Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Hotel Prodeo

Boei, Penjara, Terali Besi, bahkan istilah di-amankan tetap saja sama pengaruhnya, diisolasi dari dunia luar. Sepanjang mata menatap cuma tembok tinggi dan kerangkeng besi yang nampak. Mata terlepas Badan Terkurung, tapi nyimeng jalan terus. Jaman Kumpeni, penjara yang pertama dibangun dengan landasan "menjaga ketertiban dan ketenangan", adalah boei di Stadhuis, sekarang museum Jakarta.

Menempati ruang bawah tanah dengan kamar yang kecil sehingga Dr. Haan (bukan Haan de Boer) penulis sejarah Betawi mengibaratkan: "siapa yang ingin mengkirik, bole masuk ke itu donker-gat alias lubang gelap."

Penjara di bawah tanah

Di bawah gedung tersebut, yaitu di ruangan bawah tanah, terdapat penjara.
Ruangan itu masih ada sampai sekarang, tetapi tentu saja tidak dipakai sebagai penjara lagi. Pada tanggal 26 April 1973, sebuah tim dari Panitya Pemugaran mengadakan peninjauan ke sana. Mereka berkesempatan turut serta dan sempat pula melongok ke dalam bekas penjara itu. Dari jendela-jendela kecil dengan jeruji besi empat persegi besar, terlihatlah sel-sel yang kini kosong dan gelap. Sel-sel itu sempit dan berlangit-langit rendah, berdinding beton kekar dan kurang menerima cahaya dari luar. Begitu kecil ukuran ruangan itu sehingga dalam buku Oud Batavia, Dr. F. de Haan menamakannya "lubang gelap" (donker gat) dan kandang-kandang (hokken).

Untuk melukiskan tentang penjara tersebut, Dr. F. de Haan menggunakan kata-kata "kenang-kenangan menyeramkan" (grimmige herrinneringen). Ahli itu menulis, "Yang sampai ratusan tahun membuat bulu roma berdiri sehubungan dengan gedung Stadhuls adalah penjaranya. Gerbang penjara terletak di samping kin Stadhuis, pada jalan raya Binnen Nieuwpoortstraat (sekarang Pintu Besar Utara). Sebuah gerbang tembok keeil, dengan pintu yang kekar dan menyeramkan. Pada pintu itu terdapat lubang pengintai (spiegat) dan pengetuk (klopper - alat logam yang tergantung untuk mengetuk pintu). Di balik gerbang terdapat sebuah bilik kecil dan gelap dengan seorang penjaga pintu berwajah bengis.

Lewat sedikit dari bilik penjaga itu, kita sampai pada gerbang kedua dengan pintu ganda. Pintu yang satu, yang lebih kecil, menghadap ke jalan raya. Pintu kedua yang lebili tinggi, tembus ke pekarangan belakang Stadhuis. Kedua pintu itu bergerendel besar-kekar.

"Siapa ingin merinding, boleh masuk ke situ," kata de Haan. (Wie op kippevel gesteld is, moet hier zip . . . ")

Untung Suropati juga pernah di "boei" disitu.

Lha dimana munculnya istilah Hotel Predeo. Inilah pengamatan Bintang Betawi.

Setiap pagi, bang Napi dan kawan-kawannya digiring seperti sapi dirante keluar dari rumah bui diiringi oleh penjaganya yang disebut mandor rante. Sebelum pergi ketempat kerja, mereka diberi makan sekenyang-kenyangnya sehingga sepanjang jalan mereka menyanyi-nyanyi bahkan ada yang mengganggu orang lain. Tempat bekerja mereka biasanya
palais (Istana) atau rumah pembesar lainnya. Pekerjaannya menyapu sambil mencabuti rumput, sambil tetap bernyanyi-nyanyi.

Pukul 11 mereka mendapat ransum makan siang dan setelah makan siang ada acara rebah-rebahan atau tiduran di warung. Setelah itu mereka pulang ke Bui sambil bernyanyi-nyanyi. Praktis sehari cuma 3-4 jam bekerja.

Inilah nampaknya asal kata Hotel Predeo alias hotel Gratis, siapa yang nggak keenakan. Sebut saja penduduk Tangki bernama Brahim. Ia baru saja keluar bui lantaran berbuat kejahatan, ternyata baru beberapa hari dia masuk (bui) lagi. Di depan landraad ia menyatakan lebih suka di bui karena mendapatkan makan dengan percuma dan tidak perlu bekerja keras.

Habiss enak sih...

From: Mimbar Bambang Seputro
Date: Mon Jul 28, 2003 11:10 am

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com