Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 13, 2006

Gang Teratai Tempo Doeloe

Date: Fri Jan 9, 2004 11:02 am

Dalam courant Pembrita Betawi 22 September 2003 diwartakan seorang perempuan tua penduduk gang terate yang sumurnya sudah mengering karena kemarau panjang, pergi ke Kali Angke untuk mengambil air sungai. Malang ia terjatuh dan kepalanya terbentur batu sehingga membawa kematiannya.

DIMANA GANG TERATE ITU?

Dari beberapa nama gang yang sudah hilang dari peta, maka Gang Terate termasuk nama gang yang masih bisa dijumpai sampai saat ini. Beberapa tahun lalu nama Mama Terate cukup ngetop bukan lantaran nimba air, melainkan ramalannya pada awal tahun 1997 yang mengatakan bahwa hidup akan tambah susah, cari makan tidak menentu sementara para elit pada cakar-cakaran. Cuma 2004 ini kok nenek Lauren saja yang saya baca
ramalannya.

Sekarang gang ini merupakan lokasi padat penduduk ini terletak di kampung Jembatan Lima, distrik penjaringan, terletak di selatan Pekojan. [Lihat peta terlampir]. Gang Terate mendapat nama dari tanaman teratai yang banyak tumbuh liar di kawasan itu.

Teratai atau "Nelumbo nucifera" berasal dari Asia Timur. Tidak heran permukiman orang Tionghwa banyak dihiasi oleh bunga yang indah dan berdaun lebar. Biji dan akarnya bisa dimakan, sebagian percaya sebagai obat kanker. Tetapi bagi orang Betawi, teratai menarik lantaran daunnya bisa dijadikan bungkus. Dan ini menarik perhatian para Kumpeni, bukan untuk membudidayakan melainkan menarik cukai atas
penjualan daun teratai.

Dalam Staatsblad tahun 1829 nomor 111. Daun teratai digolongkan sebagai juenis pembungkus bersama daun jati dan waru. Karena itu teratai dikenai cukai sebesar 1 sen per pikulnya. Jaman kertas masih langka apalagi tas plastik kresek warna hitam yang baunya cukup menyengat itu belum ditemukan, maka daun jati dipakai untuk bungkus keperluan dapur seperti cabe dan garam. Daun waru untuk membungkus makanan seperti tape ketan, tape beras. Sedangkan daun terate dipakai untuk membungkus yang lebih besar, ikan basah, misalnya.

Ada lagi sejenis Teratai yang dinamakan Seroja sampai ada lagunya "Menanti di bawah pohon Seroja eh salah Kemboja." - dan jangan lupa diakuisinya Timor Leste kedalam NKRI dilakukan dengan sandi operasi Seroja. Maksudnya mungkin seperti iklan TV oleh Harry Mukti "booongkus!!!"

Aneh binti ajaib daun pisang tidak termasuk sebagai daun yang kena pajak. Agaknya sosialisasi daun pisang saat itu belum meluas sehingga gubernemen merasa belum perlu mengenakan cukai. Padahal daun pisang tidak lepas dari kehidupan orang Jawa mulai membuat lemper, dijadikan pincuk (piring daun pisang) bagi pedagang nasi yang ngampung (keliling kampung).

Memasuki abad ke 20, teratai mulai ditinggalkan orang. Akibat kumpeni mulai menguruk kanal-kanal, rawa-rawa dikeringkan untuk dijadikan perumahan dan nama Gang Trate-pun tinggal nama tanpa teratai. Kecuali seorang peramal bernama Mama Terate yang entah kemana sekarang.

"Every task has unpleasant side... But you must focus on the end result you are
producing."

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com