Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 08, 2006

Jadwal MRT di Singapore

Ketika seorang calon penumpang berada di stasiun kereta api, pertanyaan yang muncul "akankah kereta kita terlambat (lagi) kedatangan dan keberangkatannya?."

Biasanya kita melihat jam keberangkatan yang tertulis pada tiket lalu mencucok-kannya dengan jam gadang yang tergantung di stasiun. Kalau kurang
yakin carilah seseorang yang dianggap kompeten menjawab pertanyaan anda bisa jadi bagian informasi atau Sep Setasiun.

Sayangnya orang ini terbuat dari segumpal daging yang kalau ditanya hal yang sama terus menerus dia jadi "bete" dan seringkali ketus. Atau anda cukup bersabar mendengar pengumuman melalui pengeras suara dengan suara cempreng persis pengeras suara obralan baju dan sabun di Ramayana. Mungkin juga pemilik suara itu aseli Betawi, jadi makin lama makin melengking dan setengah berteriak.

Entah disengaja atau tidak, pengumuman penting kok ya disuarakan pas bener dengan masuknya kereta api yang suaranya gemuruh dan ngos-ngosan. Akibatnya isi pengumuman jarang bisa didengarkan dengan baik akibat bercampur dengan suara sepur padahal antena daun telinga sudah dijembreng-jembreng (gaya ibu Megawati) agar bisa menerima getaran suara sebaik mungkin. Tapi tetep aja.

Di MRT Singapore keadaannya "agak" berbeda. Petugas jarang jarang teriak pengumuman karena sistem komunikasi sudah diganti sistem digital. Kedatangan kereta api misalnya dengan jelas terpampang secara digital ditempat yang mudah dilihat. Misalnya "15 minutes train arrival" - dan ini berubah setiap menit. Pada saat display "2 minutes train arrival" kita sudah bisa mendengar dan melihat sosok kereta dari kejauhan.

Sekali waktu jam bubar kantor, seperti biasa dimana-mana stasiun MRT penuh sesak para calon penumpang sehingga ketika kereta tinggal 2 menit lagi tiba, penumpang berjejal dan mulai menginjak garis kuning yang jaraknya sekitar 50 cm dari jalur kereta api. Jalur ini dibuat untuk membatasi calon penumpang agar tidak berada terlalu dekat dengan kereta api yang bisa berakibat kecelakaan. Bedanya di Gambir orang dengan sukarela berjalan di rel kereta api yang dalamnya dari platform sampai 1 meter lebih.

Melihat kerumuna orang sudah "out of control", kereta berhenti dari kejauhan dan terdengarlah suara rekaman "for your own safety, do not accros the yellow line please". Lalu kereta mbegegek saja sekitar 50 meter dari stasiun Barulah ketika penumpang mulai tertib dan mundur dari jalur kuning, maka kereta bergerak mendekati tempat pemberhentiannya.

Umumnya stasiun kereta api bersih dari iklan, asongan karena memang dilarang makan, minum dan merokok dikereta api. Juga saya sulit menemukan orang baca koran diperjalanan. Atau gelantungan diatap kereta. Mungkin karena singkatnya perjalanan ditambah lagi koran disana tebal-tebal karena memuat iklan yang banyak.

Singapore 18 September 2002

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com