Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 03, 2006

Iklan Rokok, bintangya pakde Saya

Date: Mon Apr 10, 2000 6:40 am

Pernah menyaksikan tayangan iklan rokok Jie Sam Soe yang menggambarkan seorang executive muda mengemudikan sendiri sedannya di malam hari. Kelihatannya ia terburu-buru, sampai sampai lupa membawa supirnya, untuk mobil semewah "One Step Ahead".

Ternyata ditengah hujan lebat, jalanan diblok oleh sekelompok kerbau. Melihat bapak angon dengan payung daun pisang ditemani isterinya, tidak mampu mengendalikan kerbaunya, memaksa sang exe muda harus ikut turun dari BMW untuk ikut menyingkirkan mahluk bandel tersebut dari jalan raya. Mula-mula dia menggunakan payung, tapi hujan masih menerpa tubuhnya, membasahi baju dan dasinya. Tanggung pikirnya, sekalian basah-basah seluruh tubuh. Ia pun ber ah ah ah sambil berjoget mendorong kerbau agar keluar badan jalan.

Mungkin ini pengalaman unik bagi sang exe. Karena sudah terlanjur basah-basah seluruh tubuh, ah, ah (bukan mandi madu) ia membatalkan acaranya, malahan ganti acara untuk berkunjung ke rumah bapak angon untuk minum teh hangat setelah berkutat berjam-jam mengatasi mogok masal para kerbau. Adegan diakhiri dengan pemasangan cincin akik ke jari sang exe. Orang desa malahan menyumbang orang kaya.

......................................................................

Saya kebetulan kenal baik dengan bapak drs Sandiwan Dasuki (76 tahun). sang pelaku sebagai "bapak Angon" dalam komersial tersebut. Mula-mula saya tidak memperhatikan sungguh-sungguh sebab gigi palsunya dicopot sehingga ketika ketawa, manglingi. Ternyata setelah di konfirmasi, tidak salah lagi dia orangnya.

Dosen ini memang sehari-harinya amat bersahaja. Dia tidak risih, misalnya ngontel sepeda mini tua yang bunyinya kriyat-kriyet, kadang sarungan. Dia bangga menggunakan Caping Bambu sembari naik bis kota ketempatnya mengajar di salah satu uni swasta. "Bisa tidur, tahu-tahu sampai." itu alasannya. Kadang pakai surjan, yang sekalipun di Yogya sudah tidak trendy saat ini.

Dulu, ketika masih aktip dikesatuan angkatan bersenjata, sebagai kepala seksi logistik dia melihat banyak manipulasi gudang yang dilakukan rekan kerjanya. Nuraninya terganggu dengan lingkungan kerja demikian. Dia memilih keluar, menjadi dosen. Omar Bakri, mungkin julukan yang tepat diberikan kepadanya.

Bagaimana sampai bisa di gaet kasting oleh produser, memang ceritanya berbau kebetulan.

Suatu hari, cucunya diajak oleh sebuah biro iklan untuk membintangi salah satu acara komersial. Pakde Das, demikian saya biasa memanggilnya lantas mengantarkan cucunya ke studio iklan tersebut. Maklum ibu dan bapaknya adalah penjual ikan hias di kawasan Makaliwe Raya - Grogol sehingga tidak merasa perlu untuk "nyempetake" aquarium ikan hiasnya. Tugas dialihkan kepada sang Eyang yang terkena getah untuk mengantarkan cucunya ke studio.

Karena jadwal shooting selalu molor, sang cucu kesayangan ngambek dan tidak mau meneruskan acara pengambilan gambar. Pelbagai usaha membujuk sang cucu tidak membuahkan hasil.
Adegan Eyang bujuk cucu ini secara tidak sengaja ini malahan ditangkap jeli oleh sang produser.

"Gaya bapak sangat wajar," kata produser.

Dan mulailah ia ditawari shooting. Biasanya kata produser, orang yang datang ke studio selalu bergaya dibuat-buat, ini nantinya akan menyulitkan pemahaman karakter.

Tempat shooting di Cikarang. Sebagai ibu didatangkan dari Parakan, Jawa Tengah. Saya tanya siapa nama bintang iklan utama yang ngguanteng itu ?

"Ah embuh, saya nggak tahu," katanya enteng.

Shooting dilakukan selama 3 hari, setiap jam 10.00 semua awak dan pemain harus siap, tapi shooting dikerjakan jam 02.00 dinihari.

Bagaimana rasanya tulang tua, diajak begadang, diguyuri hujan buatan di malam buta. Hanya pakde Das yang bisa merasakannya.

"Kerbaunya pinjam orang kampung Cikarang."

Kesannya, wah jadwal shooting molor. Yang lebih penting lagi belum satupun dari mereka menerima honor atas jerih payah 3 hari begadang berbasah kuyup.

Ia hanya menyesalkan, bagaimana perasaan pak angon (betulan) pemilik Kerbau menunggu kiriman honor yang tak kunjung tiba. Padahal produser janji sebulan setelah penayangan, honor akan dibayarkan.

Atau memang tayangan tersebut belum lengkap sebulan ?

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com