Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Habis beras makan gabah

Siapa yang tidak kenal dengan pemeo plesetan dari dunia "Sumatra Belor" istilah Betawi untuk orang Sumatra "sebla Lor" yaitu Horas Bah, Habis Beras makan Gaba(h).
Semula pemeo ini saya pikir hanya olok-olok belaka dan tiada perlu diperhatiken atawa di bahas.

Jaman kompeni dulu, ketertiban dalam beteng diserahkan umumnya kepada polisi kota yang diberi pangkat "baljuw", sedangkan ketertiban di luar beteng dipegang oleh pasukan "landdrost". Istilah tersebut lalu diubah oleh Raja Lodewijk, dengan ejaan yang disempurnakan pada Januari 1792. Istilahnya lebih moncer yaitu "SCHOUT" untuk pengganti Baljuw tadi. Di Betawi ada polisi yang disebut Schout, Opziener (pengawas), Opas polisi, ada Mantri Polisi dan polisi khusus pelabuhan yaitu Waterschout. Jaman saya kecil, almarhum kakek sering bilang Mantri Polisi, tetapi lantaran kurang "mudeng" maka kata mantri polisi lewat begitu saja, kecuali mantri cacar tentunya sebab ini berarti antri didepan kelas sambil menggulung lengan baju dan meringis ketakutan di di gores jarum cacar.

Polisi-polisi yang aselinya keturunan Belanda secara otomatis masuk sebagai member dari korps "schout" dan "opzienen." Ini rada berbau KKN tetapi mau diapakan lagi, sampai sekarang pun Betawi memasuki usia 476, jabatan Manager hanya boleh dipegang orang Putih. Yang lain cuma "bala dupak" alias kurcaci belaka.

Para Schout ini direkrut dari pensiunan sersan angkatan darat maupun laut kerajaan Belanda dan sifatnya rekruitmen cenderung asal-asalan. Menurut koran Pembrita Betawi 20 Juli 1903, banyak diantaranya mereka ini semula berasal dari tukang tambur, koki, opas rumah sakit, korsik (korp musik) dan ada yang bekas pengelola rumah bola-sodok (sositet).

Jadi sekalipun latar belakang pendidikannya jauh dari ideal, tetapi karena "Olanda" aseli lho, mereka tetap dijadikan anggota korps elite pada waktu itu. Tidak heran mereka menjadi agak kedodoran kalau berhadapan dengan "orang pikiran busuk."

Alasan lain, apalah yang diharapkan dari hasil recruitment atas diri pensiunan kecuali bekerja asal aman (maklum sudah punya anak bini mungkin cucu) mungkin poligami sehingga baginya yang penting hidup terjamin di hari tua.

TURUN HARGA
Akibatnya, seorang schout selalu dianggap oknum bermental tidak baik, mendengar kata schout saja orang Betawi membayangkan sosok tubuh pemabuk, doyan main judi Top sampai CapJiKi, kurang ajar, rakus, doyan perempuan dan sering sekongkol dengan penjahat. Tapi itu jaman dulu, kalau sekarang sih tentunya... tetep.

Tetapi seperti juga seratus tahun kemudian alasan kemerosotan Schout ini katanya akibat gaji yang kecil. Ada Schout sudah bekerja 15 tahun digaji manteng di 50 gulden dan itupun sudah mentok.

Lebih celaka, para schout yang pangkatnya lebih rendahan. Karena gaji resminya kecil, maka seminggu setelah gajihan biasanya mereka melakukan pungli kecil-kecil, sesamben yang terkenal dengan sebutan "makan gaba(h)"

Dengan kemampuannya memijit (memungli) orang kecil, tidak heran banyak opas polisi saban hari mampu mengisap lisong, dan rumah tangganya tidak pernah kekurangan uang apalagi habis beras.

Belakangan ini santer terdengar berita bahwa penggawe penggawe polisi pangkat kecil akan ditingkatkan kesejahteraannya, maksudnya tentu oepah akan di naikkan, tetapi Bintang Betawi 20 Juli 1903 berkomentar "meski ditamba gaji sebrapa banyak, tiada urung mereka itu meneruskan kelakuannya yang biasa yaitu memijit orang kecil.."

Dengan kenyataan seperti itu tidak heran ketika Schout Hinne menembak mati si Pitung, seorang perampok budiman maka oleh sebagian besar penduduk Betawi, maka sambutan masyarakat Betawi dingin-dingin saja. Mereka tidak punya penghargaan kepada Schout Hinne yang sudah mengganti peluru timahnya dengan peluru emas agar kulit si Pitung bisa ditembus. Cerita versi lain menulis ia di lempari telur busuk baru ditembak.

Pitung dari Rawa Belong adalah Robinhood bagi rakyat Betawi. Bersama temannya Rais dan Jii, pitung merampok para tuan-tuan tanah di Betawi dan Meester Cornelis (Jatinegara) dan hasilnya dibagikan kepada penduduk Betawi yang terpinggirkan oleh pembangunan Betawi. Pendekar ini dikenal mampu meloloskan diri dari sergapan maupun tembakan sehingga timbul kabar ia kebal dan mampu menghilang.

Pitung menemui apesnya ketika seorang sahabat dekatnya berkhianat dengan mengatakan kepada Schout Hinne bahwa peluru emas adalah kelemahan Pitung. Tahun 1894, hidup si Pitung berakhir dan pamor Schout Hinne naik karena telah menunjukkan "banyak kerajinan dan kepandaian di dalam perkara polisi."

Tidak dijelaskan oleh Pembrita Betawi apakah teman yang berhianat ini duduk dikendaraan operasional sambil mengisap lisong menyaksikan sohibnya dibantai, seperti terjadi pada pembantaian Uday dan adiknya di Irak pada abad ke 21.

Jadi kalau ada pemeo "Habis Beras Makan Gaba(h)", mustinya ditujukan kepada para Schout atau Opzier tukang palak ya...

Thursday, July 31, 2003
MIMBAR SEPUTRO

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com