March 13, 2006

Gang Torong dan Rel Anjlok

Date: Mon Dec 22, 2003 9:19 am 12655

Anam (enam) Juli 1903 courant Pembrita Betawi melaporkan kecelakaan lalu lintas di gang Torong, kawasan Glodok antara Dos-A-Dos (sado) dengan gerobag (pedati) pengangkut barang. Sekalipun tidak membawa korban jiwa tetapi seorang penumpang Sado harus dibawa ke Stadsverband (rumah sakit pribumi) untuk mendapatkan perawatan seperlunya.

Gang Torong atau toren atau menara kerapkali masuk dalam berita kecelakaan lalu lintas. Ketika eksekusi hukum gantung kepada dua pesakitan Timin dan Piun awal Mei 1903, di halaman Stadhuis (kini Museum Fatahilah). Pasalnya lokomotip yang membawa gerbong sarat penonton dari Udik (Selatan) untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman gantung keluar dari rel. Sehingga ketika mereka sampai di Stadhuis, pelaksanaan hukuman sudah selesai. Padahal rel tersebut tergolong belum lama di pasang. Jaman Kumpeni pelaksanaan hukuman mati dilakukan di halaman Stadhuis (fatahilah) dan disaksikan halayak ramai persis tontotan "kmidi puter", tidak ketinggalan pedagang "rambut nenek", camcao, memeriahkan perhelatan sadis tersebut.

Seratus tahun kemudian, lokomotip yang keluar rel akibat rel anjlok sering dituduh "soalnya peninggalan Belanda sih, jadi sudah tua". Lagian kalau penjelasan sudang "ngeles" dengan kata kunci "peninggalan Belanda," maka seperti mendapatkan legitimasi.

Awal abad 18, seorang pendeta bernama Mohr tinggal disebuah gedung yang tinggi dengan menara menjulang. Dalam lukisan J Rach digambarkan bentuk atap seperti kubah menjulang tinggi diantara bangunan yang didominasi arsitektur Cina. Pemandangan ini menjadi unik dan karena tingginya bangunan maka timbul pertanyaan pasti ini bukan gedung biasa.

Ternyata gedung ini berfungsi sebagai planetarium, karena salah satu keahlian pendeta Mohr adalah mengamati perjalanan bintang. Sebuah pengetahuan langka yang masa itu dianggap "budi pekerti yang bole dimiliki (hanya) orang terpilih.."

Mohr yang Jerman ini lahir pada 1716 dengan nama lengkap Johan Philip Mohr beristrikan Catharina Barbara Hoseman. Tahun 1733 ia ke Betawi dan mendapatkan tugas mengelola seminari agama dan mendidik pendeta lokal. Gang tempat kediaman Mohr dikenal sebagai Torenlaan. Namun lidah Betawi lebih suka menyebutnya gang Torong. Tahun 1808 gedung Torong dibongkar dan yang bersisa hanyalah nama Gang Torong. Yang masih menimbulkan pertanyaan mengapa orang Jawa terutama mengatakan Corong (funnel) sebagai torong. (embees)

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com