Ibu Sekel

Date: Mon Feb 28, 2000 7:13 pm

Saya mengenalnya sebagai Ibu SeKel (Sekretaris Lurah), padahal suaminya bukan sekretaris lurah, rambutnya yang bergelombang di potong pendek, setiap pagi sering melihatnya kalau sedang berada dekat truk sampah (yang bahunya nggak ketulungan), sambil memberikan instruksi melalui Handy Talkinya. Perempuan perkasa.

Di malam hari, selain mengecek sampah, pekerjaan tambahan Sekretaris Kelurahan Grogol ini, adalah melakukan patroli para penjaga malam, satpam, dan tentunya kantor kelurahannya. Karena bertahun-tahun melihat hal yang sama konsisten, timbul respek saya pada perempuan champion ini.

Saya dengar di Klaten sana, ayahnya juga lurah. Kalau ada pemilihan RT, atau sosialisasi dari PemDa, beliau selalu menyempatkan diri hadir. Kadang perintahnya agak berbau seenak-e dewe. Orang disuruh menyediakan Satpam atau Kamra (dua orang), biaya ya sumonggo usaha warga. Truk sampah sering terlambat karena digunakan ngobyek, kalau mau truk yang siap 24 jam, ya sumonggo usaha warga dst.

Suatu ketika, rambutnya dipotong lebih pendek, bahkan kali ini diberi "bleach" kemerahan, dan rambut berombaknya menjadi lurus. Selain Handy Talky, sebuah mobile "Nokia", nampak tergantung disisinya. Nyetir Kijang sendiri lagi.

"Selamat pagi bu Sekel" sapa saya suatu pagi.

Tapi kok senyumnya kali ini sedikit kecuut. Ada apa ini ?

We lah, kojur aku, blaik-blaik, ternyata sekarang sudah jadi Lurah Grogol Petamburan. Dasar saya kurang piknik. Cuma, kelihatannya warga susah sekali mengubah sapaan dari Sekel menjadi Lurah. Jangan-jangan jadi kalau kelak jadi Walikota, masih dipanggil Bu Sekel sekalipun style rambut sudah diubah lain lagi.

Lantaran itu saya ingat ibu saya, di Teluk Betung selalu dipanggil pak mbecak, jamu gendong dengan "bu Kompi", lantaran mereka dulu kenalnya, bapak saya adalah seorang Komandan Kompi Korps Brigade Mobil. Ketika ayah di promosi jadi Komandan Batalyon, (gagal jadi Komandan Resimen, sebab Pangab Panggabean waktu itu melikuidasi satuan elit seperti Resimen Brimob dan Marinir untuk mengembangkan Kopasus). Sekalipun ayah sudah pensiunpun ibu masih dipanggil "bu kompi".

Kebiasaan ibu saya mengatakan : "beli teh setengah kilo di tempatnya orang Batak sana." Padahal namanya ibu Marpaung. Sia sia saya mencoba mengoreksinya untuk tidak menyebutkan nama suku.
Cuma, sekali waktu, dia sempet sewot ketika tetangga yang aseli Lampung, menyuruh anaknya pinjam tangga ke rumah (dan ibu saya
dengar), "coba pinjam tangga ke orang JawO sana (maksudnya keluarga kami).

Tapi karena ini bukan filem India, maka sekalipun pernah kepentok "tersinggung sedikit" dengan sebutan si Jawa, kebiasaan memanggil nama suku masih sering terdengar.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe