Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 16, 2006

Imajinasi Liar - Hamsad Rangkuti

Date: Mon Aug 9, 2004 9:38 am
Cerpenis kondang sekaliber Hamsad Rangkuti sekali waktu pernah membeberkan teknik menulis cerpennya. Warga Depok yang kadang "kungkum" di tebat ikan gurami di rumahnya ini mengaku seorang pelamun dengan stadium "tak tertolong".

"Saya suka duduk berjam-jam di atas pohon, membiarkan pikirannya "ngerogoh sukma" alias melayang kemana-mana. Itu nikmat sekali, kata penulis produktip yang berbakat alam itu.

Hobby lainnya, ujar kelahiran Titikuning, 7 Mei 1943 disiang hari adalah ia mengintip dari jendela rumahnya ke arah tukang tambal ban sepeda. Bukan memperhatikan bagaimana cara kerja pak Tambal, melainkan mencari akal agar sepedanya kempes dan bisa "numpang mompa" super lama di pak Tambal. Sambil curi kesempatan agar anak gadis pak Tambal keluar lantas mereka tukar menukar senyum dan lirikan.

Malam hari adalah teman Hamsad. Dengan malam ketika orang tertidur, penulis kelahiran Titikuning ini paling suka melihat kegelapan malam. Apalagi dulu almarhum ayahnya adalah seorang penjaga malam yang pandai mendongeng. Ia sering menemani ayahnya berjaga malam, hanya untuk mendengarkan tutur dongengnya. Kemungkinan bakatnya bertutur, ya turun dari ayahnya ini. Kalau saat terang bulan, yang dilakukannya adalah melihat sinar bulan sambil membayangkan sinar bulan memasuki jendela rumah yang tak pernah tertutup di malam hari sambil memeluk anak gadis pak Tambal. Sampai satu malam, ia nekad menggunakan tangga, meloncati pagar berduri, melongok ke arah kamar di balik jendela tersebut. Sang gadis tersentak, melihat sosok pemuda ada dikamarnya. Ia menghambur mengunci pintu kamarnya dari dalam, dan mengunci jendela setelah membantunya masuk kamarnya dan mendorong tangga. Malam itu sinar bulan cuma mampu mengintip iri lantaran pekerjaannya setiap purnama sudah digantikan. Layaknya anak tanggung 16 tahunan, siangnya, dikedai kopi, ia bercerita
panas didepan teman-temannya akan pengalamannya dengan Arida, nama anak gadis itu. Kawan-kawannya panas sebab Arida dalah kembang desa. Sukar didekati. Mereka bilang mana mungkin kumbang kecil seperti Hamsad punya nyali lompat jendela, menanggalkan bajunya lalu "mengentup" si kembang desa.

Mereka menyangkanya berbohong.

Sejak Sekolah Rendah, ia berminat akan membaca. Caranya kalau pulang sekolah, tidak langsung pulang tetapi tahan berjam-jam berdiri dibawah papan tempel tempal pak Wedana menempelkan koran-koran papan. Hari Senin adalah hari besarnya. Sebab koran edisi Minggu yang banyak memuat cerpen, fiksi bisa dibaca disitu. Di kantor wedana Kisaran. Ia mulai mengenal Anton Chekov. Hemingway, Gorky dan karyanya.

Celakanya bacaan tersebut selalu menempel tak hilang dari ingatannya. Lalu tanpa disadarinya timbul berahi untuk menulis. Suatu hari di hutan "para" ia melihat seorang buruh penyadap getah para (karet) sedang menderes getah dari satu pohon ke pohon. Tidak lama kemudian, datang seseorang bersepeda. Mereka bercakap dengan serius, sejenak keduanya meninggalkan hutan karet tersebut. Kisah ini dicatat dalam memorinya lalu mulai di jalin sebagai sebuah kisah fiktip. Ia lalu mengarang, isteri penderes tersebut dalam keadaan hamil tua, terpeleset di kamar mandi karena lantai berlumut. Maklum sejak hamil ia tak mampu berjongkok untuk menyikati kamar mandi. Ketika sang suami bergegas pulang dari onderneming ke rumah. Sang istri berjuang melawan maut mempertahankan janin atau nyawanya. Hamsad seperti mendengarkan nyanyian sedih yang mengiringi pacuan antara perjalanan suami dari kebun karet dan istri yang keguguran ke rumah sakit.

Imajinasi liar ini lalu dibentuk dalam sebuah cerpen "Sebuah Nyanyian di Rambung Tua" 1959 saat ia berusia 16 tahun.

Jakarta 9 Agustus 2004
Mimbar Bambang S
Suka melamun tetapi belum pernah pakai tangga.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com