Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 02, 2006

Gumun itu perlu

Date: Tue Dec 7, 1999 5:53 pm
Sekedar Sebuah Catatan :

Ojo dumeh (jangan sok), ojo kagetan (jangan mudah terkejut), ojo gumunan (jangan mudah heran), adalah satu diantara banyak wanti-wantinya para leluhur bangsa Jawa. Yang terakhir itu menjadi menarik, karena beberapa rekan mengemukakan contoh yang bisa ditafsirkan positif dan negatif. Lha wong, gumun saja kok enggak boleh.

Ingatan saya mencatat bahwa : gumun itu perlu. Juga tidak ada yang salah dengan gumunan. Karena gumun yang proporsional justru menguntungkan, mengandung hikmah, menyimpan energi tak terduga, dan enak. Barangkali yang tidak tepat adalah gumun yang berlebihan, karena akan cenderung untuk terlena dan lupa daratan.
Lebih 20 tahun yll, saya berkesempatan untuk mengikuti pertemuan pemuda Asean di Wisma Pancasila Semarang (sekarang bangunan ini sudah disulap menjadi Matahari Dept. Store oleh Orde Baru), saat itu Wisma Pancasila merupakan salah satu bangunan megah di kompleks Simpang Lima Semarang.
Setiba di sana, saya dan teman saya yang sejak pagi berangkat dari kampung ter-gumun-gumun, lha wong gedung kok pintunya kaca semua. Ke-gumun-an saya membuat rasa ingin tahu dan akhirnya berhenti sejenak untuk mengamati "barang aneh" itu. Sementara teman saya saking gumun-nya, sambil tolah-toleh ke atas-bawah-kiri-kanan, bablasss saja masuk gedung. Lalu..., dinding kacapun ditabraknya. Tidak ada yang pecah dan tidak ada yang cedera, hanya saja sempat disenyumi bareng-bareng oleh banyak orang. Dalam hati : "Untung bukan saya yang nabrak kaca".
Ketika belum lama saya tinggal di New Orleans, saya menjumpai toko yang namanya "Dollar Tree". Katanya, barang apa saja yang dijual disitu berharga US$ 1.00. Tentu membuat saya gumun, lha wong jualan kok harganya seragam, murah lagi (tentu menurut ukuran yang duitnya dollar). Padahal dari luar saya intip, barang yang dijual macam-macam dan komplit.

Rasa gumun saya membuat sekali waktu mencoba untuk masuk ke toko itu. Dan..., memang benar, di situ saya dapatkan sebuah buku kumpulan karya seni foto oleh photograph Myriam Young yang dicetak di atas kertas lux, berjudul "Memories of Daughters", seharga satu dollar (bukunya asli, bukan bajakan ala Balubur Bandung). Padahal buku yang sama di toko-toko buku lainnya, termasuk Barnes & Nobel yang punya jaringan luas di Amerika, djual dengan harga lebih US$ 7.00.

Dalam hati : "Untung lagi saya".

Terakhir dalam hati sebenarnya saya juga gumun : "Lha wong Gus Dur kok bisa terpilih jadi Presiden". Tapi saya percaya, kelak akan nampak hikmah apa yang akan muncul dengan Indonesia di-presiden-i oleh Gus Dur. Karena itu bagi saya : gumun itu perlu, sepanjang proporsional dan tidak kelewatan. Karena -- biasanya -- akan menumbuhkan rasa ingin tahu, memunculkan energi untuk menggali ada apa dibaliknya, dan memberikan hikmah yang tak terduga. Setidak-tidaknya "sense of gumun"-nya Mas Mimbar sudah membuktikannya.
Gumun itu tetap perlu. Saya justru gumun kalau ada orang gumun kok digumuni.
(Nola, 6 Desember 1999).-

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com