Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 05, 2006

Helokopter Gagah Berani

Date: Thu Feb 15, 2001 3:36 pm


Rupa-rupanya banyak komentar masuk atas tulisan saya mengenai "Naik Cassa Istimewa Kududuk Dimuka."

Ada cerita lain, di daerah Lhok Shukon kami naik Helikopter untuk diterbangkan di suatu lokasi pemboran lepas pantai di Nol Kilometer. Bagi yang belum pernah naik Helikopter, maka bayangkanlah sebuah Bajaj yang terbang. Suaranya, bau asap knalpotnya, dan getarannya. Diraba-raba beda, dirasa-rasa Samma.

Interior dalam pesawat biasanya sebahagian besar sudah lepas. Anda bisa melihat dengan jelas bagaimana kabel dari ruang kemudi yang bergerak diantara roda-roda langsung menggerakkan ekor pesawat. Berderak-derak sampai berderit-derit bunyinya. Persis melihat tali kopling bajaj.

Selang beberapa menit penerbangan berlangsung, masyarakat mulai mencium bau bahan bakar pesawat yang seperti minyak tanah semakin keras. Saat itu kami sudah berada di atas laut lepas. Seorang awak Pemboran, memberitahu Crew Pesawat dengan bahasa colek (nggak bisa bicara, kecuali tereak keras).

"Ada yang nggak beres di pesawat, baunya kuenceng sekali." expresinya, muka nyengir sambil mengipas hidung pakai tangan

Sang mekanik hanya melihat sesaat, lalu memberikan isyarat. "Hakuna Matata", no worry, everything under control - tapi bacanya gaya India PasarBaru.

Tapi kok dengan jelas terlihat, ada semburat cairan dari badan pesawat. Kita sudah kami-teteren, gelisah!, sedangkan pak mekanik sudah "mak lher". Terbukti bisa tampak Ilernya.

Sekali lagi mekanik di colek, lihat noh ada selang bocor kali.

Betul saja, setelah menyapu ilernya, pak mekanik bisik-bisik dengan pilot melalui alat telekomunikasinya, dan secara mendadak pesawat Balik Kanan, tapi tidak sampai bubar jalan sebab bukan Departemen Penerangan.

Oh No, ada sistem hidrolika nggak bekerja.
Oh No, kok sistem instrumentasi pesawat tidak bisa mendeteksinya.

Yang mendeteksi instrumen Sego Pecel (ikutan pelawak Gudel alm).


Kami kembali ke pangkalan, untuk ganti helikopter.

Para Crew yang telah menyelamatkan nyawa karena ketajaman hidungnya dan rasa "Care" tidak pernah mendapatkan ucapan selamat apalagi hadiah. Padahal dalam 1 jam penerbangan, masih sangat besar kemungkinan terjadinya kecelakaan fatal.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com