Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Gara-gara si Gantang, datang detektip dari Manca

Sudah semenjak seabad lalu kejahatan di Betawi masih merajalela. Orang di jalan takut dirampok, berfada di rumah takut disatroni rampok (juga). Para hamba wet dikabarkan telah menurunkan tim buru sergap untuk menyisir dan mengejar para perusuh, begal, kecu tersebut. Memang dilaporkan bahwa ada seorang penyamun (?) bernama Si Pitung berhasil ditembak mati oleh para hamba wet. Adapun perkara si Pitung ini, ada yang menyebut "satoe penjahat yang banyak tipoe dan akalnya."

Kelihatannya kejahatan memang tidak pernah berhenti. Sebab kini muncul pendatang baru Si Gantang yang memang ganteng. Dikatakan penyamun dengan satoe lelaki dengan roepa cakap, kulit putih ada cambangnya dan juga satoe penjahat yang banyak tipoe dan akalnya juga" pasalnya ia sering datang malam-malam ke kawasan Meester Cornelis, Buitenzorg bahkan Betawi tanpa seorang hamba wet ataupun detektip yang tahu. Koran dulu mengatakan team anti kejahatan ini sebagai detektip, yang tugasnya memang mendeteksi dan menangkap penjahat. Beda dengan istilah sekarang "reserse" atawa "intel" yang berakhir dengan saling akal-akalan.

Seorang detektip yang kesohor adalah "schout" Hinne dengan pasukannya juga diturunkan untuk memburu si Gantang. Hinne jadi naik daun lantaran berhasil menembak mati si Pitung.

Perampok lain adalah si Kesen yang juga belum berhasil ditangkap padahal iming-iming hadiah sudah diumumkan. Belum lagi kisah perampokan di rumah kediaman van der Capellen.

Pendeknya kinerja polisi waktu itu dianggap rendah sekalipun umumnya mereka memelihara cambang dan kumis yang lebat agar kelihatan garang. Polisi dikatakan hanya bersembunyi dibalik pohon untuk menangkap pelanggar lalu lintas, dan kebanyakan ngacir bilamana terjadi kemacetan lalu lintas.

Dan peluang ini dimanfaatkan oleh para detektif partikelir yang datang dari luar negeri. Mereka memasang iklan di surat kabar yang intinya mampu menyelesaikan masalah kejahatan. Salah satunya adalah koran berbahasa Belanda "Bataviasche Niewswblaad," detektip yang mengaku sudah berpengalaman di Eropa ini tidak menyebut namanya tetapi siap berkerja sama dengan polisi.

"Siapa yang suka, bole bicara ditempat saya menumpang Nyonya Varkevisser di jalan Pecenongan"

Tentu saja kedatangan mereka ini mendapat sorotan tajam dari beberapa pihak, Koran Bintang Betawi misalnya pada 14 Mei 1903 menulis bahwa mereka tiada mengerti dengan jalan pikiran itu detektif. Mungkin cara kerjanya sama dengan di Eropa "tetapi dianya tiada mempunyai tipoe dan akal sebagaimana hamba wet disini."

Atau Bintang Betawi menyarankan "baik itu residen kasi pekerjaan pada itu detektip dalam afdeeling Meester Cornelis, kasi ia tempo selama 6 bulan untuk menangkap si Gantang"

Dari beberapa arsip iklan seratus tahun lalu, ternyata Betawi memang surga kaum pendatang dari Eropa, tercatat tentara bayaran, juru masak, dokter gigi, dukun beranak, bahkan tidak jarang wanita asing datang dan menetap di Betawi sebagian dikawini oleh penggede Kumpeni, yang nasibnya lain mengambil "jalan hina", jualan kue apem bantat. Sebutan untuk penjaja daging cinta selebar 1% dari tubuh manusia.

Nampaknya serusuh-rusuhnya negeri, Bintang Betawi masih belum melihat manfaatnya mengundang orang asing datang ke Betawi yang waktu itu kesohor sebagai Ratu-nya kota yang ada di Timur. Soalnya dimana-mana kalau mengundang orang asing, buntut-buntutnya tuan rumah yang rugi.

10 Jun 2003

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com