tidak mengganggu kenyamanan dalam salat siang ini. Selalu saja ada yang menarik, pengumuman dan aturan-aturan agama ditulis dalam bahasa Melayu. Selembar kertas berjudul "Adab Sembahyang", adab mendengarkan Adzan, adab bersuci (wudhu) dan banyak lagi. Saya seperti diingatkan masa kecil yang ternyata seteah dewasa banyak melanggar adab-adab tersebut.

Salat Jumat didirikan pada jam 13 lebih sedikit waktu setempat. Tidak ada edaran kencreng (kotak dana), malahan jamaah ditawari pisang dan teh anget.

Kampong Holland Singapore 9 Juli 2004
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe