Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Good Luck vs Thank You

Date: Sun Sep 5, 2004 7:50 am

Summer sudah mulai memeluk kota Perth. Baju hangat mulai dilepaskan. Di Mal-mal beberapa gadis mulai tak sabar untuk memperlihatkan bahu, dada yang terkadang dihiasi "tatto" disekujur bagian yang disebut erogeneous. Katanya teman artinya "erogeneous" bisa bikin kepala jadi errorgeneous. Di depan toko buku itu ada lima pengunjung yang berdiri antri didepan saya. Dua orang kasir yang selalu wanita, masing-masing melayani mesin cash register nampak sibuk melayani pengunjung sambil tidak lupa melepaskan senyum dan saling bertukar sapa. Kadang mereka mengetikkan sesuatu di layar monitor yang terpasang disudut meja. Ditempat ini saya biasanya membeli "kartu tilpun" yang ditukar dengan selembar buah printout thermal berisikan nomor pin dan aturan mengaktipkannya. Teman saya menganjurkan untuk membeli kartu "DayBreak" yang dengan AUS 20 bisa mendapat jatah 300 menit menilpun. Bandingkan dengan Handphone yang melibas kantong senilai AUS 1 (Rp. 6700) per menitnya. Sambil antri saya aktipkan mesin "valuta asing" builtin dalam otak. Sebuah koran berharga Aus 2 (15.000 berarti 7 kali lebih mahal daripada Kompas di Jakarta, Majalah Time dijual sekita AUS 6, yang berarti Rp. 45.000 ). Oh ya hampir lupa majalah bikin error "Hustler" dibanderol seharga Aus 16 koma sekian atau setara dengan Seratus ribu rupiah lebih dikit. Namun Sabtu pagi ini ada yang sedikit mengganggu telinga, tatkala penjual yang ramah dan selalu tak lupa mengucapkan "good luck" diakhir transaksinya kepada pelanggan yang sebagian kulit putih . Tetapi tatkala tiba giliranku, cewek ini hanya mengucapkan kata singkat "thanks.." dengan tidak mengurangi rasa ramah tentunya. Tapi sebelum mengeluarkan cap "perlakuan Rasial" - ada baiknya saya melihat diri. Atau, Jangan jangan inilah "belalang yang lain" - dari suatu padang bernama Australia. Contohnya ketika mereka menyebut "blue" - biasanya kata ini diexpresikan sebagai ungkapan hal yang berkenaan dengan perasaan romantis, cinta dan damai..

Sementara orang Ausie mengatakan "blue" untuk suatu pertengkaran. Tidak heran negeri ini sering disebut "DOWN UNDER", agak nyeleneh. Ambil saja tatkala negeri lain di Eropa sudah mengalami musim Summer yang hangat. Australia masih merangkak dibawah kedinginan 5-10 derajat Selsi. Belum lagi geografi negara yang berada dibawah bola dunia. Dan tak lupa cara pengungkapan bahasa slank campur "aborogin" yang jungkir balik menurut kaidah "bahasa Inggris Cupet" seperti saya ini.

*****

TIDAK BELI BUKU KOK BAYAR ?

Dalam kesempatan lain di toko buku yang sama saya sekarang ikut curi pandang mengenai belanjaan yang dibeli oleh para "DownUnder" - saya mulai curiga, toko buku ini sepi, tetapi yang bayar ramai. Di Indo, toko buku ramai pengunjung. Giliran bayar, sepi... Lha sebagian numpang baca Kapten Tsubasa, tips-tips komputer, Dragon Ball dsb... Orang bilang, pendapatan perkapita mash rendah untuk beli buku. Tapi sangat tinggi untuk membeli Handphone terbaru.

Saya tetap menjadi pengunjung tetap ditoko ini , karena ia memang lebih komplit dari yang lain. Disini saya bisa mengisi pulsa, membeli kartu "Day Break" sejenis Voip Phone guna memangkas biaya komunikasi ke tanah leluhur yang membengkak dan rasanya dikepala "senut senut.."

Ternyata....

Mereka pada antri membeli loterei yang biasanya dibuka akhir pekan. Dan loterei ini sudah di"ler-ler" alias di geletakkan begitu saja dimeja kasir. Dan tidak salah kalau doanya sang kasir "good luck" - wong perjuangan mendapatkan ribuan dollar dengan modal beberapa dollar. Tentunya kalau di negeri Leluhur, doa semacam ini ada buntutnya "kalau ente dapet, ane dibagi."

Untuk tidak terkesan "adu nasib" oleh penjualnya ditulis, "Tersedia Kupon Permainan, dari 2, 5,10,20 dollar."
Rupanya bagi teman di Australia "Hidup Bukan cuma Sekedar Mampir Minum," tapi juga permainan nasib. Perth adalah kotanya dengan beberapa nama orang kaya kelas dunia. Dan belum saya lihat pengemis atau pengamen satupun berkeliaran. Dengan menjamurnya permain loterei maka pendapat saya harus diubah. Judi adalah milik bangsa siapa saja
dengan derajat tertentu. Di Perth saya saksikan orang antri panjang membeli "Sembako" yang mereka namakan Lotere.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com