Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 04, 2006

Haat Belajar

Date: Thu Jun 29, 2000 4:14 pm

Seperti diketahui, pemandangan di peturasan hotel maupun kantor yang
paling buruk adalah melihat jejeran orang-orang yang membuka resliting celana. Mula-mula breettt zip pantalon ditarik, lalu sepertinya ada leher kecil yang "dicekik". Lalu beberapa saat kemudian, kelihatan sekali sampai tubuh menggelinjang seperti jijik atau geli atau dua-duanya aja ah. Itu katanya tanda B.A.K sudah tuntas tas tas.

Kadangkala acara B.A.K (buang air kecil) masil berlanjut dengan upacara "pengobatan" maksud saya leher yang dicekik tadi masih dengan sadis di "Obat-Abit" kan ke kanan dan kekiri, atas dan bawah, kadang dibikin seakan-akan terbuat dari potongan per "Treksando". Begitulah seterusnya sampai tetes yang terakhir. Pokoknya tuntas tas.

Saat upacara berlangsung, pemiliknya cuma mampu melihat kedepan, tertumbuk dinding dingin membisu. Kalaupun ada tulisan, paling berupa tulisan "Jagalah Kebersihan", "Jangan membuang Tissue atau Puntung Rokok ke Urinoir", atau "Flush the Urinoir 4 seconds at least"

Singkatnya, monoton dan membosankan. Gus Dur sendiri sampai bisa menurunkan dagelan berasal dari anekdot di kamar kecil.

Hotel Novotel Medan, juga menyediakan urinoir di lobi hotelnya. Tapi dengan cara yang luar biasa cerdas, mereka menempelkan koran berbalut kotak kaca didinding kamar kecil. Akibatnya secara tidak sengaja para peguna peturasan akan tertumbuk pada tulisan dalam media tersebut. Dengan demikian terjadilah keseimbangan, satu sisi mengeluarkan hajat kecil dan sisi yang lainnya lainnya mengisi pengetahuan. Membaca sambil berhajat, kelihatannya motto yang dipakai oleh hotel yang berafiliasi dengan France ini. Pasti di Lobby mereka sekarang akan tertulis skore pertandingan 2:1 besar-besar atas kemenangannya melawan Portugal.

Di hotel ini pula, para gadis manis menyuguhkan Marquisa dingin sambil tersenyum, Selamat Siang Pak Mimbar.
Pada saat saya mengisi formulir registrasi lho.
Rupa-rupanya mereka dilatih untuk segera menghapal nama tamu yang baru saja mendaftar. Jadi tamu yang tadinya nobody menjadi seakan somebody. Gitu.
12,8 Kilometer dari hotel tersebut, ada Hotel kelas one night stand, yaitu Melala. Kini hotel itu ditutup sementara setelah beberapa waktu berselang di lempar Granat oleh seorang suami yang mendapati isterinya sedang potong bebek angsa di hotel tersebut.

[Cerita ini ditujukan terutama untuk mas Bambang Aris sebagai balasan saya dikirimi satu set kumplit (kurang sedikit) Serial Nagasasra dan Sabukinten]

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com