Gurameh di Indovision

Quick Channel adalah TV berlangganan milik IndoVision, sebetulnya kurang pas orang yang memiliki TV Indovision kan biasanya orang "Atas Angin" kata WS Rendra. Public Service yang ingin dituju adalah memberikan penjelasan kepada masyarakat, bahwa ada jebakan-jebakan para "bandit ber notaris" yang memberikan iming-iming kembali modal dalam waktu cepat, padahal seperti bisnis lainnya ada pothole, sandungan juga.
Jadi kalau di kantornya ada Quick Channel Indovision, jam 17.00 tuning ya

Tapi ini memang langkah kecil dari suat Giant Langkah. Hopefully.
Jadi saya usahakan mendapatkan Videonya.

Persiapan menjelang Quick Channel

Lha saya yang mau Talkshow saja masih ngantor, malahan permili yang heboh mau ikutan nonton kalok di TIPI itu kayak apa sih isinya. Ada yang sudah bawa foto segala, nggak tahu apakah ada tupperware diisi sego dan tikar pandan. Musti saya cek itu. Indovision ada di daerah Jakarta Barat.

Semalam saya sekitar jam 21.00 cek lokasi, karena nggak bisa dapat petunjuk apa-apa, tanya dengan tukang rokok diseberang jalan, wah saya nggak tahu Gedung Indovision itu dimana. Padahal dia mangkal di halaman Indovision. Kok persis seperti saya ditanya itu gunung apa namanya, padahal tiap hari liat dan tidak pernah tahu gunung yang kelihatan kalau mau ke puncak itu namanya apa.

Jadi ingat, ketika Talk Show di Kantor Berita Radia 68H, tempo hari. Kok perkakasnya sedikit beda.

Saya dulu ya pernah ikutan main di Radio Amatir (istilah dulu), sekali saja dan melihat bagaimana operator mengorganisir piringan hitam (PH) untuk diputarkan terutama pada acara pilpen (pilihan pendengar). Malah kalau sedang musimnya jor-joran lagu baru, kaset-pun ikut diputar, Jadi jangan heran kalau nanti ada suara nguik-nguik karena sebagian kaset kusut. Atau ada lagu nggak match karena kasetnya kelipet jadi ngambil side B nya.

Kalau PH rusak, misalnya A. Rafiq yang sekarang lagi sumpahin anak menyanyi "Biarlah Kutanggung Semua Derita", lalu PHnya rusak pas di "Biarlah Kutang" diulang-ulang sampai operator sadar dan menggantinya dengan lagu yang tidak nyaris cekal.

Ketika masuk studio Radio, lha kok lebih mirip WarNet sebab sang operator cuma modal mouse (dan perangkat lainnya). Semua lagu sudah masuk kompie (bahasa gaul Komputer), lalu di klik sana sini pakai WinAmp.

I am totally underdeveloped man.


Senin 22/10/2001 jam 16.00 saya sudah tiba di lantai M, Gedung INDOVISION. Studio saat itu penuh sesak yang rupa-rupanya Herman Kartawijaya pembicara Strategi bisnis sedang mengisi acara. Rupanya saya didaftarkan sebagai pembicara dari Tabloid Kontan.

Jam 16:30 dua orang dari Kontan datang yaitu Christiantoko (sering menulis masalah Handphone) dan Anto (bagian Promo). Sementara menunggu itulah saya mulai bicara mengenai Gurami sehingga sang presenter bisa "diisi" secara cepat pengetahuan teknis Gurami.

Jam 17:00 ada pengumuman bahwa terjadi pengunduran jadwal karena ada tamu Investor Swiss yang akan bekerjasama dengan Jaring Data Interaktip, konon sehubungan dengan hengkangnya Peter Gontha dari perusahaan tersebut.

Akhirnya saya pasrah menunggu acara mulai jam 19.00 kelihatannya "Taping" atau rekaman bukan "life", suatu istilah yang baru saya ketahui. Belakangan dari rekan di SCTV saya diberitahu bahwa pada jam 17:00 tersebut mereka sudah memonitoring Quick channel, isinya kata-kata Mutiara dalam Selimut jadi nggak ada itu acara orang Swiss. nah Lho Binun aku...

Jam 19:00 akhirnya pengambilan gambar terjadi juga, ternyata studio isinya cuma dua kursi ala bar dengan meja yang kalau buat nulis saja oglek. Latar belakang adalah kain biru, cuma waktu dilirik di belakang saya gambar yang indah. Oh era digital rupanya.

Saya sedikit kagok konsen, terganggu ketika acara "break" untuk commercial, jadi musti nunggu kapan mulai masuknya. Tapi karena bicara Gurami ini kerjaan hari-hari jadi ya saya anggep saya mas Christiantoko teman ngobrol. Dan ini memang rahasianya. Berbicaralah dengan "emosi", jadi keluar semua. Kalau semua diatur jangan begini jangan begitu, banyak kagoknya.

Saya semula mau pakai Suite, tapi kesannya kok petani pakai Jas, ya sudah pakai baju biasa saja dan pakai hiasan dasi sedikit. Biar kelihatan petani beneran saya pakai peci, yang juga fungsi utamanya menyembunyikan gundul. Itu hal yang tidak saya sukai, tetapi usulannya untuk memakai peci ya saya terima. Jadi persis petani betulan tampangnya.

Acara berkahir pas 1 jam, dan tidak terasa. Kalau ditanya seneng ya tentu senang sekali bisa muncul di TIPI, gading retaknya adalah acara ini tidak interaktip sehingga komunikasi cuma satu arah.

Ada satu kata yang saya sendiri kaget mengucapkannya begitu saja, "kalau mau beternak Gurami jangan nunggu Pensiun, itu ibaratnya kalau pemain bola sudah duduk di kursi cadangan, alias tidak berdaya.

Lakukan saat belum terkena Post Power Syndrome, dan tambahan pekerjaan baru setelah pensiun yaitu Minum Obat Tiap hari. Lha sakit-sakitan terus biasanya kalau sudah pensiun."

Mungkin saya dapatkan dari kaset di perempatan Warungbuncit yang diputar para pengumpul derma selama kurun waktu 10 tahun lebih kok belum selesai-selesai juga. Mustinya bangunanya besar sekali ya. Di tempat itu selalu ada pemutaran kaset ajaran dan saran berbuat baik dan benar kepada "Orang Lain". Mungkin saking seringnya mendengar itu-itu saja, saya sampai bawah sadar ikut mengopy istilah "pemain cadangan" pinter menggiring bolapun nggak bakalan bikin Gol.

Sorry my big mouth. Maaf kepada teman dari SCTV dan yang lain yang ikut nungguin jam 17.00 ternyata "ahtreit" sampai jam 19.00 WIB.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe