Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Jalan Pintu Besar, mana pintunya?

Seabad lalu gubernemen Olanda mengundang para pahlawan tanpa tanda jasa yaitu goeroe dari Solo dan Yogya untuk berkunjung ke Betawi. Mereka dibawa ke Stadhuis (Gedung Bicara), pabrik gas, percetakan uang kertas, dan astaga, pabrik Candu. Soal candu ternyata orang Olanda pikirannya cerdik, daripada jenis psikotropi ini keuntungannya jatuh ke pengedar, mending mereka organisasikan melalui para pacht (dealer), legal dan menguntungkan. Toh penyeuret itu bakalan susah disembuhkan. Mending dicepetin saja umurnya.

Ketika rombongan wisman (wisatawan budiman) melalui jalan Pintu Besar, seorang guru bertanya ada Pintu Besar tetapi mana kuncinya, boro-boro kunci, daun pintunya sendiri tidak ada. Sang pengantar cuma garuk-garuk ia punya kepala tapi tiada gatal, lantaran trada ia punya moeslihat untuk memberiken jawaban. Paling bisa memberikan jawaban" tauk tuh semenjak encing aye tinggal disini emang sudah begitu
namenye..
"

Untuk mengetahui sejarah Pintu Besar, kita moesti melihat kilas balik ke tahun 1632.

[Eng ..ing .. eng... ]
[suara tambur bergemuruh......]

Setelah pengepungan oleh balatentara Mataram yang berhasil menewaskan Gubernur Jendral Jan Pieter Zon Koen, bukan lantaran peluru maupun santet melainkan wabah Kolera itu, maka oleh gubernur jendral penggantinya segera diperintahkan agar sekeliling kastil dibangun kanal-kanal atau parit air yang lebar sehingga diharapkan bisa mencegah musuh yang mau menghancurkan pertahanan negeri. Untuk keperluan keluar masuk kastil lalu dibuatkan pintu yang besar disebut NIEUWPOORT, dan jalan menuju pintu inilah yang disebut sebagai jalan pintu besar alias NieuwPoort Straat. Tidak dijelaskan apakah ada upacara tutup dan buka pintu seperti jamannya kraton Yogyakarta.

Dulu pintu gerbang memasuki kraton Yogya sudah ditutup pada jam 9 malam, dan dibuka keesokan harinya. Buka tutup pintu ini ini diiringi oleh rombongan "korsik" alias korp musik yang terdiri dari genderang dan terompet. Ada cerita miring dari sana, lantaran pintu sudah tertutup, maka beberapa penghuni yang "laat" bisa saja masuk kedalam benteng asal dilakukan dengan ganti rugi sejumlah "gulden" diselipkan ke tangan penjaga pintu. Koran setempat bilang sebagai "jalan smeer."
Pintu Besar ini ini bercabang jalan ke kota satelit sebelah selatan yang disebut Zuidervoorstad yang sekarang menjadi jalan Pinangsia, tempat mertua saya kulakan bahan bangunan seperti kunci, kaca jendela, washtafel dsb. Juga (kalau mau) VCD porno. Kawasan Zuidervoorstad tadinya dibangun untuk perkampungan Cina, tetapi penggawe Kumpeni ikutan nanam saham membuat rumah menginap yang sekarang sering disebuat apartemen, dengan alasan pintu Kastil sudah tertutup, mending nginep diluaran saja sambil ngelencer. Mungkin ada cerita pembesar Kumpeni "kegep" jam 3 dinihari dirumah seorang amoy Pontianak, dan bilang alasannya mencari dokumen "tonil" tertinggal. Tapi itu cerita ratusan tahun kemudian.

Dari pintu besar tadi dibuat jalan tembus Buitenniewpoortstraat alias Jalan di luar pintu gerbang baru.

Namun Daendels penguasa Inggris ketika memerintah Betawi mempunyai gagasan baru, kastil-kastil tadi dibongkar demikian juga pintu gerbangnya. Alasannya nanti ada lagu "wahai burung dalam sangkar, mata terlepas badan terkurung." Pikir Daendels (barangkali) Ganti Menteri di Betawi kelak, diikuti dengan Undang-undang baru, apalagi ganti Gubernur Jendral. Cucunya Daendels ratusan tahun kemudian juga memiliki nafsu membongkar. Tiada Kastil, Pohon Beringin-pun jadilah. Tapi ada alasan Daendels yang rada masuk akal, kanal-kalan tersebut kalau musim kemarau kering dan celakanya rumah sakit membuang kotoran dan potongan daging manusia ke kanal, sehingga mengundang lalat dan tempat yang strategis bagi gerombolan nyamuk malaria membuat Posko disana.

Parit-parit itu lalu dioeroeg dan dibuat jalan kereta api plus stasiunnya untuk jurusan Tanjung Priok - Tangerang.

Jalan Pintu Besar merupakan jalan ramai di Betawi, di jalan yang terletak kota lama terdapat toko-toko dan kantor dagang. Kadang ada trem uap melintas dari Kota Inten ke Harmoni, tak heran sering terjadi kecelakaan antara trem dengan dos-a-dos (sado). Bahkan tabrakan heibat dan dahsyat antara sebuah pedati dengan dos-a-dos diberitakan harian Bintang Betawi 21 Mei 1903, yang menceritakan bahwa penumpang dos-a-dos terlempar sampai tiada inget sekeliling (semapoet), dan dievakuasi ke rumah tukang besi sekitar TKP untuk dipulihkan ia poenya kesadaran. TKP di depan toko Ang Sioe Tjiang & Co.

Demikianlah asal Pintu Besar Utara dan Pintu Besar Selatan. Panjang juga dongengnya yah...

From: Mimbar Bambang Seputro
Date: Thu Jun 12, 2003 9:38 am
Kepingin jadi ahli sejarah, ambil Teknik Perminyakan. Nanggung semua.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com