Hotel dekat Bandara Sultan Syarif Kasim II

Belum lama ini saya melakukan perjalanan bisnis kesuatu daerah. Beberapa ratus meter dari bandara Sultan Syarif Kasim II, saya melihat hotel megah yang sepertinya kesepian. Kiri kanan hotel hanyalah tanah merah.

Bulan Mei 98, saya pernah menginap di hotel ini. Pakai kunci digital ala kartu kredit sehingga kunci pakai anak kunci seakan-akan masuk era dinosaurus. Bellboy memasukkan kartu kredit kunci, terlihat lampu kecil warna biru pada panil kunci menyala dan Voilla, pintu terbuka.

Tapi... nanti dulu...

Ternyata didalam kamar ada penghuninya. Dia juga tampak kaget sebab saya lihat bapak ini sedang membuka kopornya.

Kok bisa ?.

Apakah ini berarti semua kunci kartu bisa dipakai untuk semua kamar?

Saya ingat di hotel Boullevard Singapore, iseng saya coba membuka kamar tetangga disebelah saya. Yang terjadi adalah, kode pada kartu kunci dirusak atau dihapus sehingga saya harus melaporkan ke bagian front desk untuk me-reprogram kunci kartu saya. Untung si resepsionis cuma mengira baterainya sudah sowak.

Dua tahun (lebih sedikit), saya masuk hotel yang sama. Thanks God
kunci saya tidak di duplikasi lagi. Ikutan gaya mas Yusuf, menghempaskan badan ke ranjang, saya langsung buka pancuran air hangat dan coba mandi.

Ketika akan mengeringkan badan. Ada yang aneh.
Handuk saya tenyata ada dua lubang sebesar kartu kredit.
Lho kok bisa ? Tapi kan ada dua handuk ?, coba yang satunya.
Oh saya ingat peribahasa dunia cuma diciptakan atas dua sisi, ada siang dan ada malam. Kalau satu hitam, satu putih. Satu handuk bocor, handuk lainnya..... lebih bodol. Sial bener.

Selesai mandi, tentunya ke resto di hotel untuk makan malam. Saya pesan satu masakan seafood yang sederhana. Udang Goreng Tepung.
Jawabannya, makanan tersebut sudah habis dipesan oleh orang lain, sebab saya adalah orang yang pertama kali terregister di resto tersebut. Lha wong di resto itu tamunya cuma saya dengan seorang teknisi band sedang coba Mike, test, test, test, satu.., dua.., tiga.., lantas suara mike di ketuk, bunyinya buk, buk. Masih kurang marem di damu, Fiuuuh Bum, Fiuuuh Bum. lalu klothak, suara mike digeletakkan.
Tapi saya janji, kapan-kapan akan berkunjung lagi ke Hotel Berbintang yang unik ini. Dengan kamar nomor 116...

Date: Thu Aug 24, 2000 1:32 pm
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe