Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 05, 2006

Jadi NaraSumber Talkshow Radio 86RH

Tiba di Bandar Lampung Kamis jam 02.00 (4 sep 2001) dinihari, dan praktis sempat tidak tidur sampai waktu pemakaman ibu tiba jam 14.00. Pelayat yang mengajak bicara mungkin sudah melihat saya menguap berkali-kali dan kadang mata terpejam. Sangat-sangat letih. Apalagi harus stuur sendiri padahal saya bukan Hakim Agung.

Tahu-tahu ada pesan dari Christiantoko (Tabloid Kontan) di Handphone untuk melakukan talk show mengenai gurame di Kantor Berita Radio 68H, jalan Utan Kayu no 68. Dan akan dipancar luaskan di 200 stasiun radio di Indonesia.

Rupa-rupanya, artikel "GURAME" di Tabloid Kontan 27 Agustus ybl memancing banyak pertanyaan, sehingga "cuooocok" untuk dibuat acara talk show. Sekalian melakukan pelurusan atas komentar mas Pred dan mas NurRahman, Di Tabloid itupula perusahaan saya dikatakan mempunyai Training Centre untuk Operator Pengeboran, dengan nara sumber seorang manager Pengembangan Usaha, Mimbar Seputro. Terang ini suatu kesalahan, lagian apa hubungannya perusahaan mudlogging dengan sekolah Juru Bor, dan saya bukan Manajer. Jadi ingat, dulu ada seorang ibu penggemar Nagasasra dan Sabukinten, lalu komentarnya saya tulis di homepage Gajahsora.net sebagai Manager TI, wanti-wanti ia kirim e-mail untuk di ubah TI administrator saja. Takut kualat katanya.

Tapi ya itu wartawan. Bisa dimaklumi mereka akan mengalami kendala memahami istilah Mudlogging Data Aquisition. Memang saya lihat Wartawan itu melakukan pembicaraan dengan orang lapangan yang diundang ke peresmian. Mungkin disini titik rancu berawal. Seperti elit politik ya, gampang main Kambing Hitam.

Sekalipun sikonnya kurang tepat, namun ini kesempatan yang baik, saya mengiyakan permintaan mereka, lalu bersiap-siap pulang ke Jakarta.

Sampai di Jakarta Jumat 06.00, setelah ganti baju, langsung saya bergegas ke Utan Kayu, suatu daerah yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Untungnya mencari lokasi Radio Pemancar ini tidaklah terlalu sukar.

Disebut Kantor Berita Radio 68H, karena lokasinya di jalan Utan Kayu No 68H. Rupa-rupanya mereka menggunakan sambungan satelit dan memiliki jaringan sebanyak 200 radio pemancar di seluruh Indonesia. Saya agak kepagian datang kesana, jadi masih sempat melihat para awak radio tertidur di lantai. Mereka tergabung dalam komunitas Utan Kayu, asuhan penyair Gunawan Muhammad dari Tempo.

Setelah menunggu beberapa menit penyiarnya Fitria menemui saya, disusul dengan Christiantoko dari Tabloid Kontan. Sambil menunggu selama 1 jam, saya memberikan presentasi soal cara mengusahakan gurame, yang bisa bervariasi dari modal kecil bener, sampai ke modal besar betul.

Dan cara membesarkan Gurame tanpa harus memiliki kolam, sampai yang seluas 15000 m2 milik Citra Nusa Hewani (itu lho yang mengiming-imingi tanam modal di Gurami 25 juta, dalam 5 bulan kumbali 60% keuntungan, kalau gagal ditanggung CNH). Dengan demikian mereka sudah punya gambaran apa yang akan di tanyakan. Saya takut nanti ada pertanyaan, gurami berapa jumlah sisiknya, kan konyol. Emangnya kuis Miliuner-nya Tantowi Yahya.

Acara sebelum saya adalah soal Pemilu di LoroSae, yang saya lihat mereka sibuk menghubungi para tokoh Lorosae termasuk Da Silva.
Tiba giliran kami, dibilik siar saya diberi headset dan microphone, begitu juga Christ dan Fitria. Sementara itu artikel Gurami di Kontan sudah di stabilo kuning pada bagian yang dirasakan penting. Ada rasa nervous sebab ini pertama kali dalam hidup.

Ketika masuk introduction, dikatakan bahwa kolam yang akan ditanami Gurami sebaiknya diberi pupuk kandang, dari kerbau, sapi atau kambing. Sebetulnya sih kurang cocok. Yang pas adalah pupuk berasal dari ternak unggas karena lebih halus dan mengandung sisa pakan yang mudah hancur.

Saya ditanya ditanya bahwa pelihara gurame itu lama sekali memanennya, sampai 1 tahun. Saya jawab, telor yang baru ceprot saja sudah bisa dipanen, 2 minggu menetas sudah laku dijual. Makin bulan makin ada harganya. Umur 13 bulan sudah bisa dipanen sebagai konsumsi. Makannyapun sudah disediakan di alam, udang moina (kutu air), jentik-jentik nyamuk, dan daun Senthe.
Baru saja acara dibuka, 2 penilpun dari Poso dan Kediri masuk. Lalu dari Malang, dari Ciracas dan terakhir dari teman saya sendiri mas Untung. Tiga puluh menit berlalu sudah.
Sampai sekarang, saya masih menerima pertanyaan seputar Gurame. Ternyata ada seseorang yang berbaik hati merekam acara tersebut, jadi saya bisa mendengar ulang bagaimana saya menjawab pertanyaan. Sebagai tahap selanjutnya sedang di usahakan Budidaya Gurami melalui media TiVi. Saya belum tahu TV yang mana. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

[Kok nggak ada lucunya ya?]

Date: Tue Sep 4, 2001 8:59 am

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com