Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 01, 2006

Gerhana atau Gegana

Date: Sat Apr 24, 1999 6:40 am

Jumat sore 23 April 1999 acara di TV memperlihatkan , ada penilpun gelap mengancam akan meledakkan Rumah Sakit di Jakarta. Diperlihatkan bagaimana pasukan Gegana dari Brimob datang selama 4 jam menyisir lokasi yang dicurigai adanya bom.
Karena tidak ketemu, maka ada yang nyeletuk ;"mustinya yang dipanggil adalah Gerhana", itu lho Serial TV tentang kemampuan metafisika seseorang sehingga mampu menggerakkan benda dengan fikirannya.
Padahal dengan hitungan waktu yang tidak banyak berbeda kejadian yang sama saya alami sendiri di Kuningan. Cuma yang ini tidak diliput TV sehingga saya harus meliputnya sendiri. Juga yang datang bukan pasukan Gegana, tetapi dua orang barada polri dari URC. Kedua pasukan URC ini tampak mengatur lalu lintas sehingga terlintas dalam fikiran saya bahwa mungkin kalau lalu lintas lancar, bom ikut keluar gedung bersama mobil-mobil.
Di halaman Wisma Kodel, nampak pemandangan yang luar biasa, penghuninya bertemperasan keluar, bahkan masuk liftpun harus berdesakan dengan karyawan yang ingin turun.
"Wah hebat, baru jam 15 kurang sedikit, kok sudah boleh pulang. Ada acara apa nih rupanya ?" tanya saya dalam hati.

Saya baru "ngeh" ketika sampai di lantai 10, seorang Janitor (petugas kebersihan) mengatakan bahwa ada bom di lantai 11, akan diledakkan
bertepatan jam 15.15. Si penilpun mengaku namanya A-peng. Untuk informasi di lantai 11 biasanya berkantor pak Fahmi Idris dkk.

Langsung tangan saya melihat arloji, "biyung", sekarang jam 15.00 WIB. Terbayang dilangit-langit tempat saya berdiri tergoleh seperangkat bom rakitan TNT, yang katanya hanya ABRI yang memilikinya untuk latihan. Terbayang juga saya bakalan jadi Rahmat Supena dan Amir Fatah, dua korban luka ringan akibat ledakan Istiqlal.

Berbeda suasana di lobby, maka suasana di lantai 10 kelihatan aman terkendali, suasanya perusahaan yang saya datangi sama sekali tidak mengetahu adanya ancaman bom, padahal, karyawan kamar lain sudah lintang pukang keluar. Bahkan oleh sekretaris, saya dipersilahkan masuk ke kamar bossnya.

Ketemu dengan orang yang saya tuju, saya berbicara sambil tidak konsentrasi sebab terfokus kepada ilmu mengira-ira dimana bom di langit-langit ini diletakkan ?, rasanya saya sudah melayang. Kaki tidak injak itu tanah, kata orang Timor. Jam menunjukkan 15.10, kalau diiklan sih saya akan bilang, belum lima menit. Yang real life saya mbatin, waduh kok tinggal lima menit lagi.

Akhirnya pembicaraan saya sudahi dan pelan-pelan saya katakan bahwa, di luar ruang ini orang sudah lintang pukang cari selamat. Untuk kelihatan sopan, saya tanya Bapak jam 16.00 katanya akan ke luar kota ? yang kebetulan di iyakan oleh beliau.

Ketika saya keluar ruangan, baru, suasana kantor berubah piknik dan panik. Sayapun sedikit gembira karena bisa enyampaikan informasi yang tidak menggembirakan.

Tapi, boss perusahaan ini rupanya punya "simpanan" juga. Dia pejam mata sebentar, mungkin mengaktipkan simpul-simpul tenaga prananya. Dicobanya menangkap gelombang yang aneh sambil menngerakkan tangannya kekiri kekanan. "Ah nggak ada getaran apa-apa" katanya membesarkan hati kami. Terus terang saya agak skeptis dengan "permainan" begini, tetapi kali ini dia bisa mengembalikan ketenangan saya. "Kur semangat, Kur semangat", saya baca mantra yang saya sadap dari buku pelajaran kelas IV SD berjudul BAHASAKU karangan WJS Purwadarminta dan BM Nur. Pernah disitu diceritakan, ada suara petir menggelegar sehingga seorang anak menjadi ketakutan. Siibu mendekap anaknya sambil berkata : "kur, semangat"

"Pak Iwan kalau bomnya meledak, jangankan getaran halus, bangunan inipun
bisa bergetar bahkan beterbangan", komentar saya melihat sikap tenangnya. Jam 15.20 saya berhasil keluar gedung Wisma Kodel. Memang tidak terjadi apa-apa. Bisa jadi pak Iwan betul daya deteksi getarannya.

Yang jelas kaki saya bergetar, jantung saya bergetar. Rasa-rasanya saya barusan main filem Die Hard. Cuma, perannya kebagian yang cilaka. Langsung saya wara-wara kekantor, ke teman dekat. Seorang teman curiga, kalau memang baru mengalami ancaman bom, mengapa suara saya di tilpun tetap parau, nyempreng dan tidak ada tanda-tanda bergetar. Wah, rupanya sering nonton sinetron juga, jadi kalau orang takut harus suaranya gagap, cincing jarik, tangan menunjuk kesana kesini sambil mbenake konde gitu ?.

Untuk lebih mendramatisir suasana, saya tilpun isteri di rumah. Tentu dia jadi panik, dia tanya saya ada dimana. "Saya ada di lantai 10, sedangkan bomnya katanya di lantai 11"

"Lho kok nggak segera lari menyelamatkan diri" sergahnya lagi. "aya mau tanya sama kamu, kalau saya melarikan diri boleh nggak ?"

"Orang panik kok diajak bercanda", katanya lagi.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com