Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 14, 2006

Jaarig?

Date: Mon Mar 29, 2004 10:38 am 13204

Apa sih yang dikerjakan seseorang bani adam ketika menghadapi hari kelahiran (HUT) yang lolos setengah abad lebih selain mengucap syukur kepada sang Penguasa Alam. Kalau masih anak-anak tentunya akan bergembira sebab hari yang dinantikan akan datang dengan baju baru, teman-teman berdatangan, cium pipi kiri kanan, kado, penganan lezat. Namun bagi yang sukses melewati usia 51 tahun, maka ibarat "karpet" umur yang digulung sampai tebal selama 51 tahun, maka harus makin disadari bahwa sisa" karpet yang terbentang di depan mata susah diduga kapan habisnya. Masih mending kertas fax kalau mau habis ada tanda tinta merah diujungnya. Karpet umur. Siapa tahu.

Saya punya kebiasaan tatkala berulang tahun untuk segera memeriksa Surat Ijin Mengemudi, KTP, dan beberapa surat penting lainnya yang biasanya memiliki masa kadaluwarsa bersamaan dengan ulang usia pemiliknya. Kebiasaan lainnya adalah melakukan pengecekan darah "O" saya, tekanan jantung, kadar gula, lemak dsb. Setelah mendapatkan rapor maka bisa diperkirakan langkah-langkah selanjutnya. Beruntung selama ini rapor masih berwarna biru. Bahkan satu anugerah ketika si "buyung" yang biasanya selama seminggu jadi the letoy boy" - kecuali jumat malam atau sabtu malam (tapi tidak dua-duanya), bisa berubah seperti di usia 30-an.

Saya masih menyelidiki penyebabnya mengapa tiba-tiba tubuh bisa memproduksi "viagra" lokal. [Bangga banget sih!]

Dan akhirnya kedapatan bahwa pada tanggal 4 Maret lalu, SIM "A" saya sudah harus diperpanjang. Lalu ingat cerita mas HP reporter jalan GatotSubroto mengenai memperpanjang SIM. Memang ada perubahan, yaitu di pintu masuk sudah dihadang petugas untuk memeriksa ktp. Dan untuk keruang selanjutnya (foto, sidik jari), masih ada penjaga yang hanya mengijinkan peserta masuk ruang kalau memiliki berkas pendaftaran.

Singkat cerita, sampailah saya keloket pengambilan SIM. Ada seorang bapak menyelipkan uang Rp. 10 ribu diantara berkas. Sang petugas tanya "ini untuk apa?, ndak perlu " Tapi sang pelamar keukeuh sambil bilang, "nggak apa-apa biasa pak" - dan uang kertas tadi lalu diterima pak loket. Saya terpaksa mencabut lembaran 10 ribuan dan saya simpan kembali di dompet. SIM saya ambil, tetapi petugas memanggil saya. "berapa aja deh pak"

Lho, yang tadi itu sinetron apa ya?

Replies Author Date
13209 Re: jariig
Wah pak Mimbar barusan ultah ya ? Buat Pak Mimbar Wish you have a great birthday

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com